Kemegahan Rendang Minangkabau - Part2
Oleh : Andika Putra WardanaDi balik rasanya yang kaya, rendang menyimpan filosofi Minangkabau yang mendalam.
Bagi orang Minang, bahan-bahan rendang adalah simbol dari struktur sosial.
Daging melambangkan 'niniak mamak', para pemimpin adat.
Santan mewakili 'cadiak pandai', kaum intelektual yang berpikir jernih seperti santan yang putih.
Cabai adalah 'alim ulama', yang tegas dan pedas dalam menegakkan agama.
Rempah-rempah lainnya mewakili masyarakat umum, yang memperkaya dan menyatukan semuanya.
Filosofi ini mengajarkan harmoni sosial, di mana setiap elemen masyarakat punya peran, dan harus menyatu agar tercipta cita rasa kehidupan yang utuh.
Rendang bukan makanan sehari-hari biasa. Ia disajikan dalam momen penting, pesta pernikahan, naik rumah gadang, batagak pangulu, dan perayaan hari raya.
Menyajikan rendang adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada tamu.
Rendang juga melambangkan kematangan perempuan Minang dalam memasak dan mengelola rumah tangga. Bahkan, dalam beberapa keluarga, kemampuan membuat rendang adalah bagian dari penilaian terhadap calon istri yang baik.
Meski yang paling terkenal adalah rendang daging sapi, sebenarnya banyak jenis rendang yang berkembang sesuai daerah dan bahan lokal:
Rendang ayam
Rendang telur
Rendang suir daging
Rendang lokan (kerang) di pesisir
Rendang daun singkong atau rendang ubi, untuk sajian sehari-hari.
Setiap jenis rendang punya rasa khas, tapi semuanya lahir dari teknik marandang dan nilai budaya yang sama.
Rendang kini telah menjadi ikon kuliner Indonesia di mata dunia.
Pada tahun 2011 dan 2017, CNN menobatkan rendang sebagai makanan terenak nomor satu di dunia.
Di luar negeri, restoran Padang menjadi 'duta rasa' Indonesia dari Kuala Lumpur hingga Amsterdam, dari Jeddah hingga Melbourne.
Di sanalah rendang memperkenalkan budaya Minang tanpa perlu kata-kata.
Rendang bukan hanya berhasil mencuri hati dunia, tapi juga membuktikan bahwa kearifan lokal punya tempat di meja makan global.