HOME PARIWISATA KOTA SOLOK

  • Senin, 13 Desember 2021
Menyisiasati  Kearifan Lokal Wisata  Alam Solok Pasca Pandemi Covid -19
Objek Sisata Batupatah Payo

Solok (Minangsatu) - Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan, Pembangunan kepariwisataan diperlukan untuk mendorong pemerataan kesempatan berusaha dan memperoleh manfaat serta mampu menghadapi tantangan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global. 

Salah satu tujuan dari pembangunan kepariwisataan adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi; meningkatkan kesejahteraan masyarakat; menghapus kemiskinan; mengatasi pengangguran; melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya; serta melestarikan dan memajukan kebudayaan. Pengembangan objek wisata alam akan memberikan keuntungan dalam mendongkrak kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi wisata dengan mengangkat kearifan lokal masyarakat.

Pandemi COVID-19 telah menghantam industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Tidak main-main, sejak Februari 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis, dan puncaknya terjadi April 2020 dengan jumlah wisatawan hanya sebanyak 158 ribu.

Berubahnya Tren Pariwisata di Tengah Pandemi Covid-19. Kunci utama bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif agar dapat bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik. Pasalnya, saat ini pelaku masyarakat mulai berubah, dan dibarengi dengan tren pariwisata yang telah bergeser. Sektor pariwisata mencoba berdamai dengan situasi ini. Kita buat inovasi, adaptasi, dan kolaborasi yang salah satunya mengembangkan dan memajukan

Menyitir Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyatakan pandemi  Covid-19 momentum untuk mengoptimalkan pengembangan parawisata berkelanjutan tyang mengedepankan pelestarian alam dan budaya Indonesia. Sehingga nantinya menjadi lokomotif mendorong upaya perlindungan pelestarian alam dan warisan budaya dengan konsep planet, people (manusia) dan prosperity (kesejahteraan) agar bisa dinikmati oleh generasi masa depan.

Sejalan dengan itu, mengutip Prof. Dr. Ginta Ginting, M.B.A. (Universitas Terbuka)  mengatakan harus melihat berkah terselubung pandemi Covid-19 untuk menciptakan pariwisata dan ekonomi kreatif yang lebih resilien, adaptif dan berdaya saing. Pelaku di sektor pariwisata sudah “naik kelas” artinya mereka mempunyai kapabilitas yang luar biasa, yaitu concern mereka di kesehatan, keamanan dan keselamatan (K3). 

Kemudian mereka meningkatkan kapabilitas baru, dengan pandemi seperti ini digitalisasi sebagai solusi untuk mempertahankan bisnisnya. Namun pandemi ini juga menimbulkan peluang pelaku usaha parekraf antara lain, perubahan model bisnis dari yang traditional touris management menjadi digital touris management akan menjadi peluang dalam mempertahankan dan memulihkan sektor pariwisata nasional, lalu sektor ekonomi kreatif berbasis digital juga dapat meningkatkan kontribusi terhadap PDB,
Survival dalam sektor pariwisata tidak hanya soal pemulihan tetapi pemulihan yang strategis dan bisa bertransformasi sehingga resilien itu bisa dibangun, resilien ini adalah suatu kunci untuk pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di masa depan karena ketidakberdayaan menghadapi bencana seperti ini bisa diantisipasi melalui strategi manajemen resiko sehingga dampak terhadap industri pariwisata dan ekonomi kreatif tidak terpuruk pada saat sekarang ini. Jadi melalui strategi transformasi dan resiliensi ini menjadikan industri pariwisata dan ekonomi kreatif maju, berdaya saing, berkelanjutan, dan mendukung kearifan lokal.

Wabah dan sengkarut Covid-19 Itu pula yang dialami sektor pariwisata Kota Solok. Kota yang terletak di Jalan lintas Sumatera ini memiliki berbagai objek wisata alam yang cukup asri.  Misalnya Pulau Belibis yang merupakan destinasi wisata yang menonjolkan keindahan alam dengan fasilitas rekreasi yang memiliki berbagai daya tarik bagi pengunjung.
Objek yang berada di Kelurahan Kampungjawa itu memiliki telaga kecil,  tempat bermain-main burung belibis yang bisa dinikmati pengunjung. Saat ini Pulau Belibis sudah dilengkapi dengan Kolam renang yang cukup bagus, juga gazebo untuk pengunjung dan wisata air disamping kolam pancing yang dinikmati pecandu mancing mania setiap minggu.
Karena pandemi itu, hingga akhir Nopember 2021, Pulau Belibis ini baru dikunjungi sekitar 16.066 orang. Padahal, pada tahun 2019 tercatat kunjungan mencapai 58.561 orang.Penurunan paling drastis adalah pada tahun 2020, hanya 7.865 orang yang mengunjungi Pulau Belibis. 
Tak berapa beda dengan objek wisata Batu Patah Payo Kelurahan Tanahgaram merupakan destinasi wisata alam yang berjarak Lima kilometer dari pusat Kota Solok memiliki udara yang sejuk saat ini cukup diminati pengunjung. 
Objek tempat berkembangnya bunga krisan yang didatangkan dari Bogor kini dapat dinikmati pada 6 buah Green house yang mekar silih berganti, hal ini yang merupakan primadona Batu Patah. Bahkan pengunjung di Objek wisata yang dilengkapi gazebo, mushalla juga tersedia menara pandang setinggi 6 meter untuk melihat keindahan alam Gunung Talang, Merapi Singgalang, Danau Singkarak, Aripan dan Pusat Kota Solok yang semakin padat.
Tinggal lagi bagaimana memanfaatkan media mempromosikan untuk menarik pengunjung, walau tahun 2020 dikunjungi sebanyak 35.659 orang, tapi diakhir Nopember ini baru 11.636 orang untuk menikmati mekarnya bunga krisan yang warna warni.

Bukan itu saja Agro wisata Sawah solok terletak ditengah hamparan Sawah Solok yang terletak di belakang kantor Balai Kota Solok sambil bersantai di pondok yang telah disediakan, pengunjung bisa memandang hamparan sawah solok yang semakin terjaga keutuhannya , disamping pengunjung memanfaatkan irigasi kolam khusus yang dipenuhi ribuan ikan untuk terapi sambil mencicipi masakan khas Rang Solok. 

Wisata Alam ini tahun 2020 dikunjungi 16.586 orang dan di akhir Nopember tahun ini baru 3.403 orang, dengan demikian imbas pandemi virus yang diimport dari Tiongkok itu cukup membawa pengaruh terhadap objek wisata.Karena pandemi luluhlantak pergerakan pariwisata  pada hal pariwisata menjadi salah satu sektor ekonomi masyarakat. 
Seperti yang pernah diutarakan Kabid Promosi Pariwisata dan Kebudayaan  Dinas Pariwisata Kota Solok Hernenti Saher kedepan perlu pemulihan objek wisata dengan melakukan inovasi dan terobosan terutama pembenahan objek wisata dengan yang baru untuk daya tarik pengunjung. 

Bahkan Objek Batu Patah - Payo sekarang semakin dibenahi dengan lengkap jenis bunga krisan yang membuat pengunjung betah.Bila objek wisata kembali dikunjungi aktifitas akan berjalan lancar seperti transportasi, hotel, dan pedagang semakin bergairah..


Wartawan : Zul Nazar
Editor : melatisan

Tag :#kearifan lokal