HOME VIRAL UNIK

  • Jumat, 27 Februari 2026

Menyingkap Tradisi Batagak Pangulu Dan Syaratnya Di Minangkabau

Penulis: Ari Yuliasril
Penulis: Ari Yuliasril

Menyingkap Tradisi Batagak Pangulu dan Syaratnya di Minangkabau

Oleh: Ari Yuliasril


Di balai adat Nagari Tungka, Limapuluh Kota, beberapa minggu lalu, sekelompok ninik mamak dan kemenakan berkumpul serius membahas nama yang akan diresmikan sebagai penghulu baru mereka. Tradisi Batagak Pangulu dan syaratnya memang masih berjalan di sejumlah nagari di Sumatera Barat, terutama ketika sebuah suku membutuhkan figur pemimpin adat yang diakui oleh kaum.

Prosesi Batagak Pangulu sendiri bukan acara sembarangan pesta biasa. Ini adalah upacara adat untuk mengangkat atau mengukuhkan seseorang sebagai penghulu, tokoh yang memimpin urusan adat di suatu suku atau kaum. Prosesi ini bisa berlangsung beberapa hari dengan berbagai rangkaian kegiatan budaya, termasuk baralek basamo dan pertunjukan seni tradisional seperti randai dan pencak silat.

Prosesi yang Melewati Musyawarah Kaum

Pada dasarnya, tradisi Batagak Pangulu dimulai jauh sebelum upacara adat digelar di balai adat atau rumah gadang. Musyawarah keluarga dan kemenakan menjadi tahap awal pemilihan calon penghulu. Setelah itu, musyawarah suku atau kaum diadakan untuk mencapai mufakat siapa yang layak diangkat. Karena itu, acara Batagak Pangulu bukan sekadar formalitas, tetapi perjalanan panjang yang melibatkan aspirasi banyak pihak.

Dalam prosesi adat, calon penghulu akan diserahkan gelarnya dalam sebuah acara yang melibatkan masyarakat luas. Gelar itu kemudian dipasang secara adat, kadang disertai simbol-simbol seperti keris dan gelar pusaka, menjadi tanda bahwa yang bersangkutan kini telah diakui sebagai pemimpin adat.

Syarat Menjadi Seorang Penghulu

Satu hal yang sering dibahas dalam tradisi Batagak Pangulu adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi calon pangulu. Dalam tradisi Minangkabau, figur yang akan diangkat tidak boleh sembarangan. Ia harus dipandang layak oleh kaum, baik secara moral maupun kemampuan memimpin. Dalam catatan budaya, muncul istilah sifaik nan ompek, empat sifat yang ideal dimiliki calon penghulu yaitu: tabligh (mampu menyampaikan adat dan ajaran), fathonah (cerdas dan cepat tanggap), siddiq (jujur), serta amanah (dapat dipercaya).

Selain sifat-sifat itu, figur yang dipilih juga harus laki-laki dewasa yang telah baligh, berasal dari keluarga yang dihormati, dan dipandang layak oleh kaum. Tidak semua pria yang berminat bisa langsung diajukan, prosesnya melibatkan pertimbangan adat dan dukungan masyarakat, sehingga calon penghulu yang keluar dari proses ini umumnya telah melalui sejumlah musyawarah panjang.

Tradisi yang Tetap Hidup

Walau zaman terus berubah dan banyak pola sosial ikut beradaptasi, tradisi Batagak Pangulu masih hidup di berbagai nagari di Minangkabau. Upacara ini bukan sekadar seremonial pengukuhan, tetapi menjadi momen kolektif di mana kaum berkumpul, meneguhkan struktur adat, serta mengingat kembali nilai-nilai musyawarah dan penghormatan kepada kepemimpinan adat.

Bagi banyak warga, terutama perantau yang pulang kampung, melihat Batagak Pangulu bukan hanya soal menyaksikan prosesi adat, tetapi juga merasakan kembali ikatan sosial yang membuat struktur adat Minangkabau tetap hidup dan relevan di tengah dinamika modern.


Wartawan : Ari Yuliasril
Editor : melatisan

Tag :Menyingkap Tradisi, Batagak Pangulu, Syaratnya, Minangkabau

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com