Tari Piring Minangkabau

Oleh : Andika Putra Wardana

Halo dunsanak Minangsatu,


hari ini kita akan menyelami keindahan salah satu tarian tradisional yang paling terkenal dari Minangkabau Tari Piring.


Tarian ini berasal dari Solok, Sumatera Barat, dan telah menjadi lambang kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Pada awal kemunculannya, Tari Piring dipercaya sebagai bagian dari upacara kesuburan.


Masyarakat masa itu menarikan tarian ini sebagai bentuk syukur kepada para dewa setelah panen melimpah.


Mereka membawa sesaji di atas piring, melangkah dengan gerakan cepat dan teratur, menciptakan irama yang dinamis dan penuh semangat.


Namun seiring waktu, terutama setelah Islam masuk ke Minangkabau, makna Tari Piring pun mengalami perubahan.


Ia tidak lagi menjadi bagian dari ritual keagamaan, melainkan menjadi seni pertunjukan yang menggembirakan.


Kini, Tari Piring sering ditampilkan dalam acara-acara adat, pesta rakyat, hingga ajang promosi budaya Indonesia di tingkat dunia.


Tari ini dikenal dengan atraksi para penari yang mengayunkan dua piring di telapak tangan, mengikuti alunan musik yang awalnya lembut, lalu semakin cepat dan membangkitkan energi.


Gerakannya tidak sembarangan, banyak di antaranya terinspirasi dari silek atau pencak silat Minangkabau, seperti gerakan tupai bagaluik, bungo kambang, hingga gerak kehidupan sehari-hari seperti mengayun anak, menyuap, dan menyembah.


Suasana tarian semakin hidup dengan alunan alat musik tradisional seperti talempong pacik, saluang, pupuik batang padi, dan gandang Minang.


Perpaduan bunyi alat musik ini menciptakan nuansa khas yang memikat siapa saja yang menyaksikannya.


Menariknya, jumlah penari Tari Piring biasanya ganjil, tiga sampai tujuh orang dengan kostum warna-warna cerah, dominan merah dan kuning keemasan.


Di akhir pertunjukan, piring-piring kadang dilempar ke lantai, dan para penari menari di atas pecahannya, menunjukkan keterampilan luar biasa dan makna simbolik yang dalam.