HOME OPINI OPINI

  • Minggu, 16 Februari 2020
Semen Padang Membangun Indonesia Monumental
Irwan Setiawan

Semen Padang Membangun Indonesia Monumental

Oleh Irwan Setiawan, S.Pd

 

“Indonesia Kerja” adalah jargon yang diusung pemerintahan presiden Joko Widodo. Berbagai proyek pembangunan infrastruktur diupayakan demi percepatan pembangunan ekonomi dan gerak kemajuan bangsa. Infrastruktur teknis atau fisik dapat berupa jalan, kereta api, jembatan, air bersih, bandara, kanal, waduk, tanggul, pengolahan limbah, perlistrikan, telekomunikasi, pelabuhan. Infrastruktur dapat mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat, distribusi aliran produksi barang dan jasa.

Dibuatnya bangunan-bangunan dengan berbagai keperluan dan manfaat, selain atas dasar azas manfaat, bangunan yang didirikan itu pada prinsipnya juga menjadi perlambang sebuah kemajuan dengan nilai seni dan estetika sebagai wujud eksistensi bangsa. Bangunan megah juga menjadi icon sebuah negeri, wilayah, atau negara. Sehingga dalam setiap peroses pembangunan mega proyek haruslah memakai prinsip ini. Bangunan-bangunan monumental dalam artian bersifat menimbulkan kesan peringatan pada sesuatu yang agung memang telah menjadi hal utama dalam melihat eksistensi bangsa. Mesir beribu tahun yang lalu telah membangun piramida, Romawi membangun colosseum, China membangun tembok besar, tak lupa di India kita melihat keindahan Taj Mahal dan di Indonesia kita mengenal Borobudur. Dengan bangunan monumental itu mereka dikenal dunia.

Proyek pembangunan fisik berupa jembatan, gedung, jalan dan sebagainya akan mewajibkan kita dizaman ini untuk menggunakan semen. Semen telah menjadi struktur utama yang menjadi material pokok bangunan. PT Semen Padang merupakan produsen semen tertua di Indonesia yang telah berdiri sejak pada 18 Maret 1910 dengan nama NV Nederlandsch-Indische Portland Cement Maatschappij atau NIPCM. Kemudian pada tanggal 5 Juli 1958, perusahaan dinasionalisasi oleh pemerintah Republik Indonesia dari pemerintah Belanda. Selama periode ini, perusahaan mengalami proses kebangkitan kembali melalui rehabilitasi dan pengembangan kapasitas pabrik Indarung I menjadi 330.000 ton per-tahun. Selanjutnya pabrik melakukan transformasi pengembangan kapasitas pabrik dari teknologi proses basah menjadi proses kering dengan dibangunnya pabrik Indarung II, III, dan IV. Sekarang total kapasitas produksi PT Semen Padang telah mencapai 8.900.000 ton / tahun.

Semen Padang telah memberi banyak andil pada didirikannya berbagai bangunan monumental di Indonesia. Berikut penulis sajikan beberapa bangunan penting di negeri ini yang menggunakan semen produksi Sumatera Barat.
Jalan Kelok Sembilan, yang dibangun semasa pemerintahan Hindia-Belanda antara tahun 1908–1914. Jalan dengan tikungan yang tajam ini meliuk melintasi Bukit Barisan di daerah Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Untuk pengokoh jalan di bangunlah tembok pada bagian kiri dan kanan. Sebagai material utama demi peretak antara batu dan pasir dipakailah semen. Dari anasir yang ada, diyakini bahwa jalan ini telah memanfaatkan Semen Padang, karena pabrik inilah satu-satunya perusahaan semen yang ada di negeri ini pada zaman Hindia Belanda.

Di Jalan Kelok Sembilan, telah dibangun jembatan layang sepanjang 2,5 km. Jembatan ini menyusuri dua dinding bukit terjal dengan tinggi tiang-tiang beton bervariasi mencapai 58 meter. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Oktober 2013.

Kemegahan yang dimiliki oleh Jembatan Kelok Sembilan merupakan karya dari anak bangsa yang telah dinilai sebagai sebuah bangunan monumental yang menjadikan wilayah ini makin dikenal. Hal yang membanggakan dari Jembatan Kelok Sembilan yaitu semua kontruksi jembatannya, menggunakan 100 persen produk semen asli Indonesia, yaitu Semen PCC dari Semen Padang. 

Semen produksi Bukit Indarung juga memberi andil besar dalam pembangunan proyek monumental Monumen Nasional (Monas) dengan tinggi 132 meter. Pembangunan Monas dimulai 17 Agustus 1961 di bawah perintah Presiden Soekarno. Sebagai bangunan monumental icon kejayaan Indonesia. Soekarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama dan pemancangan fondasi rampung pada Maret 1962. Setelah proses pembangunan yang cukup panjang akhirnya Monas dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

Jembatan Semanggi adalah jembatan layang yang berada di persimpangan antara Jalan Sudirman dan Jalan Gatot Subroto. Jembatan ini dinamakan "Semanggi" karena bentuknya yang menyerupai daun semanggi dan juga wilayah pembangunannya dahulu merupakan daerah rawa yang dipenuhi semanggi. Proyek ini mulai dibangun pada tahun 1961, pada masa pemerintahan Soekarno dan masa jabatan Soetami sebagai Menteri Pekerjaan Umum. Khairul Jasmi, wartawan senior memaparkan dalam tulisannya bahwa dalam periode ini segala jenis pembangunan mega proyek di Indonesia memanfaatkan Semen Padang pada struktur bangunannya karena di tahun-tahun itu pabrik Semen Gersik masih dalam tahap pembangunan. 

Gedung MPR/DPR di Senayan juga merupakan bangunan monumental penting di negeri ini. Pembangunan gedung ini bertepatan dengan Perayaan Dasa Warsa Konferensi Asia-Afrika pada 19 April 1965. Pembangunan proyek political venues di Senayan Jakarta inipun telah memanfaatkan Semen Padang pada struktur bangunannya. 

Jembatan Ampera melintas Sungai Musi yang membelah Kota Palembang. Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut. Semen dari Padang juga memberi peran penting dalam proses pembangunan jembatan megah ini. Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara.

Jembatan Barelang bisa dikatakan sebagai mahakarya putra-putri Indonesia karena jembatan ini merupakan pilot project berteknologi tinggi. Untuk pembangunannya dilakukan oleh insinyur Indonesia tanpa keterlibatan dari tenaga ahli luar negeri. Jembatan yang berdiri dengan kokoh ini ternyata pembangunannya menggunakan semen asli produk Indonesia yakni Semen Padang. Semen Padang membutikkan bahwa kualitas dari semen ini dapat dipercaya dengan jaminan mutu dan kekuatannya.

Jembatan Barelang dibangun pada tahun 1992 dan selesai pada tahun 1998, pemrakarsanya adalah B.J. Habibie, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi. Jembatan Barelang adalah enam buah jembatan yang menghubungkan tiga pulau besar dan beberapa pulau kecil yang termasuk dalam provinsi Kepulauan Riau.

Masjid Raya Sumatera Barat menjadi satu kebanggaan bagi masyarakat Minang. Oleh karena itu, PT Semen Padang yang berada di Ranah Minang wajib ikut serta menyukseskan pembangunan Masjid Raya Sumbar ini. Penggunaan produk PT. Semen Padang yang digunakan sebagai bahan pembangunan merupakan pilihan yang tepat. Karena Semen Padang memang telah dipercaya sebagai produk yang tidak hanya dikenal karena superbrand yan dimilikinya,

Bisa kita bayangkan Indonesia tanpa PT Semen Padang, tentu tak akan ada bangunan-bangunan monumental yang telah menjadi karya besar dan icon negara ini. Semen Padang Membangun Indonesia Monumental.

 


Tag :#opiniirwansetiawan