Suntiang untuk Pengantin Laki-Laki? Ini Tradisi Marapulai Basuntiang - Part 1

Oleh : Andika Putra Wardana

Di ujung selatan Sumatera Barat, tepatnya di Inderapura, Pesisir Selatan, tersimpan sebuah tradisi pernikahan Minangkabau yang sarat makna dan nilai-nilai luhur "Marapulai Basuntiang."

Tradisi ini bukan sekadar pesta pernikahan biasa. 

Ia adalah panggung adat yang menampilkan kehormatan, kebersamaan, dan penghormatan mendalam kepada leluhur, semuanya dibalut dalam rangkaian simbol dan prosesi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Marapulai Basuntiang menyimpan cerita tentang siapa kita sebagai masyarakat Minangkabau, khususnya di daerah pesisir. 

Sejak masa Kerajaan Inderapura yang pernah bersahabat dengan Banten dan Aceh, tradisi ini hidup berdampingan dengan sejarah dan perdagangan yang mewarnai budaya maritim Pesisir Selatan. 

Bahkan, dalam proses pernikahan pun kita melihat akulturasi yang unik antara adat, agama, dan pengaruh luar yang terus berdialog hingga hari ini.

Prosesi pernikahan dimulai jauh sebelum akad nikah digelar. 

Ada masa pingitan, di mana calon pengantin perempuan dijaga agar tetap segar, cantik, dan terhindar dari mara bahaya. 

Lalu dilanjutkan dengan Batimbang Tando, saat kedua pihak keluarga berunding dan menyepakati tanda ikatan perjanjian. 

Setelah itu, dalam suasana Duduak Baretong dan Rapek Gadang, keluarga besar dari pihak perempuan bersatu, menyatakan kebulatan hati untuk melangsungkan pernikahan.