HOME OPINI OPINI

  • Senin, 7 Desember 2020
Wajah Kita di Pilkada
GamawanFauzi

Oleh Gamawan Fauzi

Tanggal 9 Desember besok, akan berlangsung Pilkada serentak untuk 270 daerah di Indonesia.
Baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten dan Kota.
Kini memasuki masa tenang setelah badai hiruk pikuk berlalu.
Para calon mungkin ada yang khusuk berzikir, ada yang masih melakukan operasi senyap, ada yang masih bisik bisik melalui pendekatan personal, yang tentu juga dibantu masing-masing tim sukses, relawan, simpatisan dan pendukung.
Mudah mudahan tak ada yang melakukan "serangan fajar", menebar uang.
Begitulah praktik pemilihan langsung, termasuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Pasangan calon (paslon) dapat menggunakan berbagai cara untuk meraup suara sebanyak-banyaknya.
Model pemilihan seperti ini oleh sebagian ulama dianggap tak cocok dengan ajaran Islam. Jabatan kok di minta minta, kata sejumlah ulama, sambil mengutip sebuah hadis, yang intinya bahwa orang yang meminta-minta jabatan, kelak akan menyesal di akhirat.
Tapi sistem Pemilu Indonesia saat ini menghendaki model seperti itu. Dan kita sepertinya bangga dengan apa yang ditiru dari Amerika atau Eropa, dan banyak negara maju lainnya soal berdemokrasi. Yakni Direct Democracy yang dianggap paling mewakili suara rakyat, sambil mengutip istilah Vox Populi, Vox Dei; suara rakat, adalah suara Tuhan.
Kredo Vox Populi, Vox Dei yang berasal dari bahasa latin itu, konon pertama kali dicetuskan oleh Alcuin, yang membuat surat kepada Maha Raja Charlemagne di penghujung abad 9. Kemudian dipopulerkan oleh Uskup Agung Walter Reynolds di abad ke 14, lalu dikutip dalam Traktat Partai Whig.
Itulah yang kemudian menjadi kutipan standar masyarakat dunia ketika membahas sistem demokrasi elektoral.
Paham yang mengagungkan Kredo Vox Populi, Vox Dei ini meyakini, bahwa siapa yang memperoleh suara mayoritas, maka dia memperoleh legitimasi spritual, karena semuanya terjadi atas kehendak Tuhan yang menggerakkan hati umat manusia.
Namun sebagian meragukan kebenaran pendapat itu, bahkan sebagian mencurigai bahwa ini adalah bentuk politisasi agama oleh kaum sekuler.
Mereka berdalih, bila suara terbanyak adalah suara Tuhan, maka Tuhan akan menjaga suara itu hingga sang pimpinan terpilih menjalankan kekuasaan-Nya.
Tapi ternyata pemimpin yang terpilih dengan suara terbanyak tak selalu menjadi pemimpin yang adil, yang menjalankan perintah perintah Tuhan dengan benar. Bahkan sebagian kemudian menjadi pemimpin yang zalim, bengis, menindas. Mereka merasa bertindak atas nama rakyat, atau demokrasi.
Meskipun tak dipungkiri bahwa ada pula terdapat pemimpin yang adil, yang amanah dan saleh, dari hasil pilihan mayoritas rakyat itu.
Untuk menguji kebenaran kredo itu, seyogyanya para ilmuwan perguruan tinggi melakukan penelitian untuk melihat bagaimana Kepala Daerah menjalankan kepercayaannya itu, sejak adanya pemilihan langsung di Indonesia, dimulai sejak tahun 2005 lalu.
Terlepas dari itu, dua hari lagi masyarakat pemilih di 270 propinsi, kabupaten dan kota, tak terkecuali beberapa daerah di Sumatera Barat, akan menentukan pilihannya.
Ada yang menganggap itu tak penting, dan tak datang ke TPS. Mereka berkesimpulan, toh siapapun yang dipilih, tak juga banyak mengubah kondisi hidupnya pribadi dan keluarganya. Tujuah kali sawah tagadai, nan koncek, tetap di pematang. Istilah milenial kini, gak ngaruh.
Tapi ada juga yang memilih dengan sikap pragmatis. Artinya, dapat uang 50 ribu atau 100 ribu dari tim sukses, itu saja yang dipilih. Kata orang Minang, nan jaleh sajolah dulu, kok isuak apo nan tajadi, tasarahlah. Untuak apo manunggu janji, toh banyak juo nan baduto.
Namun ada juga yang serius, sungguh-sungguh. Sampai tak tidur dia malam sebelum hari pencoblosan karena galau kalau calon unggulannya kalah. Pagi-pagi dia sudah mandi bersih-bersih, mengenakan baju baru yang paling keren, pakai sedikit wewangian. Melangkah dari rumah membaca Alfatihah yang dihadiahkan untuk pasangan calon idolanya, yaitu calon yang diyakini akan merubah tatanan kehidupannya pribadi, keluarganya dan masyarakat luas. Dia yakin se yakin-yakinnya dengan itu. Pendek kata, hanya dialah sosok yang akan mampu merubah segala sendi-sendi kehidupan masyarakat di daerahnya menjadi Baldathun Thayibathun, warabun ghafur. Hanya dia. Titik.
Di samping itu, ada juga yang bersikap biasa-biasa saja. Menurutnya, yang penting ikhtiar, memilih calon yang mudah-mudahan terpilih yang baik, setelah dia menelisik track record calon satu persatu.
Dia tau mana calon yang angkuh atau sombong, seperti mau dibeli saja semuanya, dia tau pula siapa calon yang rendah hati dan punya pengalaman yang cukup baik, dia juga kenal calon yang berprestasi, cerdas dan tak sombong dan punya rencana program baik dan masuk akal. Dia akan memilih diantara itu. Lalu bismillah dan nyoblos. Berharap pilihannya tak salah. Setelah dia pulang.
Saya tak termasuk mazhab yang mengagungkan pemilihan langsung. Banyak alasan saya tak menganut paham itu. Saya setuju dengan paham Demokrasi Pancasila, yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Tapi dengan catatan bahwa perwakilan itu adalah perwakilan yang amanah, yang takut dengan Allah. Bukan dengan manusia yang setiap diri punya pendapat dan pendapatnya itu punya dalil atau alasan pembenaran, walaupun bukan merujuk kepada nilai ilahiyah yang mempunyai nilai kebenaran mutlak.
Lalu seperti apa nanti hasil Pilkada Indonesia atau lebih khususnya Sumatera Barat? Yaitu negeri yang konon tempat orang orang cerdik pandai dan arif bijaksana dilahirkan? Kita tunggu setelah semua suara kelak di hitung.
Tapi menurut saya, wajah pemimpin terpilih dari direct democracy itu, adalah juga wajah orang dan masyarakat yang memilihnya. Apakah akan lamak dek santan dan kuniang dek kunyik, atau dari ketakahan dan ketokohannya selama ini yang dinilai memadai?
Namun apapunlah hasilnya, satu hal yang menurut saya, semuanya sudah tertulis di Lauh Mahfudz. Apakah itu pemimpin yang amanah atau zalim.
Izinkan saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip Al quran, surat Ali Imran ayat 26.

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Tag :#Opini#GamawanFauzi#Pilkada