HOME OPINI OPINI

  • Kamis, 28 Maret 2019
Dunia Burung dan Hoaks
Muhammad Nazri Janra

Dunia Burung dan Hoaks

Oleh Muhammad Nazri Janra

Konon, di tengah belantara tropis yang semakin hari semakin berkurang karena digerus oleh keserakahan manusia, makin banyak hewan liar yang hidupnya makin sulit. Celah tajuk hutan yang semakin terbuka karena banyak pohonnya yang ditebangi, semakin menambah khawatir para penghuni hutan karena keberadaan mereka semakin mudah dilihat oleh para pemangsa.

Seperti telah melakukan mufakat di antara sesamanya yang lemah, banyak burung-burung kecil yang kemudian berkumpul satu sama lain untuk bersama-sama saling menjaga. Terutama saat mereka mencari makan pada bagian belantara yang telah terbuka tadi. Saling menjaga dan mengawasi, kalau-kalau saat mereka tengah sibuk mencari makanan untuk kelangsungan hidup mereka, pemangsa datang tanpa terduga. Sebagai makhluk yang paling lemah dan berada pada posisi paling bawah di rantai makanan, mereka terkadang sering pasrah ketika pemangsa telah ada di depan mereka, ketika jalan melarikan diri telah tertutup.

Dan begitulah.

Sekian lama burung-burung yang berbeda jenis dan rupa ini sepertinya saling memahami satu sama lainnya, untuk saling bantu dan saling jaga. Sampai kemudian, masa-masa kekurangan makanan datang menghampiri. Sumber makanan yang dulu mereka bisa nikmati bersama, sekarang jauh berkurang dari semula. Kalaupun makanan yang sedikit tersebut dibagi bersama, tentunya akan sedikit yang didapati masing-masingnya.

Entah dari mana datangnya, beberapa di antara burung-burung kecil yang terbiasa bersama-sama tadi, muncul suatu akal bulus. Seandainya, ketika mereka sampai di sumber makanan yang sedikit tadi, dibunyikan peringatan tanda bahaya bahwa akan ada pemangsa yang mengintai untuk memakan mereka. Walaupun sebenarnya, tak ada pemangsa di sekitar mereka. Tentunya, hal peringatan yang disampaikan tak terduga-duga itu akan membuat semua burung yang lain menjadi waspada terhadap keselamatan mereka.

Ketika muslihat tadi dilaksanakan, memang hampir semua burung di dalam kelompok tadi menjadi gelisah waspada. Perhatian mereka tercurah ke sekeliling mencari celah tanda bahaya (yang sebenarnya tidak ada). Terkecuali mereka yang punya muslihat tadi, yang ketika burung-burung lain terlena dalam waspada, bersegera menyantap makanan yang terbatas.

Sungguh tipuan yang benar-benar membawa keberuntungan bagi yang melaksanakannya. Mereka kenyang, sementara yang tertipu harus bekerja dua kali mencari sumber makanan lain.

Sekelumit cerita di atas sebenarnya bukanlah dongeng dunia binatang atau fabel. Burung-burung kecil yang berkelompok tadi adalah fenomena kehidupan liar yang diistilahkan dengan mixed-species flock (MSF) atau kelompok jenis gabungan. Istilah ini digunakan secara ilmiah di dalam bidang ornithology (cabang ilmu biologi yang meneliti khusus mengenai burung) untuk menggambarkan interaksi sekelompok burung dari jenis yang berbeda, tetapi mempunyai kesamaan berukuran kecil dan berada pada tingkatan lemah dalam rantai makanan. Burung-burung ini bergerak bersama-sama dalam satu kelompok yang mempunyai maksud yang sama untuk mencari makanan. Dengan melakukan MSF, burung-burung ini akan saling menjaga satu sama lainnya terhadap kedatangan hewan-hewan pemangsa seperti ular, musang bahkan elang atau alap-alap.

Berdasarkan penelitian ilmiah yang telah dilakukan, jenis-jenis burung yang terlibat dalam MSF ini telah mengembangkan sejenis bahasa persatuan yang dapat dimengerti oleh semua jenis burung yang terlibat di dalamnya. Sehingga ketika ada bahaya yang datang mengintai dari arah manapun dan salah satu anggota MSF mengetahuinya, dapat segera diberitahukan kepada yang lain dalam isyarat suara bunyi kicauan yang dimengerti oleh semua anggota MSF.

Dalam perkembangan penelitian tentang fenomena ini banyak hal yang bisa dilakukan oleh jenis-jenis burung yang bergabung dalam kelompok campuran tadi. Terutama saat sumber makan sulit ditemukan atau sedikit, beberapa jenis burung anggota MSF secara instinktif mengembangkan kemampuan baru; menggunakan isyarat bahaya kepada anggota MSF lainnya saat mereka sedang bersama-sama mencari makan. Walaupun ketika itu tidak ada bahaya yang mengancam sama sekali.

Tujuan dikeluarkannya isyarat tanda bahaya palsu ini adalah untuk membuat anggota MSF yang lain menjadi waspada kepada sekeliling dan tidak lagi fokus perhatian kepada sumber makanan yang ada. Dengan demikian, burung yang mengeluarkan isyarat palsu tadi dapat bebas mengambil makanan yang terbatas tersebut untuk dirinya sendiri, ketika perhatian dari burung lain sedang teralihkan.

Begitulah fenomena di alam. Dan sepertinya, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh manusia dalam konteks yang kurang lebih sama: sengaja menyebarkan sesuatu hal yang tidak benar (walaupun kelihatannya benar) dengan tujuan tertentu. Bisa jadi tujuan tersebut untuk menguntungkan suatu pihak, atau bisa saja hanya untuk sekedar menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Atau mungkin pula untuk mendapatkan ketenaran semu sesaat, karena biasanya hal yang kita kenal dengan hoax ini paling mudah tersebar melalui media sosial yang penggunanya haus akan “like” dan “share.”

Belakangan ini hoax (berita bohong yang terlihat benar) seringkali disebut-sebut di berbagai media, bahkan sampai-sampai pemerintah pun ikut turun tangan dengan berusaha menertibkan lalu lintas berita elektronik dengan menggunakan Undang-Undang No 11 Tahun 2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik. Di dalam Pasal 28 ayat 1 undang-undang ini dikhususkan untuk menjerat pelaku penyebaran hoax di media elektronik. Meskipun demikian, hoax sendiri sepertinya masih tetap berseliweran di ragam media massa dan sosial media yang digunakan banyak pihak. Hoax sepertinya tetap bebas masuk ke relung-relung kehidupan kita, baik disadari ataupun tidak.

Berbeda dengan manusia, burung yang melakukan hoax semata dikendalikan oleh insting untuk bertahan hidup pada lingkungan yang mungkin tidak selalu menguntungkan bagi keberlangsungan hidupnya. Sedangkan manusia adalah makhluk yang diperlengkapi dengan akal pikiran serta perasaan yang bisa dipergunakan untuk menyaring segala hal yang tidak sesuai dengan norma dan adab kepatutan. Maka, sudah seharusnya setiap kali akan menyampaikan suatu berita atau informasi, manusia melakukan proses check-recheck terhadap informasi tersebut. Apakah berasal dari sumber yang dipercaya, apakah hal tersebut sesuatu yang faktual dan sesuai dengan kebenaran atau merupakan hal yang tidak jelas ujung pangkalnya?

Manusia pun harus bertanya kepada diri dan nuraninya, ketika suatu berita akan dia sampaikan kepada khalayak ramai, apakah tidak akan menimbulkan dampak yang tidak baik? Meskipun ada iming-iming bayaran atau imbalan untuk melakukan posting suatu berita, pertimbangan nalar ini tetap harus menjadi yang paling utama.

Maka, ketika kita mengajarkan tentang teknologi dan kemajuan sistem informasi kepada orang-orang terdekat kita, tularkan pula kepada mereka nilai-nilai luhur yang akan menjadi pembatas ketika mereka berhadapan dengan sesuai yang berbau hoax.

(Muhammad Nazri Janra, Dosen Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas)


Tag :opiniMuhammadNazriJanra