HOME OLAHRAGA KOTA SAWAHLUNTO

  • Selasa, 3 Maret 2026

Dilema Tuan Rumah Porprov XVI, Sawahlunto Pilih Opsi Efisiensi Anggaran Dan Dampak UMKM

  Wali Kota Riyanda Putra bersama Ketua Umum KONI Sawahlunto, H. Jhon Reflita, membahas skema pendanaan dan kesiapan sarana prasarana untuk penyelenggaraan cabang olahraga Porprov Sumbar 2026. (foto/yudha ahada)
Wali Kota Riyanda Putra bersama Ketua Umum KONI Sawahlunto, H. Jhon Reflita, membahas skema pendanaan dan kesiapan sarana prasarana untuk penyelenggaraan cabang olahraga Porprov Sumbar 2026. (foto/yudha ahada)

Dilema Tuan Rumah Porprov XVI, Sawahlunto Pilih Opsi Efisiensi Anggaran dan Dampak UMKM

Sawahlunto, (Minangsatu )
Teka-teki kesiapan Kota Sawahlunto sebagai salah satu calon tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat kini memasuki babak krusial. Dalam suasana penuh pertimbangan strategis, Ketua Umum KONI Sawahlunto, H. Jhon Reflita, melakukan koordinasi intensif dengan Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, di Rumah Dinas Wali Kota pada Selasa, 3 Maret 2026.

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membedah beban anggaran dan kesiapan teknis menjelang perhelatan olahraga terbesar di Sumatera Barat yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Oktober 2026 mendatang.

?Dinamika pengajuan tuan rumah ini mengalami pergeseran signifikan seiring munculnya ketentuan baru yang memberikan tanggung jawab finansial tambahan kepada daerah penyelenggara. Jhon Reflita memaparkan bahwa antusiasme awal Sawahlunto untuk menjadi tuan rumah bagi belasan cabang olahraga (cabor) kini terbentur pada rincian operasional yang cukup berat.

Menurutnya, terdapat pos-pos anggaran vital yang kini dititiktumpukan kepada tuan rumah, mulai dari penginapan bagi wasit dan juri, transportasi lokal, layanan kesehatan, keamanan, hingga biaya honorarium bagi panitia lokal.

?"Pengajuan Sawahlunto sebagai tuan rumah saat ini menemui kendala karena adanya dana tambahan yang dititikberatkan kepada tuan rumah. Hal ini mencakup operasional harian yang sangat detail seperti kebersihan, jamuan tamu pimpinan, hingga seremoni pembukaan dan penutupan di tingkat cabang olahraga," ujar Jhon Reflita dalam audiensinya.

Ia menambahkan bahwa sebelumnya terdapat informasi mengenai dana penyelenggaraan sebesar 200 juta rupiah per cabor yang dibagi untuk sarana prasarana dan pelaksanaan, namun ketentuan tambahan yang muncul belakangan ini memaksa daerah untuk mengalkulasi ulang kemampuan fiskal mereka.

?Merespons paparan tersebut, Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, menegaskan bahwa pemerintah daerah harus bersikap realistis namun tetap mendukung kemajuan olahraga. Ia menyadari bahwa kondisi fiskal daerah saat ini masih dalam keadaan terbatas, sehingga setiap sen anggaran harus dipertanggungjawabkan efektivitasnya.

Wali Kota menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan keseimbangan antara prestasi atlet dan kemampuan keuangan daerah agar tidak terjadi defisit yang mengganggu program pembangunan lainnya.

?"Saat ini kita masih menunggu kepastian anggaran dari KONI Sumatera Barat dan pengprov masing-masing cabor bagi daerah yang mengajukan diri. Kami perlu kejelasan mengenai skema pendanaan bersama atau dana sharing dari Pemerintah Provinsi," tegas Riyanda Putra.

Beliau memberikan pandangan bahwa jika beban finansial sepenuhnya dibebankan ke daerah, maka Sawahlunto akan mengambil langkah yang lebih efisien. Opsi pertama adalah bersedia menjadi tuan rumah dengan catatan adanya dukungan dana dari provinsi, namun jika opsi itu buntu, Sawahlunto hanya akan mengambil satu atau dua cabor strategis yang fasilitasnya sudah mumpuni.

?Salah satu usulan menarik yang muncul dalam pertemuan tersebut adalah fokus pada cabang olahraga yang memiliki dampak ekonomi nyata bagi masyarakat, seperti balap motor atau road race. KONI Sawahlunto menilai bahwa anggaran yang ada akan jauh lebih efektif jika dioptimalkan untuk pembinaan atlet demi meraih prestasi maksimal, ketimbang habis untuk membiayai operasional teknis sebagai tuan rumah dalam skala besar.

Jika tetap harus menjadi penyelenggara, pemilihan cabor seperti road race dianggap mampu memberikan multiplier effect bagi para pelaku UMKM dan sektor pariwisata di Kota Tambang tersebut.

?Keputusan final mengenai keterlibatan Sawahlunto sebagai tuan rumah Porprov XVI memang belum diketok palu karena masih menunggu hasil rapat koordinasi lanjutan di tingkat provinsi. Namun, pertemuan di Rumah Dinas Wali Kota ini telah menyepakati komitmen bersama untuk melakukan kajian teknis dan fiskal yang lebih mendalam.

Langkah ini diambil agar partisipasi Sawahlunto dalam Porprov 2026 nanti benar-benar memberikan manfaat, baik dari sisi prestasi olahraga maupun peningkatan ekonomi warga, tanpa harus mengorbankan stabilitas anggaran daerah yang tengah terbatas.

 

 


Wartawan : Hendra Idris
Editor : melatisan

Tag :Dilema, Tuan Rumah, Porprov XVI, Sawahlunto , Efisiensi Anggaran, Dampak UMKM

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com