Tambua Tasa Pariaman - Part 1
Oleh : Andika Putra WardanaKetika kita berbicara tentang budaya Minangkabau, tak lengkap rasanya tanpa menyebut suara dentuman yang menggema kuat di udara, Tambua Tasa.
Alat musik ini bukan sekadar hiburan, tapi merupakan bagian dari identitas masyarakat Pariaman yang telah tumbuh dan berkembang selama berabad-abad.
Suaranya yang menghentak dan ritmenya yang membakar semangat menjadikan Tambua Tasa sebagai warisan budaya yang tak lekang oleh zaman.
Secara historis, Tambua Tasa diyakini merupakan hasil dari pertemuan dan asimilasi budaya lokal dengan unsur luar.
Sejarawan dan budayawan mengaitkan asal-usulnya dengan kedatangan pedagang Arab dan Gujarat ke pelabuhan Tiku di Pariaman sekitar abad ke-14.
Pelabuhan ini dulunya adalah pintu utama masuknya pengaruh Islam dan budaya Asia Selatan ke Minangkabau.
Dalam interaksi itu, tidak hanya agama dan perdagangan yang dibawa, tetapi juga seni, termasuk seni musik perkusi.
Dari sinilah Tambua Tasa mulai dikenal dan diterima sebagai bagian dari tradisi lokal.
Namun, Tambua Tasa bukan sekadar produk luar yang masuk begitu saja.
Ia tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Pariaman melalui proses akulturasi.
Budaya lokal memberikan roh dan nilai pada alat musik ini.
Tambua yang terbuat dari batang kapas dan kulit sapi dipadukan dengan Tasa, gendang setengah bola dari plastik atau liber.
Kombinasi keduanya menghasilkan suara dentuman keras dan menghentak, sangat cocok untuk mengisi ruang terbuka dan membangkitkan semangat massa.
Tidak heran jika Tambua Tasa dianggap sebagai kekuatan utama dalam berbagai ritual dan peristiwa besar.
Fungsi Tambua Tasa dalam kehidupan masyarakat sangat beragam dan sarat makna.
Di antaranya, yang paling menonjol adalah dalam Upacara Tabuik, sebuah ritual tahunan masyarakat Pariaman yang memperingati gugurnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW.