Mengungkap Jejak Kerajaan Dharmasraya
Oleh : Andika Putra WardanaKerajaan Dharmasraya...
Salah satu kerajaan tertua di Sumatera...
Leluhur Minangkabau yang sudah terlupakan...
Apakah kita masih ingat siapa mereka ?
Sebelum kita mengenal Pagaruyung sebagai pusat peradaban Minangkabau, pernah berdiri sebuah kerajaan besar yang menjadi cikal bakalnya, yaitu Kerajaan Dharmasraya.
Terletak di sepanjang aliran Sungai Batanghari, Dharmasraya muncul sebagai kerajaan Melayu yang bercorak Hindu-Buddha, dan menjadi pusat kekuasaan penting di Sumatera bagian tengah sejak abad ke-11.
Tapi, mengapa jejak sejarahnya nyaris hilang? Dan... benarkah Dharmasraya adalah leluhur dari Adityawarman dan Pagaruyung ?
Dalam dunia arkeologi, nama Dharmasraya muncul dalam beberapa temuan penting. Salah satunya adalah prasasti Padang Roco, bertahun 1286 M, yang mencatat pengiriman arca Amoghapasa oleh Raja Kertanegara dari Singhasari ke Dharmasraya.
Menurut peneliti arkeologi Ida Bagus Sapta Jaya dalam risetnya di Sawahlunto, arca ini menjadi bukti bahwa Dharmasraya bukan sekadar legenda.
Prasasti ini memperlihatkan hubungan diplomatik antara Jawa dan Sumatera, serta mengonfirmasi posisi Dharmasraya sebagai penerus Kerajaan Melayu, jelasnya.
Salah satu raja Dharmasraya yang terkenal adalah Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, penguasa yang mengirim dua putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak, ke Jawa dalam peristiwa bersejarah bernama Ekspedisi Pamalayu.
Ekspedisi ini, yang dipimpin Mahesa Anabrang pada tahun 1275, adalah momen penting yang menyatukan dua peradaban Minangkabau dan Jawa. Dara Jingga kemudian melahirkan Adityawarman, tokoh kunci yang kelak mendirikan kerajaan baru bernama Malayapura, di jantung tanah Minang. Atau biasa yang kita kenal dengan sebutan Pagaruyung.
Di tahun 1347, Adityawarman, cucu Raja Dharmasraya, memproklamasikan dirinya sebagai Sri Maharajadiraja dan mendirikan pusat kekuasaan baru di pedalaman Sumatera.
Menurut catatan di punggung arca Amoghapasa yang kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta, ia menyebut dirinya sebagai "Srimat Sri Udayadityawarman", dan menjadikan tanah Minangkabau sebagai basis baru kekuasaannya.
Kerajaan Dharmasraya menganut agama Buddha Tantrayana, terlihat dari berbagai arca seperti Amoghapasa dan Bhairawa, yang menggambarkan Adityawarman sebagai perwujudan Siwa dalam bentuk menyeramkan.
Dharmasraya adalah akar dari Minangkabau.
Ia adalah kisah tentang diplomasi, seni, arsitektur, dan peradaban tinggi di tanah kita. Bukan dongeng, tapi fakta yang tertulis.
Dharmasraya bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah tanggung jawab kita hari ini.
Mari kita kenali, lestarikan, dan wariskan sejarahnya.
Karena bangsa yang besar… adalah bangsa yang tak melupakan sejarahnya .