Kubuang Tigo Baleh: Jejak Sejarah Luhak Yang Terlupakan - Part 1
Oleh : Andika Putra WardanaHalo Sobat Minangsatu! Di video kali ini, kita akan menyusuri jejak sejarah dari sebuah wilayah yang kaya akan warisan budaya dan adat Minangkabau yakni Kubuang Tigo Baleh.
Di balik hamparan sawah nan hijau dan tenangnya Danau Singkarak, tersembunyi sebuah kisah panjang tentang sebuah luak yang sering terabaikan dalam sejarah Minangkabau... Luak Kubuang Tigo Baleh.
Banyak yang mengenalnya sebagai bagian dari Luhak Tanah Datar... tapi sedikit yang tahu, bahwa inilah Luhak keempat Minangkabau yang tumbuh dari konflik, keberanian, dan nilai adat yang tinggi.
Setiap luhak di Minangkabau memiliki gunungnya masing-masing.
Tanah Datar dengan Gunung Marapi
Agam dengan Gunung Singgalang.
Limo Puluah dengan Gunung Sago.
Dan Kubuang Tigo Baleh... dengan Gunung Talang.
Namun, tidak seperti tiga luhak lainnya, Kubuang Tigo Baleh lahir bukan dari titah raja... tapi dari perlawanan.
Konon, tiga belas orang Datuk dari Tanah Datar pernah berselisih paham dengan raja Minangkabau.
Dalam tambo disebutkan, sang raja mengeluarkan titah: Ku buang tigo baleh ninik mamak iko…
Mereka pun meninggalkan tanah asal... menuju selatan... melewati perbukitan di pinggir Danau Singkarak.
Di sinilah, di dataran Solok, mereka menanam akar baru dan melahirkan konfederasi adat yang kita kenal sebagai Kubuang Tigo Baleh.
Luhak ini kelak menjadi cikal bakal wilayah Kota dan Kabupaten Solok. Bukan “rantau” seperti daerah pesisir, melainkan luhak muda yang punya tatanan adat dan nilai budaya sendiri.
Pusat adatnya terletak di Selayo tempat berdirinya Balai Nan Panjang, tempat berkumpulnya para ninik mamak menyelesaikan segala yang kusut dan menjernihkan yang keruh.