Sejarah Peradaban Kerajaan Indrapura - Part 2
Oleh : Andika Putra WardanaStruktur pemerintahan Inderapura sangat terorganisasi. Sultan berada di pucuk pimpinan, berperan sebagai pemimpin politik sekaligus agama. Ia dibantu oleh para wazir, penghulu adat, serta pejabat lokal yang dikenal sebagai Labia. Bersama para alim ulama, mereka membentuk satu sistem yang menjadi perpaduan antara kekuasaan formal, kearifan adat, dan nilai-nilai syarak Islam.
Salah satu sultan yang paling dikenal dalam berbagai catatan Portugis dan naskah-naskah klasik Melayu adalah Sultan Muhammad Syah. Ia dikenal sebagai pemimpin yang cakap, mampu menjalin hubungan diplomatik baik dengan kekuatan luar seperti Portugis dan Kesultanan Aceh.
Dalam pandangan para sejarawan, Kesultanan Inderapura adalah contoh keberhasilan integrasi antara Islam dan adat lokal. Sistem birokrasi mereka berbeda dari Minangkabau daratan, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai seperti musyawarah (syura), keadilan (‘adalah), dan sumpah setia (‘ahd) yang menjadi prinsip utama dalam tata kelola kerajaan.
Inderapura bukan hanya pusat kekuasaan dan perdagangan, tapi juga berkembang sebagai salah satu pusat keilmuan dan keagamaan terpenting di pesisir barat Sumatera.
Beberapa sultan Inderapura bahkan dikenal bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai ulama, sastrawan, dan pemikir Islam yang produktif. Seorang peneliti sejarah, Drs. Muhapril Musri, M.Ag., pernah menyampaikan bahwa para sultan di Inderapura banyak yang aktif dalam menulis, berdakwah, dan merumuskan gagasan Islam yang kontekstual dengan adat pesisir.
Salah satu warisan paling berharga dari masa kejayaan ini adalah manuskrip-manuskrip Inderapura. Naskah-naskah ini bukan sekadar catatan administratif atau hukum, tapi mencerminkan nilai-nilai Islam yang telah menyatu dengan adat istiadat masyarakat setempat. Mereka menjadi sumber sejarah yang hidup yang mengajarkan bagaimana Islam berkembang di Minangkabau dengan semangat lokalitas yang kuat, tanpa menghilangkan akar budaya.