HOME OPINI -

  • 31-December-2018
  •  
  • 21:00:00
  •  

Tahun Baru, Katak dan Berudu

Taufik Effendi

Dalam hitungan jam, kita tiba di 2019. Beberapa jam lagi orang-orang akan menghitung mundur untuk tiba di jam 00.00. 
Biasanya, terompet-terompet ditiup. Klakson dibunyikan. Api unggun dinyalakan.


Orang-orang pun berteriak selamat tahun baru. Happy new year. Ada yang bersalaman. Banyak pula yang berpelukan serupa boneka teletubbies. Haddehhh.


Di mana-mana digelar malam pergantian tahun. Di hotel, juga di cafe. Di tepi pantai, juga di puncak gunung. Di pusat perbelanjaan, juga di los pasar desa di pelosok sana. 


Pokoknya semuanya tumpah ruah menyambut pergantian tahun. Paling banyak anak muda. Banyak pula yang "muda tidak tua terlampau". Pinang sirah ikue!


Sejak beberapa hari yang lalu, sudah ramai agenda diperbincangkan. Jagad maya menjadi saksi, betapa peristiwa pergantian tahun membetot perhatian khalayak. Semua sibuk membuat rencana kegiatan menyambut tahun baru. 


Di sitinjau lawik, sejak kemaren hingga magrib ini, banyak anak muda dengan sepeda motor memenuhi jalan. Mereka berpasangan, mendukung ransel di punggung. Lengkap dengan peralatan outdoor. Periuk dan kuali juga mereka bawa. Mereka akan kemping di puncak Gunung Talang.


Di sepanjang jalan Padang Panjang-Bukittinggi, juga seperti itu. Cuaca diperkirakan rancak. Enak untuk mendaki. Menyambut tahun baru di puncak Merapi.


Lain halnya di tempat-tempat wisata. Para pengelola objek sudah siap dengan jualannya. Apalagi jika bukan makanan dan minuman. Biasanya, sekira pukul 22.00 baru mulai ramai. Menanti pergantian tahun.


Tahun baru, sibuk kita dibuatnya. Kendaraan tumpah ruah. Jalan macet. Kesibukan yang kolosal. Mungkin lebih sibuk dibandingkan menyambut pilpres atau pileg? Entahlah.


Yang jelas, begitu pukul 00.00, semuanya bersorak-sorai. Lalu satu per satu orang-orang itu pun sibuk masing-masing. 


Yang membawa pasangan, asyik masyuk. Yang membawa keluarga mulai berbenah untuk pulang. Ada yang anaknya menangis lantaran sudah mengantuk berat. Tapi papa dan mama nya membujuk-bujuk. Sebentar lagi kita pulang. 


Pagelaran orgen tunggal di los pasar, usai hitung mundur, bukannya bersiap-siap untuk bubar. Tetapi makin panas musiknya. Makin beringas penyanyinya. Makin tenggen penontonnya. 


Apa lagi? Itu lah ritual tahun baru selama ini. Bahkan sampai-sampai stok kontrasepsi pun ludes. Entah apa hubungannya? Tetapi begitu diberitakan. 


Fenomenal. Memang fenomenal perayaan pergantian tahun ini. 
Meskipun berbuih air liur para ustadz melarang, namun kafilah berlalu jua.

Beruntunglah ada yang kreatif, menyambut pergantian tahun dengan berbagai acara interaktif di masjid. Remaja mesjid dilibatkan. InsyaAllah para remaja itu, hingga tengah hari besok akan memenuhi mesjid. 


Tapi, seberapa banyak tokoh-tokoh setempat kreatif untuk tidak hanya melarang, namun memberi alternatif kegiatan yang bermanfaat? 


Begitu pun edaran Gubernur Sumbar supaya dalam memperingati pergantian tahun tidak berhura-hura. Tidak menenggak miras, jangan mabuk narkoba dan dilarang berbuat maksiat. Seberapa mangkuskah? 


Mudah-mudahan mangkus. Setidaknya, hingga tulisan ini dibuat, di Bukittinggi sudah diantisipasi supaya tidak ada hura-hura. Suasananya lebih adem dari tahun lalu. Kawasan jam gadang ditutup!


Di sepanjang tepian danau Singkarak, tidak ada terlihat orang-orang menjual terompet. Suasana sepi-sepi saja. 


Kita berharap perilaku masyarakat bisa berubah. Apalagi musim bencana akhir-akhir ini. Mestinya kita makin takut akan azab. 


Namun, sebagai perilaku sosial, fenomena perayaan tahun baru memang tidak bisa serta merta diberangus. Entah kalau 1 Januari itu tidak tanggal merah. Tidak libur. Bisa berkurang orang merayakannya.


Yang pasti, tahun baru datang, berkurang umur. Berkurang waktu. Kecuali tentang berkurangnya umur, tahun baru itu biasa-biasa saja. Seperti puisi seorang teman di WAG. Tahun baru/kitab lama/isu usang...


Saya pun terinspirasi pula. Tapi puisi dengan bahasa ibu saya; taun muko, taun kini, taun katumba/koncek di ateh pamatang/garundang tabik aie/anak rajo lalu/karakok tumbuah di batu.

taun baru/koncek jo garundang!


Tahun baru. Melompat katak, melompat pula berudu.


Tag :tajukTE  


Nama
Email
Komentar