Misteri & Kejayaan Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu Jejak Peradaban Minangkabau yang Hampir Punah - Part 2

Oleh : Andika Putra Wardana

Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu (ASSP) dikenal dengan ritual-ritual agraris yang sangat mengagumkan.


Di antaranya adalah seleksi ketat untuk memilih kerbau terbaik oleh tetua adat, prosesi penentuan harga yang hanya boleh dilakukan oleh orang Parik Gadang Diateh, serta pembagian daging yang simbolis, di mana 5 bagian diberikan untuk 4 raja dan masyarakat Pauh Duo.


Ritual ini bukan hanya tentang syukur panen, tetapi juga sebuah simulasi kosmologi Minangkabau mengenai keseimbangan alam dan manusia.


Pada abad ke-17, datanglah seorang ulama misterius, p, murid dari Syekh Burhanuddin Ulakan, yang banyak memberikan kontribusi penting untuk kerajaan ini. Dialah yang membangun Masjid 60-Kurang Aso dengan 59 tiang, yang masing-masing disumbang oleh 4 suku utama ASSP.


Ia juga memperkenalkan sistem pendidikan surau yang mengintegrasikan adat dan syariat.


Kisah menarik lainnya adalah pembuatan tiang utama masjid dari kayu raksasa yang sempat "menolak" ditebang karena dihuni roh penunggu, dan hanya setelah intervensi tokoh sakti ASSP, Inyiak Majolelo, pohon tersebut bisa dipindahkan ke Pasir Talang sejauh 200 depa (300 meter), seperti yang diceritakan oleh CH. Marsadis pada tahun 1988.


ASSP juga merupakan gudangnya seni tradisional yang memukau, seperti Gandang Sarunai, orkestra tradisional untuk penyambutan raja, Salawat Dulang, seni religi yang memadukan sastra dan musik, dan Ukiran Rumah Gadang, di mana setiap motif memiliki makna filosofis, seperti Aka Manjalo (akar menjalar) yang melambangkan kebijaksanaan dan Itiak Pulang Patang (itik pulang petang) yang simbol kesetiaan.


Seperti yang dikatakan oleh Navis (1984), seni ASSP adalah bahasa visual dari filsafat alam takambang jadi guru.