Misteri & Kejayaan Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu Jejak Peradaban Minangkabau yang Hampir Punah - Part 1
Oleh : Andika Putra WardanaKerajaan Alam Surambi Sungai Pagu (ASSP) bukan sekadar catatan sejarah, tetapi sebuah "living legacy" yang masih bisa kita rasakan hingga hari ini.
Namun, tahukah Anda? Kisah megah ini nyaris hilang ditelan zaman. Dalam video ini, kita akan menyusuri lorong waktu, mengungkap rahasia-rahasia yang disembunyikan hutan dan sungai selama berabad-abad. Bersiaplah!
Menurut Firdaus, seorang peneliti dari IAIN Imam Bonjol, ASSP adalah "alam kedua" setelah Pagaruyung dalam hierarki kerajaan Minangkabau.
Legenda menyebut, kerajaan ini berdiri sendiri (badiri dek awaknyo), dibangun oleh nenek moyang berjumlah 60 kurang aso (59 orang).
Yang menarik, Marsadis Dt. St. Mamat dalam Sejarah Masjid 60-Kurang Aso (1988) mengungkap teori mengejutkan, ASSP mungkin lebih tua dari Pagaruyung!
Ini didasarkan pada sistem pemerintahannya yang sangat kompleks, dengan 4 raja yang memimpin bidang berbeda. Struktur ini menunjukkan kecanggihan berpolitik yang langka di zamannya.
Cerita semakin epik dengan hadirnya Datuk Perpatih nan Sabatang, tokoh legendaris Minang pendiri sistem Bodi Caniago (demokrasi Minangkabau), yang dikatakan pernah mengembara ke ASSP setelah konflik dengan saudaranya, Datuk Ketumanggungan.
Bukti fisiknya terlihat pada Istana Balun, yang dinamai dari nama kecil Datuk Perpatih (St. Balun), serta sistem musyawarah bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mufakat yang masih dipakai di nagari-nagari ASSP.
Konflik dua datuk ini bukan sekadar perselisihan keluarga, tetapi pergulatan dua filosofi, hierarki versus egaliter, seperti yang dijelaskan oleh AA. Navis dalam Alam Takambang Jadi Guru.