Tabuik Pariaman: Warisan Karbala di Ranah Minang - Part 2
Oleh : Andika Putra WardanaPembuatan Tabuik dimulai sejak 1 Muharram dan berlangsung selama sepuluh hari.
Prosesnya melibatkan banyak tahapan seperti Maambiak Tanah, Maambiak Batang Pisang, Maarak Sorban, hingga puncaknya Hoyak Tabuik di mana bangunan Tabuik diarak dan digoyang dengan semangat luar biasa oleh ratusan orang, sebelum akhirnya dilarungkan ke laut.
Pelarungan Tabuik ke laut bukan sekadar tontonan.
Ia adalah simbol pelepasan duka dan harapan agar semangat Husain keberanian, kesetiaan, dan perjuangan melawan ketidakadilan terus mengalir ke generasi berikutnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, makna Tabuik mengalami transformasi.
Dari yang dulunya merupakan ekspresi religius murni, kini menjadi festival budaya tahunan yang mampu menarik ribuan wisatawan.
Pemerintah Kota Pariaman mengemasnya sebagai bagian dari identitas budaya dan pariwisata daerah, tanpa menghilangkan makna spiritual dan historisnya.
Meski beberapa kalangan sempat mengkritik Tabuik karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Sunni, masyarakat Pariaman tetap mempertahankannya sebagai bagian dari warisan leluhur.
Tabuik bukan sekadar ritual, melainkan cerminan identitas dan kebersamaan.
Hingga hari ini, Tabuik tetap hidup menjadi jembatan antara sejarah Karbala dan semangat kebudayaan pesisir Minangkabau.
Ia membuktikan bahwa duka dan perjuangan bisa diwariskan, bukan dengan air mata, tapi dengan seni, kerja kolektif, dan semangat gotong royong.