HOME OPINI OPINI

  • Rabu, 10 Juni 2020

Pandemi Butuh Philanthropy?

Indelman
Indelman

Pandemi Butuh Philanthropy?

Oleh Indelman
(Mahasiswa Perencanaan Pembangunan Universitas Andalas)


Virus corona menjadi catatan sejarah dunia setelah terjadi diakhir tahun 2019 dan merebak pada awal tahun 2020. Tak hanya memakan korban jiwa, Covid-19 juga mengancam adanya krisis ekonomi global.

Bahkan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut wabah virus corona sebagai tantangan terberat sejak Perang Dunia II. Di Indonesia, jutaan orang terancam kehilangan pekerjaan mereka di tengah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi memutus rantai penyebaran virus corona. Pandemi covid-19 masih berlansung di Indonesia bahkan terdapat daerah-daerah yang termasuk dalam zona merah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur yang menjadi daerah zona merah memiliki angka posisitif covid terbesar di Indonesia.

Berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi pandemi covid-19 ini mulai dari himbauan dilarang aktivitas diluar atau work from home (kerja dari rumah), pembatasan sosial Berskala Besar sekarang sedang digaung-gaungkan New Normal atau tatanan baru. Pandemi covid-19 masih saja menjadi momok bagi perekonomian indonesia dan daerah sehingga diperlukan kebijakan-kebijakan dalam menghadapi dampak terburuk dari yang ditimbulkan oleh covid-19.

Pada masa diberlakukannya Pembatasan sosial skala besar sering kita lihat bermunculan lembaga-lembaga ataupun perorangan melakukan penggalangan dana serta kegiatan sosial demi membantu masyarakat yang terdampak covid-19 hal ini menggambarkan bahwa mereka merupakan orang-orang yang dermawan atau philanthropy,

Apa itu philantropy? Philanthropy adalah suatu sikap maupun rasa dan tindakan sukarela (volunteerism) secara keseluruhan atau disebut agenda-agenda sukarela atau gerakan sosial (social movement).

Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 200-juta jiwa akan menjadi potensi dalam proses philantrhopy, karena didukung oleh ketersediaan kerangka referensi umum berupa nilai-nilai, norma-norma, sikap, dan kepercayaan (agamis, suka menolong atau tolong menolong, ramah-tamah) yang sering diasumsikan melekat pada bangunan sosial di Indonesia. Tindakan sosial sukarela yang terlembaga itu tidak hanya potensial di dayagunakan untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan kemanusiaan yang sedang terjadi, tetapi juga membangun kemandirian dan otentitas identitas diri sebagai sebuah bangsa.

Apabila lembaga-lembaga perantara (intermediary institutions, fundraisers, trustees) berhasil mengembangkan cara-cara alternatif yang lebih aktual dan agenda-agenda sukarela berhasil dikembangkan secara terkoordinasi, dana sosial yang akan dihasilkan dari sumber-sumber domestik akan jauh dari memadai untuk menangani masalah-masalah sosial dan kemanusiaan yang terjadi di tanah air.

Di dunia terdapat philantrhopy terkenal seperti andrew carnegie yang menyumbangkan uangnya demi memerdekakan negara filipina, selain itu ada Warren Buffett, Bill Gate, George Soros, Michael Bloomberg, dan lain sebagainya. Di Indonesia memiliki para philantrhopy terkenal seperti Yayasan Hadji Kalla, Tanoto Foundation, Yayasan Adaro, CT Arsa, Eka Tjipta Foundation, Djarum Foundation. pada masa pandemi ini para philantrhopy telah melakukan aksinya dalam membantu sesama manusia baik itu melalui lembaga maupun aksi perorangan seperti yang dilakukan oleh Seorang pengusaha asal Purwokerto, Jawa Tengah Brili Agung Zaky Pradika menyediakan hotelnya untuk membantu tenaga kesehatan yang sedang merawat pasien-pasien virus corona, Aksi bagi-bagi nasi gratis juga dilakukan oleh deretan artis nasional, seperti Andhika Pratama, Darius Sinathrya, Raffi Ahmad, Ruben Onsu.

Kegiatan-kegiatan sosial dari orang-orang dermawan juga terjadi di Kabupaten Pasaman Barat seperti yang dilakukan oleh MRPB melalui Kolaboraksi Kemanusiaan Pasaman Barat dalam menghadapi Covid 19 yang menyalurkan menyalurkan beberapa bantuan kemanusiaan khususnya terkait memutus mata rantai penyebaran Covid 19 di beberapa titik terdampak ataupun bantuan-bantyuan yang disalurkan oleh relawan-relawan lainnya. Sikap kedermawanan ini lah yang akan dapat membantu masyarakat dalam mengahadapi segala cobaan seoperti masa pandemi covid-19 ini. Semakin banyak yang menjadi philantrhopi maka akan semakin banyak masyarakat yang akan terbantu. Jadi pandemi membutuhkan philanthopy.


Tag :#pandemi #philanthropy

Baca Juga Informasi Terbaru MinangSatu di Google News

Ingin Mendapatkan Update Berita Terkini, Ayu Bergabung di Channel Minangsatu.com