Kalau Cuma Tahu Silat, Kamu Belum Tahu Silek Minangkabau! - Part 2
Oleh : Andika Putra WardanaDalam istilah Minangkabau, ada perbedaan antara mancak dan silek.
Mancak adalah gerakan yang ditampilkan dalam acara adat, penuh keindahan dan seni.
Sedangkan silek adalah ilmu pertarungan sesungguhnya, yang digunakan dalam situasi nyata.
Maka muncul pepatah: “mamancak di galanggang, basilek di muko musuah.”
Artinya, ketika tampil, kita bermancak.
Tapi ketika bertemu musuh, barulah kita bersilek.
Para tuo silek atau guru besar silat, biasanya tidak pernah pamer kemampuan.
Bahkan, ketika ditanya pun, mereka akan menjawab dengan rendah hati,“saya hanya bisa mancak.”
Padahal sejatinya, mereka adalah pendekar ulung.
Ini adalah cerminan watak orang Minangkabau—rendah hati, tidak meninggikan diri, dan lebih suka diam daripada menyombongkan ilmu.
Gelar tertinggi bagi orang yang mahir silek disebut Pandeka.
Dulu, gelar ini dilewakan oleh ninik mamak dalam nagari secara adat.
Tapi pada masa kolonial, Belanda membekukan gelar ini karena takut dengan kekuatan lokal.
Baru pada tahun 2000-an, gelar Pandeka dihidupkan kembali.
Salah satunya ketika Wali Kota Padang, H. Fauzi Bahar, diberi gelar Pandeka Rajo Nan Sati karena perannya dalam menghidupkan silek di Kota Padang.
Beliau sendiri adalah pesilat pada masa mudanya.
Belajar silek tidak bisa sembarangan. Ada tata cara, ada syarat, ada etika.
Calon murid harus membawa benda-benda simbolik seperti kain putih, pisau, cabe rawit, garam, gula, cermin, rokok, beras, uang, dan satu stel baju silat. Semua benda itu punya makna.
Kain putih melambangkan niat yang bersih. Pisau melambangkan tajamnya ilmu.
Cabe, garam, dan gula menunjukkan bahwa silek bukan hanya teknik, tapi rasa.
Ilmu ini harus dirasakan dengan hati, bukan cuma dihafal dengan kepala.