Juadah: Sajian Adat Minangkabau yang Sarat Makna dan Cinta - Part 1
Oleh : Andika Putra WardanaDi tengah adat dan tradisi Minangkabau yang kaya dan sarat makna, ada satu sajian istimewa yang tak pernah absen dalam prosesi adat penting, terutama dalam manjalang mintuo, yaitu Juadah.
Juadah bukan sekadar makanan biasa.
Ia adalah simbol penghormatan, doa, dan harapan baik yang dibawa oleh keluarga pengantin perempuan untuk disampaikan kepada keluarga pengantin laki-laki.
Dalam filosofi Minangkabau, makanan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tapi juga memperkuat silaturahmi dan memperhalus adat yang dijunjung tinggi.
Bentuk Juadah sungguh mencolok. Ia disusun seperti gunungan atau menyerupai atap surau , bukan tanpa alasan, tapi mencerminkan hubungan spiritual manusia dengan Tuhan.
Di dalamnya tersusun tujuh jenis kue tradisional Minang, yang masing-masing punya cita rasa, tekstur, dan makna yang khas.
Dimulai dari simanih, atau wajik, yang menjadi dasar susunan.
Kue ini lengket dan manis, terbuat dari beras ketan, santan, dan gula merah.
Di atasnya ada kue sangko, dibuat dari tepung beras dan gula merah yang disangrai dan digiling halus.
Kemudian ada kanji, atau dodol, yang kenyal dan legit, dengan aroma khas santan dan gula merah.