Kubuang Tigo Baleh: Jejak Sejarah Luhak Yang Terlupakan - Part 3
Oleh : Andika Putra WardanaSekitar tahun 1818, wilayah Kubuang Tigo Baleh kedatangan seorang tamu penting: Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris untuk wilayah Sumatra.
Dalam catatan perjalanannya, Raffles menyebut kawasan ini sebagai "Desa Tiga Blas "mengacu pada tiga belas nagari yang bersatu dalam satu konfederasi adat.
Saat itu, sebagian wilayah sudah mulai tersentuh oleh Gerakan Padri, gerakan pembaharuan Islam yang tengah berkembang dari pedalaman Minangkabau.
Raffles menyebut nama Tuanku Pasaman, seorang tokoh Padri yang sudah dikenal di kawasan ini. Tapi di beberapa nagari, budaya lama masih bertahan...
Tradisi lama seperti membelah rambut di tengah atau mengepang rambut masih menjadi ciri khas identitas perempuan Minang sebelum pengaruh Padri sepenuhnya masuk.
Raffles pun berdialog dengan pemuka adat Kubuang Tigo Baleh. Ia bahkan menerima surat resmi yang akan dibawanya ke Hindia Belanda sebuah langkah politik penting dalam era kolonial.
Ia menggambarkan wilayah ini sebagai daerah agraris yang subur. Penduduknya dikenal sebagai petani ulet. Ada kabar bahwa daerah ini menyimpan tambang emas...
Namun tambang itu berada jauh memerlukan dua hingga sepuluh hari perjalanan ke tenggara.
Di tengah jantung kehidupan Kubuang Tigo Baleh, berdirilah Balai Nan Panjangpusat deliberasi adat yang terletak di Nagari Selayo.
Di sinilah para datuk dari ketiga belas nagari bermusyawarah, menyelesaikan masalah adat, kepemimpinan, dan hubungan antarnagari.
Balai ini bukan hanya bangunan fisik, tapi juga simbol persatuan. Di sinilah roh demokrasi tradisional Minangkabau hidup dalam mufakat, adat, dan rasa kebersamaan.