Tambua Tasa Pariaman - Part 2

Oleh : Andika Putra Wardana

Dalam upacara ini, Tambua Tasa tidak hanya menjadi musik pengiring, tapi menjadi jantung dari semangat dan atmosfer ritual. 

Dentuman Tambua Tasa membangkitkan semangat peserta dan menjadi simbol perlawanan, duka, dan pengharapan. 

Seperti yang diungkapkan pelatih tambua tasa, Syafendi, tidak akan terasa hidup upacara Tabuik jika tanpa kehadiran Tambua Tasa.

Selain itu, Tambua Tasa juga hadir dalam berbagai momen adat lainnya, seperti arak-arakan pernikahan. 

Dalam prosesi ini, Tambua Tasa menjadi pengiring marapulai dan anak daro yang sedang diarak keliling kampung. 

Tanpa irama yang menghentak dari tambua tasa, suasana akan terasa sepi dan hampa. 

Di sinilah kekuatan fungsional Tambua Tasa sebagai penguat suasana dan penanda hajatan penting dalam adat Minangkabau.

Tak hanya itu, Tambua Tasa juga digunakan dalam arak-arakan Khatam Al-Qur'an, menunjukkan bahwa kesenian ini mampu berdampingan dengan nilai-nilai Islam di Minangkabau. 

Bahkan dalam konteks modern, Tambua Tasa dipertandingkan dalam bentuk festival antar-nagari. 

Ini menjadi ruang kreativitas sekaligus ajang pewarisan nilai budaya bagi generasi muda.

Walaupun zaman berubah dan alat musik modern seperti drum band mulai menggantikan peran Tambua Tasa di sekolah-sekolah, semangat untuk melestarikannya tidak pernah padam. 

Anak-anak masih berlatih di luar jam sekolah, dipandu oleh pelatih yang sabar dan berdedikasi. 

Mereka belajar bukan hanya teknik memukul, tapi juga nilai-nilai kebersamaan, disiplin, dan rasa cinta terhadap budaya sendiri.

Tambua Tasa adalah bukti bahwa budaya lokal bisa hidup berdampingan dengan perubahan zaman, asalkan kita masih memiliki semangat untuk merawat dan mewariskannya. 

Di setiap dentuman Tambua dan Tasa, ada cerita sejarah, ada denyut perjuangan, dan ada semangat masyarakat Minangkabau yang terus bergema.