Randai: Gerak, Cerita, dan Filosofi dari Nagari - Part 1
Oleh : Andika Putra WardanaHalo dunsanak Minangsatu.
Pernahkah dunsanak menyaksikan sekelompok anak nagari membentuk lingkaran, bergerak perlahan dengan langkah kecil sambil menyampaikan cerita lewat nyanyian?
Itulah Randai, sebuah seni pertunjukan khas Minangkabau yang lahir dari gelanggang nagari, tumbuh sebagai permainan, dan kini diakui sebagai warisan budaya yang kompleks dan mendalam.
Randai bukan sekadar hiburan.
Ia adalah kolaborasi sempurna antara seni gerak, musik, sastra lisan, teater, dan pencak silat.
Menurut Bahardur, randai adalah miniatur lengkap seni pertunjukan Minangkabau.
Ia merangkum cerita kaba, irama dendang saluang, gerakan silat, hingga tata panggung dan kostum yang penuh makna.
Dari semua unsur itu, yang paling dominan dalam randai adalah gerak.
Bahkan, lebih dari separuh durasi pertunjukan randai diisi oleh ragam gerakan tubuh yang disusun dalam bentuk struktur koreografis.
Gerak-gerak ini diyakini bersumber dari pencak silat Minangkabau.
Inilah yang membedakan randai dari seni pertunjukan lainnya, ia bergerak, tapi juga bercerita.
Craig Latrell, peneliti teater Asia, menyebut bahwa gerak dalam randai disusun layaknya kalimat.
Setiap bagian dari gerak pasambahan, galombang legaran, hingga penutup memiliki karakter, fungsi, dan emosi yang berbeda.
Ada jurus-jurus tunggal, ada pula gerakan berpasangan, yang semuanya ditata untuk menyampaikan makna secara visual.
Salah satu bentuk dasar geraknya disebut Tagak Alif, posisi tegak lurus sebagai simbol kesiapan.
Lalu ada Langkah Gantuang, Langkah Guntiang (Silang), dan Langkah Papek, yang semuanya diambil dari teknik pencak silat dan dikembangkan menjadi gaya randai yang dinamis.
Bahkan ada gerakan Gelek, memutar badan 180 derajat tanpa melangkah sebagai simbol kelincahan.