Sejarah Peradaban Kerajaan Indrapura - Part 3
Oleh : Andika Putra WardanaHingga hari ini, jejak Kerajaan Inderapura masih dapat kita temui. Mulai dari cap mahor (stempel) kesultanan Indrapura, masjid-masjid , hingga al-quran dan naskah-naskah kuno yang menjadi saksi bisu sejarah panjang kerajaan ini.
Di istano lah para sultan dahulu memimpin, bermusyawarah, dan menggelar upacara adat. Bangunan ini bukan hanya simbol kekuasaan, tapi juga simbol warisan budaya yang masih dijaga oleh masyarakat Inderapura hingga kini.
Tradisi, adat, dan silsilah bangsawan tetap hidup dalam keseharian mereka menjadi bukti bahwa peradaban itu belum benar-benar hilang.
Pada masa kejayaannya, Inderapura menjalin hubungan dagang dan diplomasi dengan berbagai kekuatan besar: Kesultanan Aceh, Banten, VOC, bahkan Inggris. Namun seperti kerajaan-kerajaan besar lainnya, kekuatan ini perlahan meredup.
Persaingan ekonomi, intervensi kolonial, dan konflik internal mulai menggerogoti kedaulatan Inderapura.
Puncaknya terjadi saat Belanda menghapus jabatan sultan dan menggantinya dengan sistem regent, lalu memecah wilayah administratifnya satu per satu.
Langkah ini bukan kebetulan. Ini adalah strategi kolonial yang bertujuan melemahkan kekuatan lokal. Ketika sistem kerajaan dipecah, yang dihancurkan bukan hanya pemerintahan, tetapi juga identitas dan daya tahan budaya masyarakatnya.
Namun, sebagaimana air yang mengalir dari hulu ke hilir, semangat masyarakat Inderapura tak pernah padam.
Mereka masih menyimpan kisah tentang sultan-sultan mereka, membacakan naskah-naskah warisan, dan menjaga situs-situs bersejarah sebagai pengingat bahwa mereka pernah menjadi pusat kekuasaan, ilmu, dan peradaban.