Bakaua Adat di Nagari Sijunjung - Part 2
Oleh : Andika Putra WardanaDi Tobek Gadang, para ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan masyarakat duduk bersama dalam suasana khidmat.
Acara dimulai dengan pidato adat bapantun yang saling berbalas, dilantunkan dengan fasih dan berwibawa.
Setelah itu, dulang dibuka dan makan bersama dimulai.
Satu dulang berisi dua porsi nasi, yang dibagi untuk dua orang melambangkan kebersamaan dan keadilan dalam hidup bermasyarakat.
Acara diakhiri dengan doa bersama dan penutupan dengan nazar, sebagai harapan agar tahun depan nagari tetap dijauhkan dari musibah dan dijaga dalam berkah.
Uniknya lagi, sebelum bakaua dimulai, ada ritual yang disebut Malimau Tungkek.
Sebuah prosesi pagi hari, yang melibatkan tungkek atau tongkat milik Syekh Abdul Muhsin yang disimpan dengan penuh hormat di Rumah Gadang Caniago.
Berkunjung ke kampung adat Nagari Sijunjung seperti menelusuri lorong waktu.
Rumah-rumah gadangnya masih asli, ditandai dengan nama suku.
Ada pula kisah spiritual yang hidup di Surau Simauang, tentang Syekh Abdul Muhsin dan Syekh Amiludin dua tokoh agama yang sangat dihormati.
Bakaua Adat bukan sekadar perayaan.
Ia adalah napas budaya, pusaka leluhur, dan pelajaran hidup tentang syukur, hormat, dan kebersamaan.
Dari Nagari Sijunjung, warisan ini terus hidup… untuk dikenang, dijaga, dan diwariskan.