Tabuik Pariaman: Warisan Karbala di Ranah Minang - Part 1
Oleh : Andika Putra WardanaHalo Dunsanak Minangsatu
Kalau kamu pernah berkunjung ke Kota Pariaman di Sumatera Barat saat bulan Muharram, kamu pasti akan menyaksikan sebuah tradisi yang unik, megah, dan penuh emosi, itulah Tabuik.
Tapi, tahukah kamu bahwa tradisi ini sebenarnya berasal dari peristiwa besar yang terjadi ribuan kilometer jauhnya, di tanah Arab?
Tradisi Tabuik lahir dari kisah duka di Padang Karbala, Irak, pada tahun 680 Masehi.
Saat itu, cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Imam Husain bin Ali, gugur secara tragis bersama para pengikutnya dalam perlawanan melawan tirani penguasa Yazid bin Muawiyah.
Peristiwa ini sangat membekas dalam sejarah Islam, terutama di kalangan Syiah.
Dari peristiwa inilah, muncul budaya peringatan Asyura, yang kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk ekspresi budaya di banyak negara Islam, termasuk... di Pariaman.
Lalu, bagaimana kisah Karbala bisa sampai ke pesisir barat Sumatera?
Jawabannya datang dari masa kolonial.
Sekitar tahun 1826, tentara kolonial Inggris dan Belanda yang berasal dari India Selatan khususnya dari Madras dan Benggala ikut serta dalam Perang Padri di Sumatera Barat.
Sebagian dari mereka adalah Muslim Syiah yang membawa serta tradisi memperingati wafatnya Imam Husain. Mereka dikenal sebagai urang Sipahi, dan merekalah yang pertama kali memperkenalkan tradisi Tabuik ke tanah Pariaman.
Sejarawan Dr. Mestika Zed menjelaskan bahwa:
"Tradisi Tabuik masuk ke Pariaman sebagai bagian dari memori kolektif laskar Sipahi terhadap tragedi Karbala. Mereka mengekspresikannya lewat bangunan tabuik dan ritual bertenaga magis."
Dalam tradisi ini, Tabuik adalah semacam replika kuda bersayap dengan kepala manusia dan peti di punggungnya.
Kuda ini melambangkan buraq kendaraan surgawi yang diyakini membawa ruh Imam Husain.
Tabuik dibuat oleh dua kelompok utama, yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.
Mereka bersaing secara simbolik, namun tetap bersaudara dalam semangat budaya.