Kalau Cuma Tahu Silat, Kamu Belum Tahu Silek Minangkabau! - Part 3
Oleh : Andika Putra WardanaBiasanya, calon murid juga membawa seekor ayam jantan. Ayam ini disembelih dan darahnya dicecerkan mengelilingi sasaran silek. Dari cara ayam itu bergerak saat meregang nyawa, dari arah matinya, bahkan dari tulang rawan di bawah lidahnya, sang guru bisa membaca niat, bakat, dan karakter si murid. Setelah itu, ayam dimasak dan dimakan bersama dalam prosesi doa bersama yang dipimpin oleh guru dan orang alim. Di sinilah silaturahmi dan persaudaraan terbentuk.
Sebelum mulai belajar, murid juga akan disumpah. Sumpahnya keras dan dalam. “Kaateh indak bapucuak, kabawah indak baurek, ditangah digiriak kumbang.” Artinya, siapa yang melanggar sumpah, hidupnya tidak akan beruntung. Ini bukan sekadar ancaman. Ini adalah cara adat Minang menjaga ilmu agar tidak digunakan untuk kejahatan.
Latihan silek biasanya dilakukan malam hari, setelah salat isya. Ada sasaran silek yang latihan sampai tengah malam, bahkan hingga subuh. Tapi ada juga guru yang tidak mengizinkan latihan lewat tengah malam, karena percaya bahwa lewat jam dua belas adalah waktunya makhluk lain seperti inyiak balang atau harimau gaib. Semua itu tergantung kepercayaan dan tradisi di masing-masing sasaran.
Aliran silek sangat banyak. Di antaranya yang terkenal adalah Silek Tuo, Silek Harimau, Silek Lintau, Silek Pauah, Silek Kumango, Silek Sitaralak, Silek Sunua, Silek Buayo, dan banyak lagi. Ada yang keras, ada yang lembut, ada yang penuh gerakan, ada pula yang lebih menekankan kekuatan batin. Beberapa bahkan tidak lagi menggunakan nama-nama hewan karena ingin menyesuaikan dengan nilai-nilai Islam.
Walau berbeda aliran, semua silek Minangkabau punya satu ciri khas, langkahnya sederhana, tapi bisa dikembangkan menjadi ribuan jurus. Filosofi ini dirangkum dalam pepatah: "jiko dibalun sagadang bijo labu, jiko dikambang saleba alam." Ilmunya kecil saat disimpulkan, tapi jika dijabarkan, bisa seluas alam semesta.
Itulah silek Minangkabau, dunsanak. Ia bukan sekadar ilmu bela diri. Ia adalah pusako. Ia adalah cermin dari cara urang Minang memandang hidup, dengan tanggung jawab, dengan kehormatan, dan dengan hati yang bersih.
Kalau ada yang bilang silek itu kuno, bilang saja: silek bukan kuno, tapi pusako!
Alam takambang jadi guru. Silek, jadi pusako anak cucu.