HOME OPINI -

  • 09-February-2019
  •  
  • 09:17:23
  •  

Polemik Rocky Gerung

AG Sutan Mantari

Setelah mendapat serangan yang keras dari politisi-politisi dari koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin terkait dengan pernyataan-pernyataan kritisnya terhadap presiden Jokowi dan pemerintahannya, sekarang ini muncul gerakan untuk menggugat legasi dan keilmuan Rocky Gerung dalam bidang Filsafat.

Gugatan itu disampaikan secara terbuka oleh LSFN (Lingkar Studi Filsafat Nahdliyin) yang dipimpin oleh seorang akademisi filsafat Jogja lulusan S2 Perancis terutama sekali soal jejak akademik kefilsafatan Rocky Gerung dan tafsirnya terhadap "kitab suci itu fiksi". 

Rocky Gerung dipertanyakan karena ia seolah-seolah menggunakan terminologi "akal sehat" untuk "seolah-olah" ingin mengajak nalar publik kepada nalar apa yang seharusnya mereka pakai dalam memahami realita politik akhir-akhir ini, terutama soal kontestasi pilpres.

Bagi kelompok LSFN, argumen-argumen Rocky Gerung masih bersifat hipotetik sehingga perlu dikaji secara filosofis dengan berbagai perangkat epistemologis dan logikanya. Sehingga publik tidak terbawa dalam arus permainan kata-kata yang terlihat canggih, sementara terlihat ada kecenderungan Rocky Gerung sedang memanfaatkan konflik wacana yang terjadi pada kedua kubu peserta pilpres dimana Rocky Gerung seolah-olah melakukan pemihakan kepada salah satu kubu. 

Adapun kritik yang disampaikan oleh dosen senior Filsafat UGM terutama sekali dalam kaitannya pernyataan bahwa "Pancasila memberikan ruang kepada atheisme karena ada sila ke-2 yang memuat semangat humanisme" pada sebuah kursus filsafat yang diampu oleh Rocky Gerung di Jurnal Perempuan. Padahal menurut beliau, Pancasila harus dipahami dalam sistem integral, dimana masing-masing sila harus menjiwai sila-sila yang lain. Oleh karenanya, tidak bisa sila kedua hanya dipahami sebagai sekedar humanisme saja, tetapi ia terikat dengan humanisme yang ber-Ketuhanan. Termasuk juga sila-sila yang yang lain harus dirangkai dalam Persatuan yang ber-Keadilan, Permusyarawaratan yang mem-Persatukan.  

Polemik ini menjadi menarik karena Rocky sebagai sosok yang saat ini banyak mendapatkan atensi dari publik lewat kehadiran di ILC TV One, dan bahkan sudah diundang oleh 20-an lebih perguruan tinggi Muhammadiyah di berbagai daerah telah membuat orang tertarik untuk mencari apa itu filsafat dan buku-buku filsafat apa yang dibaca oleh Rocky, sehingga ia mampu membuat retorika di media secara menarik dan "anti-mainstream". Sementara yang menggugatnya juga adalah sosok-sosok yang berkecimpung dalam pengajaran filsafat di perguruan tinggi meskipun dari segi popularitas mereka masih kalah dari Rocky Gerung.

Filsafat UGM dulu pernah menjadi primadona di zaman Orde Baru, karena dosen-dosennya menjadi andalan Pak Harto dalam memberikan tafsir kepada Pancasila, dan alumnus filsafat mendapat tempat profesional di BP-7.

Di zaman Reformasi, secara massif ada gerakan untuk menghilangkan jejak tafsir Pancasila ala Orde Baru. BP-7 dhapus, penataran P-4 tak dihelat lagi. Semangat Ekonomi dan Politik Pancasila tak lagi digandrungi sehingga lahirlah konsep ekonomi koperasi Pancasila diganti dengan ekonomi liberal dengan payung konstitusional Demokrasi Ekonomi di Pasal 33 ayat 4 dan sistem politik liberal lewat pemilihan langsung yang kemudian menegasikan fungsi permusyawaratan dan perwakilan dalam lembaga legislatif kita.

Di era Jokowi, Pancasila kembali mendapat tempat, tetapi dosen-dosen filsafat UGM tidak menjadi punggawa wacana soal Pancasila dalam skala nasional. Yang dianggap terdepan dalam kajian Pancasila adalah Dr. Yudi Latief, dosen Universitas Paramadina. Sehingga diangkatlah Dr. Yudi Latif sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). 

Dari segi wacana feminisme, Filsafat UGM tidak kunjung melahirkan pakar feminisme yang aktivitas intelektualnya mendapat perhatian publik sebagaimana yang ditorehkan oleh Dr. Gadis Arivia, dosen Filsafat UI dengan seabrek jejak advokasi terhadap penindasan terhadap perempuan lewat Jurnal Perempuan dan torehan karya-karya seputar feminisme lewat buku-bukunya.

Filsafat UIN setelah Harun Nasution lewat gerakan Neo Mu'tazilah-nya dan Nurcholis Madjid lewat Islam Liberal-nya tak begitu bergaung dalam melahirkan pemikiran-pemikiran filsafat yang bernas yang cukup menyita perhatian publik.

Malahan ada gerakan perlawanan terhadap kajian-kajian dari kawan-kawan Aqidah Filsafat UIN, terutama sekali dari kelompok INSISTS yang merupakan alumni dari ISTAC IIUM Malaysia yang kebanyakan adalah murid dari Syed Naquib Al Attas.

Alumnus Filsafat UGM semenjak dihapuskannya BP-7 kemudian tak punya ruang profesional ideologis untuk tetap menghidupkan warna Filsafat Pancasila yang menjadi icon-nya. Yang kemudian menonjol dari alumni-alumni Filsafat UGM adalah kiprah di bidang sastra dan jurnalistik.

Kalau kita kaji secara historis, filsafat memang hidup lewat "hantam-menghantam" para filsuf. Kaum Sophis yang terganggu dengan pengajaran Filsafat Socrates kemudian melakukan agitasi plus provokasi dengan mengatakan kepada penguasa dan publik bahwa Socrates adalah sosok yang meracuni pikiran anak-anak muda Yunani.

Perkawinan filsafat dan teologi Kristen yang begitu kental di abad pertengahan kemudian dihantam oleh pemikir renainsance dan aufklarung sehingga filsafat kemudian dimurnikan lagi dengan mencabut sisi-sisi "teologi" sehingga murni menjadi filsafat yang berbasiskan pada kemampuan empiristik dan rasionalistik dengan menegasikan sumber pengetahuan dari wahyu Ilahiyah.

Namun, agar pertarungan filsafat di era millineal ini tidak bersifat personal, sehingga lebih menampakkan sisi ketersinggungan akan pilihan politik dan perasaan iri hati soal akses opini ke media nasional, maka seharusnya yang disasar bukanlah pada sisi degree atau ijazah yang dimiliki. Pembuktian otoritatif "kefilsafatan" akan berbau "legalistik dan formalistik" jika debat yang terjadi adalah pada sekedar show-off ijazah S1, S2, S3 Ilmu Filsafat yang sudah dikumpulkan baik dari departemen filsafat kampus dalam negeri maupun luar negeri.

Debat filsafat akan semakin berbobot dengan pertama kali menghindari aksi pemidanaan dan berlepas diri dari penggunaan kekuasaan untuk meraih "kemenangan" opini. 

Jangan gunakan cara-cara Kaum Sophis yang licik sehingga akhirnya Socrates lebih memilih meminum racun daripada harus berhenti memberikan "pengajaran" kepada masyarakat Yunani.

Setelah bebas dari tekanan politik dan pemidanaan, debat-debat filsafat antara dosen-dosen filsafat UIN, UI, UGM, termasuk juga STF dengan sosok kiri progressif seperti Rocky Gerung bisa dihelat dalam semangat adu gagasan dan adu epistemologi serta ideologi masing-masing pihak.

UGM bisa tampil dengan Filsafat Pancasila-nya, UIN bisa tampil dengan Neo Mu'tazilah-nya, STF bisa tampil dengan Skolastik-nya, dan INSISTS sendiri bisa maju dengan filsafat Islamisasi Al Attas-nya.

Seperti perdebatan keras ideologis yang berhasil ditampilkan dalam sidang Konstituante, sudah saatnya era Millineal disuguhkan diskusi-diskusi yang sehat soal ideologi yang dibawakan oleh para punggawa filsafat di Indonesia dengan segala keunikan dan kekhasan aliran pemikirannya masing-masing.

Tentu publik juga menantikan bagaimana adu argumen dari para "ahli" filsafat di atas yakni Rocky Gerung, LSFN dan dosen senior Filsafat UGM bisa dihelat dalam ruang terbuka, sehingga terjadi sebuah adu argumen yang dialogis secara langsung, bukan hanya sekedar aksi pernyataan sikap di sosial media saja sebagaimana yang terjadi saat ini.

(Anggun Gunawan, alumni Filsafat UGM, Pengurus ICMI DI Yogjakarta, Kepala Bidang Media Pusat Kajian Strategis Nusantara)


Tag :Opini Anggun Gunawan  


Nama
Email
Komentar