HOME OPINI OPINI


  • Minggu, 14 April 2019
Teknologi Deteksi Kebuntingan Dini pada Sapi Potong
Ferry Lismanto Syaiful

Teknologi Deteksi Kebuntingan Dini pada Sapi Potong

Ferry Lismanto Syaiful 
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas

Pengembangan peternakan sapi potong masih perlu peningkatan pengetahuan tentang manajemen pemeliharaan sapi yang baik dan benar tentang reproduksi (kontrol kesehatan, sinkronisasi birahi dan inseminasi buatan), pengolahan pakan dan penanganan limbah (sebagai bio gas dan pupuk). Hal ini merupakan masalah utama bagi peternak sapi di daerah. Salah satu daerah yang dianggap perlu pengembangan ini adalah Kinali Pasaman Barat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang teknologi deteksi kebuntingan dini pada sapi potong, maka hasil produktivitas ternak juga kurang optimal.

Upaya untuk meningkatkan produktivitas susu dan menurunkan angka kawin berulang maka perlu pengetahuan tentang manajemen pemeliharaan sapi perah yang baik dan benar serta tentang reproduksi (kontrol kesehatan, sinkronisasi birahi dan inseminasi buatan). Sehingga kedepan seiring cara pemeliharaan yang baik dan benar maka produktivitas diharapkan akan lebih meningkat dan seiring pengetahuan tentang reproduksi yang semakin baik maka angka kawin berulang dapat ditekan. Sehingga peternak dapat mengetahui waktu yang tepat dilakukan IB ataupun bila terjadi masalah pada birahinya sapi.
Teknologi deteksi kebuntingan dini DEEA GestDect terhadap sapi rakyat di Kinali Kabupaten Pasaman Barat telah dilakukan oleh Tim Universitas Andalas di Kelompok Ternak dan Masyarakat di daerah Kinali Pasaman Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas sapi potong. Kegiatan diikuti oleh petani peternak sapi dan masyarakat. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah penyuluhan, diskusi, demonstrasi dan praktek yang meliputi: cara pemeliharaan sapi yang baik dan benar, cara mendeteksi birahi secara benar agar tingkat kebuntingannya meningkat, penanganan gangguan reproduksi dan kasus-kasus penyakit yang sering terjadi di kelompok ternak. 

Kegiatan implementasi desiminasi teknologi deteksi kebuntingan dini DEEA GestDect terhadap sapi potong dilakukan oleh peternak langsung kepada ternak sapi melalui penggunaan DEEA GestDect (Gambar 1) untuk mendeteksi kebuntingan dini pada sapi. Hasil implementasi kemudian dievaluasi.
Secara umum para peserta kegiatan dapat menerima dengan baik materi dan misi yang disampaikan sebagai alternatif solusi yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan produksi. Dari antusiasme para peserta sangat dimungkinkan tujuan akhir kegiatan ini tercapainya peningkatan produktivitas peternakan sapinya, sehingga pada akhirnya kesejahteraan peternak dengan sendirinya dapat meningkat pula.

Peningkatan Pengetahuan, Wawasan dan Ketrampilan Peternak

Indikator kinerja keberhasilan kegiatan penyuluhan, diskusi dan pelatihan dapat dilihat dengan membandingkan hasil pre test dan post test peternak. Hasil pre test dari peternak menunjukkan nilai yang masih rendah. Hal ini menunjukkan minimnya pengetahuan dan ketrampilan dari peternak mengenai cara pemeliharaan sapi yang baik dan benar, cara mendeteksi birahi secara benar agar tingkat kebuntingannya meningkat, cara penanganan gangguan reproduksi, dan sekaligus praktek teknologi deteksi kebuntingan dini DEEA GestDect terhadap sapi rakyat 
Dari hasil post test menunjukkan peningkatan yang sangat baik. Hal ini menandakan bahwa peternak telah paham terhadap materi yang diberikan dan ingin mengaplikasikan teknologi yang diberikan.
Deteksi Kebuntingan Dini Pada Sapi

Keberhasilan program Inseminasi Buatan (IB), peternak/ masyarakat memiliki peran sentral dalam kegiatan pelayanan IB. Faktor manusia, sarana dan kondisi lapangan merupakan faktor yang sangat dominan. Berkaitan dengan peternak/ masyarakat sebagai pengelola ternak, motivasi seseorang untuk mengikuti program atau aktivitas-aktivitas baru banyak dipengaruhi oleh aspek sosial dan ekonomi. Faktor sosial ekonomi antara lain usia, pendidikan, pengalaman, pekerjaan pokok dan jumlah kepemilikan sapi kesemuanya akan berpengaruh terhadap manajemen pemeliharaannya yang pada akhirnya mempengaruhi pendapatan. Ketepatan deteksi birahi dan pelaporan yang tepat waktu dari peternak kepada inseminator serta kerja inseminator dari sikap, sarana dan kondisi lapangan yang mendukung akan sangat menentukan keberhasilan IB. 

Melihat realitas di lapangan para peternak memelihara ternaknya yang sudah di lakukan inseminasi/ IB masih standarisasi pemahamannya mengenai kapan waktu dan secepat mungkin untuk melaporkan dalam periksaan kebuntingan pada ternak sapi yang dipelihara, yang terkadang tidak semua ternak sapi yang IB positif bunting, dalam hal ini harus dilakukan Pemeriksaan Kebuntingan dini. 

Deteksi kebuntingan dini pada ternak sangat penting bagi sebuah manajemen reproduksi sebagaimana ditinjau dari segi ekonomi. Mengetahui bahwa ternaknya bunting atau tidak mempunyai nilai ekonomis yang perlu dipertimbangkan sebagai hal penting bagi manajemen reproduksi yang harus diterapkan. 
Pemilihan metode tergantung pada spesies, umur kebuntingan, biaya, ketepatan dan kecepatan diagnosa. Pemeriksaan kebuntingan adalah salah satu cara dengan menggunakan metode khusus untuk menentukan keadaan hewan bunting atau tidak. Palpasi rectal adalah metode diagnosa kebuntingan yang dapat dilakukan dengan tepat pada ternak besar seperti kuda, kerbau dan sapi. Dalam hal ini yang ingin dilakukan adalah palpasi rectal pada umur kebuntingan dini karena metode ini adalah salah satu dari beberapa metode yang sering dilakukan dan tanpa memakan biaya dan tenaga yang cukup lama, tetapi yang sering dilakukan adalah palpasi pada umur kebuntingan tua. Keterampilan untuk menentukan kebuntingan secara dini sangat perlu untuk dimiliki, dalam hal ini semakin cepat kita mengetahui ternak itu bunting atau tidak bunting maka semakin baik. 

Mengingat hal ini waktu yang menjadi tolak ukur dalam manajemen pemeliharaan ternak yang hanya akan mendatangkan kerugian bagi para peternak, maka salah satu aletrnatifnya melakukan deteksi kebuntingan dini, dengan diketahuinya status kebuntingan dalam waktu yang lebih cepat dan akurat, peternak dapat mengambil tindakan lanjutan, misal menyesuaikan pakan apabila induk bunting atau menjual ternaknya apabila tidak bunting akibat infertilitas, sehingga peternak tidak akan mengalami kerugian yang besar akibat biaya pemeliharaan yang dikeluarkan pada sapi yang di Inseminasi. 
Untuk diketahui deteksi kebuntingan secara dini dengan teknik palpasi rectal dan USG dapat digunakan yakni eksplorasi rectal adalah palpasi/meraba uterus melalui dinding rectum (anus) untuk meraba apakah terjadi pembesaran yang terjadi selama kebuntingan atau adanya membrane fetus maupun fetus. Teknik ini hasilnya dapat diketahui dan cukup akurat namun harus dilakukan oleh tenaga profesional seperti inseminator maupun dokter hewan. Disamping itu metode deteksi kebuntingan pada ternak sapi dilakukan secara konvensional yaitu dengan pengecekan fisik secara langsung (perogohan/palpasi rectal) yang hanya bisa dilakukan 60 hari setelah inseminasi.

Sedangkan USG dapat digunakan untuk mendeteksi kebuntingan secara dini yakni menggunakan probe yang dapat mendeteksi adanya perubahan di dalam rongga abdomen yakni bentuk dan ukuran dari comua uteri. Alat ini dapat juga digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan reproduksi, kematian embrio dini, jenis kelamin pedet maupun abnormalitas pedet, akan tetapi harganya cukup mahal dan memerlukan operator yang sudah terlatih.
Adanya teknologi deteksi kebuntingan dini DEEA GestDect tentunya memberikan peluang untuk mengetahui sapi bunting pada usia kebuntingan dini sesudah dilakukan inseminasi atau kawin secara alami. Penggunaan DEEA GestDect ini deteksi kebuntingan sapi dapat dilakukan lebih dini dan tanpa beresiko. Uji deteksi kebuntingan hanya membutuhkan urine sapi saja untuk mendeteksi kebuntingan tersebut. Disamping itu waktu deteksi kebuntingan sangat singkat hanya membutuhkan waktu 60 menit dalam pelaksanaannya. 

Teknologi deteksi kebuntingan dini DEEA GestDect dapat digunakan untuk mengetes kebuntingan sapi yang sudah diinseminasikan (Gambar 3). Deteksi kebuntingan dini pada sapi induk ini dapat meningkatkan efisiensi reproduksi sehingga dapi induk yang diketahui belum bunting dapat segera dikawinkan kembali. Hal ini bisa memperpendek masa kosong atau kering dan sapi induk yang telah secara dini diketahui bunting dapat segera dipelihara secara lebih baik untuk menjaga dan menyelamatkan kebuntingan sampai lahir dengan selamat. Disamping itu peternak juga dapat meningkatkan efisiensi reproduksi sapi dan menekan biaya produksi.

Untuk pengecekan kebuntingan dengan palpaci rectal, biasanya peternak hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 35 ribu. Untuk test DEEA GestDect ini, peternak harus merogoh kocek sampai Rp 7 ribu per sampel. Ada baiknya memang program ujicoba dilanjutkan dengan diintegrasikan pada program SIWAB yang menjadi keunggulan Kementerian Pertanian untuk memperbanyak populasi sapi dalam upaya meningkatkan populasi dan produksi ternak sapi di daerah Kinali Pasaman Barat.


Tag :opiniFerryLismantoSyaiful