HOME OPINI FEATURE

  • Minggu, 15 November 2020
Selamat Jalan Corona
Erawati

Padang (Minangsatu) - Pandemi corona mengubah tatanan kehidupan. Wabah itu mematikan dan menenggelamkan ekonomi hampir semua negara. Di lain pihak, virus itu mengajarkan manusia untuk tangguh menghadapi tantangan alam. Erawati dan Eriyanti, dua wanita dari Bukit Karamuntiang membuktikannya.

Erawati dan Eriyanti merupakan karyawan Universitas Andalas. Kantornya terletak di kawasan perbukitan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Padang. Secara historis, masyarakat menyebut lokasi kampus itu dengan Bukit Karamuntiang.

Era dinyatakan positif tertular corona pada 23 Oktober 2020. Hasil positif didapatkan setelah menjalani tes usap di laboratorium Rumah Sakit Universitas Andalas sehari sebelumnya. Dia menjalani karantina di mess Unand, masih di kawasan kampus Limau Manis sejak 24 Oktober. 

Tak lama dia menjalani perawatan di sana. Tepat 29 Oktober dia dinyatakan sembuh. Hasil tes usap menunjukkan dia negatif corona. Era pun pulang ke rumahnya di kawasan Siteba. Selesai sudah penyakit itu.

Rekan Era, Eriyanti dinyatakan positif corona pada 28 Oktober 2020. Beda dengan Era, dia menjalani karantina di rumah saja. Gejala yang dialami tak berat, sehingga tak perlu  karatina di tempat khusus yang disediakan pemerintah.

Sama halnya dengan Era, Eriyanti juga dinyatakan sembuh dalam waktu yang tak terlalu lama terhitung sejak dinyatakan positif. Mereka sembuh cepat karena disiplin dan didorong keyakinan tiap penyakit pasti ada obat.

“Dorongan dari diri sendiri merupakan kekuatan untuk cepat sembuh,” kata Erawati pada Minangsatu, Sabtu (7/11/2020) di Padang.

Dikatakan Era, sejak menjalani karantina di mess Unand, dia patuh dengan anjuran tenaga medis. Makanan apapun yang diberikan ia santap.  Segala macam obat yang diberikan dokter, ia telan. Selama menjalani karantina, dia terus berikhtiar meningkatkan imun  tubuh. Dia tak pernah menyesali perjalanan hidup yang mengantarkannya ke tempat karantina.  “Tak perlu lagi mencari di mana dan kenapa kita tertular corona,” kata dia. 

Era menyebut, dalam kondisi sekarang, sulit untuk mencari tempat bebas dari corona. Virus itu menyebar bukan karena berjalan sendiri, tapi interaksi antarwarga yang mengakibatkan virus menyebar. “Ubahlah cara pikir tentang corona. Wabah itu bukan hoax, bukan pula konspirasi. Corona itu nyata,” kata Erawati.

Sejak dikarantina, Era berkeyakinan, tenaga medis akan mampu memberikan pengobatan. Dia berkeyakinan mampu melewati hari-hari yang berat itu. “Jangan pernah berpikir untuk kalah melawan corona,” katanya.

Dengan menjalani karantina, dia meninggalkan suami dan anak-anak. Jauh dari keluarga tak membuatnya bersedih. “Keluarga jadi dorongan untuk kuat dengan cobaan,” katanya.

Era menyebutkan, walau sekarang sulit mencari tempat yang aman dari corona, namun masyarakat tetap harus berusaha mencegah agar tak tertular virus tersebut. Dia mengajak warga untuk hidup dalam tatanan normal baru. Corona diwaspadai, kehidupan pun tetap harus dilakoni dengan normal pula.

Menurut Era, patuh-patuhlah dengan anjuran pemerintah. Pakailah masker bila ke luar rumah. Jaga jarak bila berada di tempat yang ada banyak orang. “Yang lebih penting lagi, biasakan mencuci tangan pakai sabun dengan memanfaatkan air yang bergerak,” kata Era.

Dijelaskan Era, mencegah lebih  baik daripada mengobati. Pemerintah mengeluarkan anggaran yang demikian besar demi mengobati pasien corona. “Kasihanilah tenaga medis kita. Sebagai saksi mata bagaimana tenaga medis bekerja, sepatutnya masyarakat membantu tenaga medis. Biarlah mereka merawat yang sudah tertular saja. Jangan ditambah lagi beban mereka,” kata Era.

Sama halnya dengan Era, Eriyanti mengajak masyarakat untuk tidak menganggap remeh corona. “Jangan pula ada pihak yang memprovokasi masyarakat untuk meremehkan corona,” tuturnya.

Lantaran tak menjalani karantina di pusat layanan medis, Eriyanti memiliki banyak waktu untuk mempelajari tentang wabah corona itu lewat sejumlah literatur. “Virus ini berbahaya dan mematikan,” katanya.

Berbekal pengetahuan tentang corona itu, Eriyanti bertekad untuk melawannya sekuat tenaga. Salah satu caranya, rajin minum obat dan mengonsumsi makanan bergizi. “Alhamdulillah, saya dinyatakan negatif setelah menjalani dua kali tes usap,” kata dia.

Eriyanti tertular corona berawal dari hilangnya penciuman. Dia memasak ikan asin di dapur, tapi tak mencium aroma apapun. Ketika kehilangan penciuman ini, dia menganggap hal biasa saja. Belum ada perasaan akan terkena corona. 

Hari berikutnya, dia memasak rendang, tapi juga tak mencium aroma apa-apa. Lalu, dia bertanya pada suaminya, “Apakah mencium aroma sambal yang dimasak?” Suaminya menjawab, “Ya, ada aroma dari ikan yang kemarin dimasak, maupun rendang yang dimasak.” 

Lantaran curiga, dia menjalani tes usap di Puskesmas Pauh. Hasilnya, dia dinyatakan positif.  Setelah dinyatakan positif, Eriyanti tak berkecil hati. Dia bertekad penyakit tersebut harus diatasi. “Jangan menyerah dengan keadaaan,” kata dia.

Eriyanti berpesan, kalau memiliki gejala corona, segeralah ke rumah sakit. Jangan anggap biasa-biasa saja. Jangan sampai menularkan virus itu ke banyak orang. “Corona bukan kutukan. Tak perlu malu bila dinyatakan positif,” katanya.

Dikatakan Eriyanti, masyarakat janganlah memberikan stigma apabila ada warga yang menjalani karantina di rumah. Jangan sampai dikucilkan pula mereka yang terpapar. “Berikanlah dorongan moral kepada mereka yang terpapar corona tersebut,”  kata dia. 

Sebagai ikhtiar untuk sembuh, Eriyanti tak mengandalkan obat-obatan dokter saja. Imun tubuh ia ciptakan dengan jalan mengomsumsi multivitamin serta memakai obat tradisional. Selama menjalani karantina dia sering minum air kelapa muda. 

Usaha Eriyanti untuk bangkit dari corona tak sia-sia. Hasil swab test pertama menyatakan Eriyanti negatif corona. Hingga Sabtu (7/11/2020), Eriyanti tak lagi demam. Tidak ada lagi batuk. Penciuman sudah kembali normal. Sepekan kemudian, dia menjalani swab kedua, hasilnya negatif. Selamat jalan corona.

Dikatakan Eriyanti, dukungan keluarga terdekat penting untuk menciptakan keyakinan dan kekuatan diri untuk melawan corona. “Keluarga sangat support ketika saya berusaha keras melawan corona,” kata dia. 

Selama menjalani karantina mandiri, Eriyanti melewati hari-hari secara mandiri pula. Dia mencuci piring sendiri dan ketika minta makanan, komunikasi dengan orang lain lewat telepon saja. Tujuannya, agar tidak menularkan penyakit ke orang lain. 

Eriyanti dan Erawati memberikan pelajaran berharga, betapa corona itu ada. Penyakit itu harus dilawan dengan optimisme. Biarkan corona pergi ke dunia lain. Lelah manusia gara-gara engkau. Warga Indonesia harus sepakat pula untuk mengurangi, bahkan mengusir wabah tersebut dari negeri ini.

Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Rumah Sakit Universitas Andalas, Dokter Andani Era Putra mengemukakan, corona bisa dilawan dengan kesadaran masyarakat. Virus itu bukan berjalan sendiri, tapi antarmanusia yang menyebarkan. “Kalau mau menyatakan selamat jalan pada corona, maka ubah laku. Patuhi protokol kesehatan,” kata dia.

Andani menyebut, mengajak masyarakat untuk memakai masker saja susahnya minta ampun. Kalaupun bermasker, ada pula yang cuma sampai di leher. Masyarakat memakai masker lantaran takut didenda, bukan takut terpapar atau menyebarkan virus corona. “Jangan aturan yang ditakuti, tapi waspadalah agar tidak terpapar,” kata Andani.

Menurut Andani, janganlah berpikir yang bukan-bukan tentang corona, apalagi kalau menganggap sebagai konspirasi segala. Corona merupakan musuh yang nyata dan virus itu mematikan. Kalau pun nanti sudah ada vaksin, belum tentu juga persoalan akan selesai. “Tetap saja dibutuhkan protokol kesehatan dalam jangka panjang, hingga ditemukan obat yang paling efektif,” katanya.

Fakta menunjukkan, berdasarkan survei lembaga riset dan konsultan Spektrum Politika Institut, ternyata 39,9 persen masyarakat Sumatera Barat menganggap Covid-19 hasil konspirasi global. Banyak masyarakat yang meragukan keberadaan penyakit yang disebabkan virus SARS-Cov-2 itu. Akibatnya masih banyak masyarakat yang mengabaikan imbauan pemerintah tentang protokol kesehatan.

"Parahnya, banyak masyarakat yang menganggap konspirasi global, atau negara kapitalis di dunia dengan target menjual anti virus atau vaksin," kata Direktur SPI, Andri Rusta, Senin (5/10/2020) pada Minangsatu.

Andri menjelaskan, akibat keraguan masyarakat, terjadi pengabaian terkait kedisiplinan terhadap protokol kesehatan. Misalnya masih banyak yang tidak memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah, tidak menjaga jarak fisik dan tidak rajin mencuci tangan.

Dikatakan Andri, dari hasil survei diketahui 28,5 persen masyarakat Sumbar masih sering keluar rumah, hanya 60,3 persen masyarakat sering memakai masker, 52,2 persen masyarakat mengaku pentingnya menjaga jarak aman dan 66,3 persen masyarakat selalu mencuci tangan atau menggunakan penyanitasi tangan.

"Padahal mematuhi protokol kesehatan dianggap paling efektif mencegah penyebaran virus corona. Meskipun masyarakat bisa dikategorikan patuh terhadap protokol kesehatan, tapi persentasenya masih tipis, hampir tidak patuh," ujarnya.

Dijelaskan Andri yang juga dosen FISIP Universitas Andalas itu, survei tersebut dilakukan di 19 kabupaten dan kota pada 10-15 September 2020, dengan 1.220 responden yang diambil bertingkat. 

Gubernur Sumatera Barat tersentak dengn hasil survei itu. Gubernur Irwan Prayitno mengaku heran pada masyarakat yang tidak percaya dengan virus corona, “Kita sudah menyosialisasikan. Kalau enggak percaya juga, apa boleh buat. Itu urusannya,” ujar Irwan kepada awak media di Padang, Senin (5/10/2020).

Irwan pun makin heran, meski sebagian besar masyarakat sudah mendapatkan informasi soal pandemi corona, tapi masih ada juga yang meyakini Covid-19  sebagai sebuah konspirasi. “Sudah tahu, tapi tidak percaya. Bingung kita,” ujar Irwan.

Dikatakan Irwan, perlu kesamaan persepsi antara masyarakat dengan pemerintah dalam menuntaskan persoalan corona ini. Kalau hanya pemerintah yang bekerja sendiri, hasilnya tidak akan pernah maksimal. Pemerintah memberikan layanan kesehatan, sementara masyarakat tak patuh, maka pasien akan terus bertambah. 

“Lebih baik energi bangsa ini kita habiskan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk ketimbang mengurusi corona. Lebih baik membangun tol, jalan, bendungan dan sebagainya daripada uang habis untuk mengurusi corona. “Kita harus bangkit bersama,” ujar Irwan, seraya menyebutkan, uang negara sudah banyak terkuras guna menanggulangi wabah itu.

Biaya pengobatan bagi pasien corona ternyata tak main-main. Jika didanai dengan kantong  pribadi, pasti akan membuat orang kapok dan sadar pentingnya melakukan protokol kesehatan saat pandemi.

Dilansir dari Kompas, ada pasien yang membagikan kuitansi biaya perawatan virus corona di media sosial. Dalam postingan yang dibagikan di Twitter tersebut, tertulis jelas biaya perawatan Covid-19 mencapai nominal Rp294 juta.

Hal ini diperkuat pernyataan dari Menteri BUMN, Erick Thohir. Ia menyebut, biaya perawatan paling murah untuk satu orang sekitar Rp105 juta. “Kalau kita lihat dari data-data, bisa Rp105 juta. Kalau yang ada penyakit tambahan Rp215 juta kalau nggak salah. Mahal banget,” kata Erick Thohir dalam diskusi virtual pada Jumat (29/5) yang diwartakan klikdokter.com.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Djoerban mengakui biaya perawatan pasien memang sangat mahal. Menurutnya, biaya yang dikeluarkan bisa sampai ratusan juta rupiah.

Zubairi menjelaskan, alasan biaya perawatan pasien infeksi coronavirus memang mahal karena ada beberapa tahapan pemeriksaan yang harus dilalui pasien. Di samping itu,  biaya ketersediaan alat medis juga tidak murah. "Itu tidak gratis. Kalau orang dengan Covid-19 itu dites dulu positif, menunggu polymerase chain reaction-nya (PCR), biasanya dalam sekali tes habis satu juta rupiah," ujar Zubairi.

Belum lagi pasien yang didiagnosis positif harus menjalani rawat inap di rumah sakit, jelas biaya perawatan akan semakin bertambah. “Sekali suntik Rp300 ribu sampai Rp400 ribu dalam satu obat, belum obat-obatan lainnya," kata Zubairi yang dilansir Kompas.

Untuk pasien yang dirawat di ruang ICU dengan sejumlah alat penunjang kesehatan, umumnya akan mengeluarkan biaya yang semakin besar lagi. Terlebih jika pasien mengalami kondisi kesehatan serius, misalnya seperti gagal fungsi organ jantung, ginjal atau otak.

Tak dimungkiri, biaya yang lebih besar harus banyak digelontorkan lagi untuk menyelamatkan nyawa pasien Covid-19. Selain karena obat dan biaya perawatan pasien, kebutuhan tenaga medis yang membutuhkan alat pelindung diri (APD) juga harus dihitung.

Pusing tujuh keliling jika pandemi dikaji dari berbagai aspek. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Padang, Duski Samad mengajak masyarakat bersama-sama melawan corona. Jangan lagi abai dengan aturan dan imbauan mematuhi protokol kesehatan. Duski menyebutkan, wabah harus dijauhi dan dihindari. “Corona itu memang nyata dan berbahaya,” kata dia. 

Dia mengajak masyarakat perang melawan corona yang dimulai dari keluarga masing-masing. Kalau pasien terus bertambah, maka lama pula waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan problem itu, sementara banyak persoalan lain yang memerlukan penanganan pula. “Mari kita berikhtiar dan suatu saat bisa menyatakan selamat jalan pada corona,” katanya pada awak media.(Edwardi)


Tag :#Covid19 #SelamatJalanCorona