Asal Usul Kota Pariaman: Dari Rantau Minang ke Kota Otonom - Part 1
Oleh : Andika Putra WardanaPariaman, sebuah kota yang kini berdiri megah di pesisir barat Sumatra Barat, menyimpan kisah panjang dan penuh perjuangan sebelum menjadi kota otonom seperti hari ini.
Dahulu, Pariaman hanyalah sebuah kecamatan kecil ibukota dari Kabupaten Padang Pariaman dengan luas sekitar 67 kilometer persegi.
Meski kecil, wilayah ini memiliki sejarah sosial dan peran strategis yang sangat besar dalam perkembangan daerah pesisir Minangkabau.
Dalam tatanan adat Minangkabau, Pariaman adalah bagian dari wilayah rantau, lebih tepatnya disebut sebagai Rantau Riak Nan Mamacah.
Uniknya, di sini sistem pewarisan gelar adat menggabungkan dua garis keturunan pusaka turun dari ibu, gelar turun dari ayah tradisi yang khas dan hanya dijumpai di Pariaman.
Pada masa kolonial Belanda, Pariaman telah menjadi salah satu kota sentral penting di wilayah Sumatra Tengah, bersama dengan Padang dan Bukittinggi.
Bahkan, Belanda menempatkan seorang residen di kota ini menandakan status istimewa Pariaman di mata penjajah.
Setelah Indonesia merdeka, semangat untuk menjadikan Pariaman sebagai kota mulai menggeliat.
Pada tahun 1980-an, tokoh-tokoh masyarakat, legislatif, hingga perantau bekerja sama memperjuangkan status kota administratif bagi Pariaman.
Berkat lobi dan dukungan yang kuat, terutama dari para tokoh perantauan, pada tahun 1987, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1986, Pariaman resmi menjadi Kota Administratif.