Kubuang Tigo Baleh: Jejak Sejarah Luhak Yang Terlupakan - Part 2
Oleh : Andika Putra WardanaTiga belas Datuk ini tidak datang sendiri. Mereka membawa kaum, suku, dan tradisi mereka. Di tanah baru ini, mereka mendirikan nagari satu per satu membentuk lingkaran adat yang saling menopang.
Nagari-nagari itulah yang dikenal sebagai Kubuang Tigo Baleh: Solok, Selayo, Gantungciri, Panyakalan, Cupak, Muaro Paneh, Sariak Alahan Tigo, Saok Laweh, Guguak, Koto Anau, Bukik Sileh, Dilam, dan Taruang-taruang.
Seiring waktu, nagari-nagari ini berkembang dan melahirkan banyak pemekaran. Lahirlah nagari-nagari seperti Tanjuang Bingkuang, Koto Baru, Koto Hilalang, Gauang, Bukik Tandang, Kinari, Parambahan, Sungaijaniah, Lima Ulunggo, hingga Batubajanjang dan Kampuang Batu Dalam.
Tapi meski telah melebihi tiga belas nagari, nama Kubuang Tigo Baleh tetap dipertahankan sebagai lambang asal-usul dan identitas sejarah.
Kubuang Tigo Baleh bukan sekadar kumpulan nagari.
Ia adalah simbol dari sikap mandiri masyarakatnya...
yang memilih keluar dari feodalisme...
Menurut Wahyu Saptio, budayawan Minangkabau. "KubuangTigo Baleh' bukan sekedar hitungan administratif, tetapi merupakan simbol sejarah dan filosofi. Kubuang Tigo Baleh merujuk pada tiga belas nagari pertama yang menjadi cikal bakal kawasan ini. Meskipun jumlah nagari terus bertambah seiring waktu, nama tersebut tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan warisan leluhur.
Bagi masyarakat Minangkabau, nama bukan sekadar sebutan, melainkan memori kolektif, simbol jati diri, kebersamaan, dan rasa memiliki. Menjaga nama 'Tigo Baleh' berarti menjaga akar budaya dan identitas yang telah diwariskan secara turun-temurun. Karena bagi orang Minang, mengganti nama berarti melupakan sejarah", Ujarnya.
Menariknya, sistem kelarasan di Kubuang Tigo Baleh tidak tunggal.
Nagari seperti Guguak, Saok Laweh, dan Panyakalan menganut kelarasan Bodi Caniago, egaliter dan musyawarah.
Sementara Salayo, Cupak, dan Koto Anau memilih kelarasan Koto Piliang, yang lebih hirarkis dan aristokratik.
Di sinilah, dua kelarasan besar Minangkabau bertemu dan hidup berdampingan.