Mengenal Datuak Katumanggungan dan Datuak Prapatiah nan Sabatang
Oleh : Andika Putra WardanaHalo, Sobat MINANGSATU! Di video kali ini, kita akan melanjutkan perjalanan sejarah kita ke masa lampau, lebih tepatnya untuk mengenal dua tokoh besar dari Minangkabau yang sering disebut-sebut dalam Tambo tapi mungkin masih banyak yang belum tahu siapa mereka sebenarnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Datuak Katumanggungan dan Datuak Prapatiah Sabatang.
Menurut R. Dt. Rajo Manso, seorang tokoh sejarah Minangkabau, banyak sekali buku dan seminar yang membahas tentang sejarah, Adat, dan Tambo Minangkabau. Tapi, sayangnya, nama Datuak Katumanggungan dan Datuak Prapatiah nan Sabatang jarang dibahas secara mendalam. Kedua tokoh ini, meski sering disebut-sebut, keberadaannya hampir dianggap mitos. Bahkan, sulit sekali untuk menemukan bukti sejarah yang memadai tentang mereka.
“Kekaburan sejarah Datuak Katumanggungan dan Datuak Prapatiah Sabatang sebagai tokoh Adat di zaman mereka sampai hari ini masih berlanjut. Banyak ahli sejarah yang kesulitan membuktikan keberadaan mereka, apalagi menyusun data secara kronologis. Tapi, meski begitu, adat yang kita pakai sampai sekarang adalah bukti bahwa karya mereka meski dianggap mitos tetap hidup dan diterima oleh masyarakat.” – R. Dt. Rajo Manso.
Meski begitu, Datuak Katumanggungan dan Datuak Prapatiah Sabatang punya peran penting dalam pembentukan sistem Adat Minangkabau yang kita kenal sekarang. Mereka berdua adalah dua bersaudara yang, meski lahir dari ibu yang sama, memiliki sikap dan cara berpikir yang sangat berbeda. Perbedaan inilah yang menjadi dasar lahirnya dua sistem Adat besar di Minangkabau. Keselarasan Koto Piliang dan Keselarasan Bodi Chaniago.
Datuak Katumanggungan, yang memimpin Keselarasan Koto Piliang, mengibaratkan filosofi Adat mereka dengan ‘manitik dari langik, batanggo turun’ seperti hujan yang jatuh dari langit dan kayu yang digunakan sebagai pegangan saat turun. Filosofi ini mengajarkan bahwa sistem pemerintahan yang dipimpin oleh raja atau pemimpin harus kuat dan pasti, seperti hujan yang tidak pernah melawan kehendaknya. Sedangkan, Datuak Prapatiah Sabatang, yang memimpin Keselarasan Bodi Chaniago, mengibaratkan Adat mereka dengan ‘mambusek dari bumi, bajanjang naik’. Seperti mata air yang mengalir ke atas, yang melambangkan kekuatan musyawarah dan mufakat.
Perbedaan ini tentu bukan berarti bertentangan, justru keduanya saling melengkapi. Datuak Katumanggungan dengan Keselarasan Koto Piliang menekankan bahwa setiap keputusan harus berasal dari pemimpin, dari titah yang pasti. Sementara Datuak Prapatiah Sabatang dengan Keselarasan Bodi Chaniago menekankan pentingnya musyawarah, di mana keputusan harus diambil bersama, dengan hasil yang disepakati oleh semua pihak. Dua sistem ini, meski berbeda, justru saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.
“Air hujan dan mata air tidak pernah bertentangan. Seperti halnya tangga dan jenjang, keduanya saling mendukung. Begitu juga dengan Keselarasan Koto Piliang dan Bodi Chaniago. Kedua sistem ini bekerja bersama untuk mencapai kemakmuran, meski melalui jalan yang berbeda.” – R. Dt. Rajo Manso
Dua sistem adat ini bukan hanya sekedar ajaran, tapi juga mencerminkan filosofi hidup orang Minangkabau. Misalnya, dalam Keselarasan Bodi Chaniago, prinsip ‘bulek aie di pambuluah, bulek kato di mufakaik’ yang berarti, ‘air yang berputar kembali ke sumbernya, seperti kata yang harus kembali ke kesepakatan’ mencerminkan pentingnya musyawarah untuk mencapai mufakat, keputusan bersama. Ini adalah bentuk kebijaksanaan yang diajarkan oleh Datuak Prapatiah Sabatang.
Tentu saja, kisah kedua tokoh ini tidak hanya berhenti di sini. Datuak Katumanggungan, setelah memimpin di Sungai Tarab, membentuk kerajaan dan membagi wilayahnya dengan prinsip matrilineal, yang memberi hak pada keturunan perempuan untuk mewarisi kekuasaan. Ini sangat unik, karena kebanyakan kerajaan di dunia mengikuti garis keturunan patrilineal. Datuak Katumanggungan mengubah sistem tersebut untuk menghormati peran perempuan dalam masyarakat Minangkabau.
Begitu juga dengan Datuak Prapatiah Sabatang yang tidak hanya memimpin dengan kekuatan fisik, tetapi dengan kebijaksanaan dan pengalaman. Dia pernah melakukan perjalanan ke luar negeri, ke negara-negara seperti Aceh, Birma, Siam, bahkan Cina, untuk mencari ilmu dan pengalaman. Pengetahuan yang didapatnya digunakan untuk memperkuat kerajaan dan sistem Adat yang telah dibangunnya.
Jadi, meskipun banyak yang menganggap sejarah mereka sebagai mitos, namun bisa kita lihat bahwa filosofi yang mereka ciptakan, seperti Keselarasan Koto Piliang dan Bodi Chaniago, tetap bertahan hingga sekarang, dan bahkan menjadi fondasi bagi kehidupan masyarakat Minangkabau. Sebuah bukti bahwa meski sejarah bisa kabur, warisan budaya yang mereka tinggalkan terus hidup dalam setiap generasi.
Terima kasih sudah menonton video ini. Jangan lupa untuk like, share, dan komen jika kalian merasa video ini bermanfaat. Mari kita teruskan perjalanan budaya Minangkabau ini, karena budaya kita, adat kita, tidak akan pernah lapuk oleh zaman.