HOME OPINI OPINI

  • Sabtu, 20 April 2019
Indonesia Uji Kesabaran, Damai Menanti Hasil
YY Dt Radjo Bagindo

Indonesia Uji Kesabaran, Damai Menanti Hasil


ole Yulizal Yunus

Indonesia damai. Mestilah. Justru janji mesti diisi, “Indonesia turut serta dalam mewujudkan perdamaian dunia abadi”. “Karenanya bagaimana mungkin Indonesia sendiri tidak damai”?
Situasi sekarang Indonesia baru selesai (17 April) mencoblos memberikan suara dalam “Pemilu Serentak”, memilih caleg (Kab/kota, provinsi dan pusat) dan capres (Jokowi – Ma’ruf dan Probowo – Sandi). Pantas diberi apresiasi, penyelenggara pemilu - KPU, Polri dan TNI serta rakyat dalam pecoblosan mampu menciptakan rasa damai, meski relatif. Namun yang lebih penting, proses sesudahnya penghitungan suara, menentukan siapa yang meraih suara terbanyak (one man one vote ala demokrasi versi baru permusyawaratan perwakilan), sepertinya Indonesia sedang memasuki uji kesabaran. Damai, menunggu hasil “jurdil” (jujur dan adil). 

Dituntut damai, mulai berdamai dengan diri sendiri sampai berdamai dengan para pihak berkepentingan yang kadang mengancam rasa damai.” Bagaimana mesti damai dalam perbedaan”?, sebuah pertanyaan CNN dalam “wawacara seketika” dengan saya Kamis petang, 18 April 2019 di lobbi Kampus Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang. Saya ijabah, “justru Indonesia berbeda-beda (nusa, bangsa dan bahasa) tapi tetap satu. Artinya titik temunya “Indonesia”. Tidakkah satu di antara pilar kehidupan berbangsa dalam NKRI itu kita pahami: “bhinneka tunggal ika ?” berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kembalilah kepada keduanya.
“Damai dalam perbedaan itu indah. Namun yang penting dijaga, perbedaan itu menjadi perpecahan. “Saya kira, berlaku amanat agama, faashlihu bainahuma bil’adli, damaikan yang betikai dengan adil”. Juga amanat negara, bagian tanggung jawab semua komponen bangsa, mengantarkan proses terpilihnya anggota legislatif daerah dan di pusat serta presiden RI” secara jurdil.

Saya diwancarai CNN disebutnya dalam kapsitas budayawan akademik, ditanya; “Apa kiat menebar damai itu?" 

Saya jawab; “Dalam substansi konsep budaya yang universal, ada tiga hal, pertama senantiasa menegakkan kebenaran, kedua jujur dan ketiga adil." Benar, jujur dan adil itu segitiga sama sisi dan saling bersinergi. Asas pemilu serentak bukankah sudah menjanjikan jujur dan adil (jurdil). Jurdil sumbernya prilaku benar. Benar itu sumbernya Tuhan. Amanat Pancasila, Tuhan memayungi semua kepentingan: kemanusiaan, bersatu, kerakyatan dan adil. Betapa teo-humanis. Tuhan ya, manusia ya.

“Jujur dan adil itu, bersumber dari kebenaran. Benar dalam iman, benar dalam berakidah agama, benar dalam berideologi negara, benar dalam politik, benar dalam menghitung. Selasai. Yang belum selesai menanti jurdil bersumber “benar” itu. Kalau para pihak yang berkepentingan tidak damai, ini yang akan merusak “jurdil” dan merusak silaturrahmi”.

Bagaimana mempertahankan “silaturrahmi” ? tanya CNN. “Jangankan silaturrahmi, kapan perlu seperti silaturrahim (hubungan sekandung). Yang merasa menang dielu-elu, mesti menahan diri, tak ada wacana act melawan hukum, tak ada propokasi, tak ada presure (tekanan),  tak ada tayangan informasi berat sebelah. Sedang yang merasa kalah (dikalahkan), jangan patah hati, tetap tenang dan damai, periksa!, apa ada wacana act melawan hukum. “Minang mengajarkan manajemen konflik”. “Basilang kayu dalam tungku”. Sengketa dan konflik biasa, tidak haram, tetapi enerji. Tetapi setelah selesai nasi masak persilangan diluruskan lagi. Selesai pemilu persilangan jadi enerji damai.

Identitas Indonesia dalam budaya, ada rasa kekeluargaan. Pengalaman kearifan lokal Minangkabau, pernah lebih 150  kerajaan kecil dipayungi Kesultanan Minangkabau Darulqarar (Negeri yang Damai) di Pagaruyung, kekuatannya ada pada 4 kluster kerabat keluarga. Indonesia, identitas dan jati dirinya pada “kekeluargaan”. Kuatkan lagi. Kalau ada “rasa” (tekanan dan atau sanjungan) lihat betul, apa yang mengecewakan dan apa membahagiakan itu. Orang Minang mengamanatkan seimbang kan “raso – pareso” (rasa – periksa). Rasa di dada. Paereso di kepala. Seimbangkan kecerdasaan emosional dan kecerdasan intelegensi. “Raso” di bawa naik, “periksa” (rasio) dibawa turun, bertemua pada gelombang yang sama, melahirkan suara yang indah... dan Indonesia damai.


Tag :opiniYulizalYunus