HOME WEBTORIAL PROVINSI SUMATERA BARAT

  • Selasa, 30 April 2019
Memaksimalkan Berkah Geowisata
Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat

Padang (Minangsatu) – Tidak salah jika Sumatera Barat (Sumbar) memprioritaskan pembangunan kepariwisataan. Sebab, dengan panorama alam yang cantik dan objek wisata lainnya yang lengkap, maka tugas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemko) tinggal lagi bagaimana mengelola “paket lengkap” itu sehingga mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat. 

Ya, paket lengkap! Lihatlah, Sumbar yang terletak di pesisir barat bagian tengah pulau Sumatera itu, dengan dataran rendah di sepanjang pesisir, dan dataran tinggi vulkanik pada jajaran Bukit Barisan, dengan laut serta belasan danau dan ratusan sungai , juga bentang alam dengan hutan-hutan yang menyimpan keanekaragaman hayati, tak pelak, Ranah Minang memang sorga buat pelancongan. 

Berkah kebumian, di mana Sumbar mempunyai kekayaan geologi (kebumian) yang beragam, menambah alternatif objek wisata di Ranah Minang. Selain danau-danau yang terbentuk oleh peristiwa geologi, terdapat sejumlah gunung api, yang tersebar di seantero kabupaten/kota di Sumbar. Ada Gunung Kerinci di Solok Selatan (sebagian masuk kawasan Provinsi Jambi), Gunung Talang di Kabupaten Solok, serta triarga (tiga gunung) yang sudah sangat terkenal; Merapi, Singgalang dan Tandikek. 

Maka, pengembangan geowisata menjadi sebuah keniscayaan. Ya, geowisata! Yaitu pariwisata yang memanfaatkan seluruh aspek geologi dengan ruang lingkup bentang alam, batuan, mineral, fosil, dan proses geologi (termasuk sejarah kebumian). 

Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian, dalam buku Geowisata Sumatera Barat mengatakan destinasi geowisata dapat berupa bebatuan, gunung berapi, danau, sumber air panas, sungai, dll. “Saat ini teridentifikasi sepuluh kawasan geopark, atau taman bumi di Sumbar,” ujar Oni Yulfian. 

Sepuluh geopark itu adalah Ngarai Sianok, Danau Maninjau, Kars Tarusan Kamang, Lembah Harau, Danau Singkarak, Bekas Tambang Sawahlunto, Danau Kembar, Solok Selatan, Silokek, dan Mentawai. “Tiga diantaranya sudah ditetapkan menjadi Geopark Nasional, yakni Geopark Sawahlunto, Geopark Silokek Sijunjung dan Geopark Ngarai Sianok-Maninjau,” tutur Oni Yulfian. 

Berbeda dengan jenis pariwisata lainnya, geowisata merupakan pariwisata berkelanjutan dan bersifat konservasi berkaitan dengan jenis-jenis sumber daya alam suatu wilayah dalam rangka mengembangkan wawasan dan pemahaman proses fenomena yang terjadi di alam. 

Kenampakan geologi pada permukaan bumi berbeda-beda dengan ciri khasnya masing-masing. Rangkaian bentang alam yang indah dan unik terbentuk dari proses geologi yang menghasilkan bentukan seperti gunungapi aktif, perbukitan, danau tektonik, danau vulkanik, pantai, batuan karang, bentuk tekstrur dan struktur batuan yang beragam-ragam, dan gua-gua kars dengan ornamen kalsit berupa stalagtit dan stalagmit, adalah objek geowisata yang terhampar di senatero kabupaten/kota di Sumbar. 

Objek-objek tersebut bisa dimaksimalkan, tidak hanya sekedar untuk dilihat saja (geo-sightseeing), tetapi juga dapat menjadi aktivitas wisata yang dipandu oleh ahli untuk menceritakan kejadian terbentuknya objek tersebut (geo-interpretation). Bisa pula sebagai arena untuk olahraga (geo-sport), melakukan program konservasi terhadap potensi kebumian dalam edukasi dan pelestarian (geo-conservation), dan menciptakan volunteer (relawan) untuk mendalami kebumian dan memberdayakan masyarakat untuk turut aktif merawat dan memaksimalkan hasil untuk peningkatan kesejahteraan mereka (geo-volunteer). 

Aktivitas pelancongan geowisata ini sejalan pula dengan manfaat yang bisa diperoleh. Selain menyejahterakan masyarakat di sekitar destinasi dan terbukanya lapangan pekerjaan, pengembangan geowisata ini juga dapat mendorong masyarakat lokal untuk memelihara dan mengembangkan objek tersebut. 

Mamfaat lainnya adalah mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan berbasis kearifan lokal, mendorong pengunjung untuk menghargai objek geowisata, dan memberikan kesan dan pengalaman khusus yang berbeda dibandingkan dengan kegiatan pelancongan lainnya. 

Kendati kekayaan kebumian (geologi) di Sumbar juga membuat Ranah Minang rawan bencana lantaran berada pada jalur Sesar Besar Sumatera (The Great Sumatera Fault) dan Megathrust yang tepat di antara pertemuan dua lempeng benua yang besar (lempeng Eurasia dan Indo-Australia), namun keunikan rupa kebumiannya adalah berkah yang harus dimaksimalkan. 

Maka, sesuai yang diarahkan Dinas Pariwisata Sumbar, kawasan-kawasan yang telah mendapat status sebagai Geopark Nasional harus melakukan langkah-langkah dan upaya untuk penataan kawasan geoparknya termasuk pemberdayaan masyarakatnya. Jika kawasan yang sudah mendapatkan status Geopark Nasional tidak menindaklanjuti dengan pelaksanaan program dan kegiatan yang menunjang kawasan geopark itu sendiri, maka status geopark bisa saja dicabut. Oleh karena itu perlu terus dilakukan pendampingan Pemerintah Provinsi kepada masing-masing. 

Untuk tahun 2019 beberapa kawasan geopark lainnya yang berpotensi sebagai warisan geologi juga akan diusulkan sebagai Geopark Nasional.  Dan tahun ini  juga akan disusun langkah dan strategi pengusulan Geopark Ranah Minang sebagai Unesco Global Geopark (UGG) sehingga Kawasan Geopark Ranah Minang akan dikenal sebagai salah satu kawasan geowisata di dunia. 

Memang tidak bisa serta merta. Tetapi sepanjang yang sudah direncanakan, upaya memaksimalkan berkah geowisata akan menjadi langkah-langkah nyata buat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
 


Wartawan : boing
Editor : boing

Tag :Geopark