Sejarah Kerajaan Pagaruyung - Part 1

Oleh : Andika Putra Wardana

Di balik megahnya Istano Basa dan indahnya lembah-lembah Sumatera Barat, tersimpan sebuah sejarah agung yang menjadi pondasi jati diri orang Minangkabau.


Inilah kisah tentang Kerajaan Pagaruyung, kerajaan yang bukan hanya tempat bersemayamnya para raja, tetapi juga rahim lahirnya adat, agama, dan warisan intelektual nenek moyang kita.


Sebuah kerajaan yang hidup dalam tambo, prasasti, dan napas adat yang tak lekang dimakan zaman.


Sejarah Kerajaan Pagaruyung tak bisa dilepaskan dari tokoh besar, Adityawarman.


Ia bukan sekadar seorang raja, tapi juga seorang intelektual dan politikus ulung.


Putra campuran Melayu dan Jawa ini, menurut Prasasti Kuburajo (1356), menyebut dirinya sebagai Kanakamedinindra, raja besar yang membangun pusat kekuasaan di Minangkabau.


Dengan gelar Maharajadiraja, Adityawarman mendirikan kerajaan bernama Malayapura yang kelak berkembang menjadi Pagaruyung.


Bukan tanpa alasan ia memilih wilayah Minangkabau. Selain karena leluhurnya dari Dharmasraya, Minangkabau saat itu adalah pusat budaya, jalur dagang, dan simpul kekuatan lokal.


Di sinilah, ide tentang pemerintahan yang berbasis adat dan kebijaksanaan lokal mulai dirancang.


Adityawarman memadukan struktur Majapahit dengan nilai-nilai matrilineal Minangkabau. Sebuah sintesis yang luar biasa.


Yang menarik dari Kerajaan Pagaruyung adalah sistem pemerintahannya yang khas. Tidak terpusat pada satu raja absolut, tetapi dibagi menjadi tiga kekuasaan yang dikenal dengan “Rajo Tigo Selo”.


Raja Alam sebagai pemegang kekuasaan duniawi dan pemerintahan,


Raja Adat sebagai penjaga norma dan aturan adat,


dan Raja Ibadat yang memimpin urusan keagamaan.