Dendang Minangkabau: Suara Lirih dari Warisan yang Terlupa Part - 1
Oleh : Andika Putra WardanaDi antara gemuruh musik modern yang menghiasi setiap sudut kampung dan kota, ada satu suara lama yang kini makin pelan terdengar, itulah suara dendang.
Dendang adalah musik vokal khas Minangkabau, yang dulu begitu akrab di telinga masyarakat.
Ia bukan hanya seni hiburan, tapi juga bagian dari sastra lisan Minangkabau yang mengandung nilai, cerita, dan kearifan nenek moyang.
Dendang dulunya hidup dalam keseharian masyarakat: di surau, di ladang, di rumah, hingga di acara adat.
Tapi kini, ia mulai ditinggalkan.
Pelan-pelan tergeser oleh orgen tunggal, karaoke, dan musik digital dari luar yang lebih gemerlap di mata generasi muda.
Asal-usul kata "dendang" berasal dari frasa den indang, yang secara harfiah berarti "saya asuh".
Kata indang sendiri punya dua makna, mengasuh dan menampin.
Mengasuh dalam pengertian mengayun anak sambil bersenandung untuk menenangkan tangisnya, dan menampin dalam arti mengayun-ayunkan nyiru saat memisahkan beras dari atah.
Dari gerakan dan suara yang berulang inilah muncul irama, dan dari irama, lahirlah dendang.