HOME ITECH NASIONAL

  • Sabtu, 7 Maret 2026

Bitcoin Tahan Guncangan Perang Iran–Israel, Sinyal Kuat Atau Sekadar Lonjakan Sementara?

Bitcoin Tahan Guncangan Perang Iran–Israel
Bitcoin Tahan Guncangan Perang Iran–Israel

Bitcoin Tahan Guncangan Perang Iran–Israel, Sinyal Kuat atau Sekadar Lonjakan Sementara?

Jakarta - Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah menunjukkan ketahanan yang tidak biasa di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran pasar, banyak analis memprediksi harga kripto akan jatuh tajam seperti yang sering terjadi dalam situasi krisis. Namun kenyataannya, Bitcoin justru bergerak relatif stabil dan bahkan sempat menguat.

Bitcoin dalam beberapa hari terakhir tetap bertahan di kisaran konsolidasi harga, bahkan sempat menembus batas atas rentang pergerakannya. Kondisi ini terjadi saat banyak aset berisiko lain justru mengalami tekanan cukup besar. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan baru di kalangan investor: apakah Bitcoin mulai kembali menjadi aset lindung nilai seperti emas digital, atau hanya mengalami lonjakan sementara.

Bitcoin Lebih Stabil Dibanding Aset Lain

Bitcoin menunjukkan performa yang berbeda dibandingkan dengan beberapa instrumen investasi populer lainnya selama periode konflik terbaru di Timur Tengah.

Dalam periode yang sama setelah eskalasi konflik, indeks saham utama Amerika Serikat S&P 500 tercatat turun sekitar 1,4 persen. Sementara itu, harga emas dan perak yang biasanya menjadi pilihan utama investor saat krisis justru melemah lebih dalam, masing-masing turun sekitar 5 persen dan 10 persen.

Performa ini cukup mengejutkan karena dalam beberapa tahun terakhir Bitcoin sering bergerak searah dengan saham teknologi. Ketika pasar saham melemah akibat ketidakpastian global, kripto biasanya ikut turun.

Namun kali ini pola tersebut tidak sepenuhnya terjadi.

Sejarah Menunjukkan Bitcoin Sensitif Terhadap Krisis

Bitcoin sebelumnya memiliki sejarah panjang mengalami tekanan saat terjadi gejolak global. Saat pandemi COVID-19 melanda dunia pada 2020, harga Bitcoin sempat anjlok hingga sekitar 50 persen sebelum akhirnya pulih kembali.

Reaksi serupa juga terlihat pada berbagai peristiwa geopolitik lain. Pada April 2024, ketika Iran melancarkan serangan terhadap Israel, Bitcoin sempat turun sekitar 8 persen dalam waktu singkat.

Awal tahun 2025 juga menjadi periode sulit bagi pasar kripto setelah pengumuman kebijakan tarif ekonomi yang memicu ketidakpastian global. Tekanan tersebut ikut memperdalam “musim dingin kripto” yang menghapus lebih dari setengah nilai beberapa aset digital utama.

Karena itu, ketahanan Bitcoin dalam konflik terbaru menjadi fenomena yang menarik perhatian para analis.

Kondisi Jenuh Jual Jadi Faktor Penting

Salah satu alasan utama mengapa Bitcoin tidak jatuh tajam kali ini adalah kondisi pasar yang sudah terlalu jenuh jual sebelumnya.

Dalam hampir lima bulan terakhir sebelum konflik meningkat, harga Bitcoin telah turun sekitar 50 persen. Penurunan ini dipicu oleh aksi distribusi besar dari investor jangka panjang yang mengambil keuntungan setelah periode kenaikan sebelumnya.

Data menunjukkan distribusi pemegang jangka panjang mencapai rata-rata 1,2 juta BTC dalam periode 30 hari. Selain itu, dana ETF kripto juga melepas sekitar 90.000 BTC ke pasar.

Situasi tersebut membuat sebagian besar investor yang sensitif terhadap risiko sudah lebih dulu mengurangi eksposur mereka terhadap Bitcoin. Akibatnya, saat ketegangan geopolitik meningkat, tekanan jual tambahan menjadi lebih terbatas.

Arus Dana ETF Menguatkan Harga

Faktor lain yang mendukung ketahanan Bitcoin adalah masuknya dana baru ke dalam ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.

Data menunjukkan bahwa antara 2 hingga 4 Maret, ETF Bitcoin menarik arus masuk dana sekitar 1,14 miliar dolar AS. Aliran modal ini membantu menjaga stabilitas harga di tengah sentimen global yang tidak menentu.

Beberapa analis juga melihat adanya perubahan persepsi investor terhadap Bitcoin. Aset ini kembali dipandang sebagai alternatif komoditas digital ketika emas dianggap sudah terlalu mahal setelah mengalami kenaikan panjang.

Isu Tekanan Harga oleh Perusahaan Trading

Di sisi lain, muncul juga spekulasi yang mengaitkan pergerakan Bitcoin dengan gugatan hukum terhadap perusahaan perdagangan frekuensi tinggi Jane Street.

Sebagian pelaku pasar menuduh perusahaan tersebut sebelumnya menekan harga Bitcoin melalui pola penjualan sistematis selama jam perdagangan Amerika Serikat. Langkah ini diduga bertujuan untuk melindungi posisi mereka di pasar ETF.

Walaupun banyak analis menilai teori tersebut masih belum terbukti kuat, sebagian investor melihat bahwa stabilitas harga Bitcoin setelah munculnya gugatan terhadap perusahaan tersebut memberikan sinyal menarik.

Risiko Penurunan Masih Mengintai

Meski menunjukkan ketahanan, sejumlah analis mengingatkan bahwa reli Bitcoin saat ini belum tentu menjadi awal tren kenaikan baru.

Pada 5 Maret, Bitcoin kembali turun sekitar 4 persen seiring melemahnya pasar saham global. Pada hari yang sama, ETF Bitcoin juga mencatat arus keluar dana sebesar 227,8 juta dolar AS.

Beberapa pakar menyebut kenaikan terbaru berpotensi hanya merupakan “dead cat bounce” atau pantulan sementara di tengah tren pasar bearish.

Ancaman Kebijakan Bank Sentral

Selain faktor geopolitik, Bitcoin juga masih menghadapi tekanan dari kebijakan moneter global, terutama dari bank sentral Amerika Serikat.

Kenaikan harga minyak akibat konflik berpotensi mendorong inflasi kembali meningkat. Jika inflasi naik, bank sentral kemungkinan akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut biasanya tidak menguntungkan bagi aset berisiko seperti kripto.

Data On-Chain Masih Lemah

Analisis data blockchain juga menunjukkan bahwa Bitcoin belum sepenuhnya keluar dari fase pasar bearish.

Indeks skor bullish yang digunakan oleh beberapa lembaga riset kripto saat ini masih berada di angka rendah. Hal tersebut menandakan bahwa fundamental pasar belum menunjukkan tanda pemulihan kuat.

Beberapa analis menilai kenaikan harga di atas 73.000 dolar kemungkinan hanya merupakan reli jangka pendek yang terjadi setelah tekanan jual besar sebelumnya.

Masa Depan Bitcoin Masih Belum Pasti

Ketahanan Bitcoin di tengah konflik geopolitik memang memberikan sinyal menarik bagi pasar kripto. Namun banyak faktor masih dapat mempengaruhi arah pergerakan harga dalam beberapa bulan ke depan.

Ketegangan global, kebijakan suku bunga, serta sentimen investor institusional masih menjadi penentu utama.

Untuk saat ini, reli Bitcoin lebih terlihat sebagai penyimpangan sementara dibandingkan tren kenaikan yang sudah terkonfirmasi. Narasi Bitcoin sebagai “emas digital” mungkin kembali muncul, tetapi pasar masih menunggu bukti yang lebih kuat sebelum menyatakan perubahan tren benar-benar terjadi.


Wartawan : ads
Editor : boing

Tag :Bitcoin, kripto, perang Iran Israel, harga Bitcoin, pasar kripto global, investasi digital, ETF Bitcoin, ekonomi global

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com