Bukan Sekadar Mainan, Inilah Nilai Hidup dalam Permainan Tradisional Minangkabau - Part 1
Oleh : Andika Putra WardanaDi tanah Minangkabau, dulu… suara tawa anak-anak sering bersahut-sahutan di halaman rumah gadang, di jalan kampung, atau di lapangan tempat mereka bermain.
Mereka tak butuh layar, tak butuh sinyal, tak butuh teknologi canggih.
Yang mereka butuhkan hanyalah kaleng kosong, seutas karet gelang, sebilah bambu, atau hanya biji kerikil, dan tentu saja, imajinasi.
Permainan anak-anak tradisional Minangkabau adalah cerminan dari kehidupan sosial yang sederhana namun penuh makna.
Dari permainan seperti badia batuang hingga mancik-mancik, anak-anak Minang belajar keberanian, kecerdikan, kerjasama, hingga strategi.
Setiap permainan punya nilai, baik itu melatih refleks, mempererat kebersamaan, maupun menanamkan filosofi hidup dalam bentuk yang menyenangkan.
Sebut saja badia batuang.
Permainan ini menggunakan batang bambu yang diisi minyak tanah dan menghasilkan bunyi dentuman seperti meriam.
Biasanya dimainkan di bulan Ramadhan sebagai hiburan sambil menunggu waktu berbuka atau untuk membangunkan sahur.
Meski sederhana, badia batuang melatih keberanian dan kehati-hatian, karena permainan ini melibatkan api.
Bahkan, anak-anak zaman dulu menjadikan dentuman itu sebagai penanda waktu, layaknya sirine sahur zaman sekarang.