HOME WEBTORIAL PROVINSI SUMATERA BARAT


  • Jumat, 28 Juni 2019
Perkampungan Adat Padang Ranah Sijunjung, Berpeluang Jadi Warisan Dunia

Sijunjung (Minangsatu) - Padang Ranah--sebuah jorong dengan 76 rumah gadang yang berderet, terletak di Nagari Sijunjung, Kecamatan Sijunjung--memang memiliki daya tarik nan unik lantaran keaslian lanskap dan arsitektur Minangkabau yang masih terjaga  serta tradisi dan budaya masyarakatnya yang kental nilai-nilai keminangkabauan. 

Adalah sangat tepat, manakala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat (Sumbar) mengusung Padang Ranah sebagai tentatif untuk diusulkan menjadi warisan dunia (world heritage). Sebab, dengan lanskap dan arsitektur yang masih terawat, serta adat dan budaya masih terjaga, Padang Ranah berpeluang jadi warisan dunia. 

Maka, dengan menggandeng Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sijunjung, BPCB Sumbar pun melakukan konservasi kawasan Padang Ranah. Setidaknya sepuluh rumah gadang menjadi sasaran BPCB Sumbar untuk dikonservasi. Hal itu merupakan kepedulian dan program BPCB dalam pelestarian nilai-nilai sejarah budaya.

Bupati Sijunjung, Yuswir Arifin, sangat mengapresiasi kegiatan yang diprakarsai  oleh BPCB Sumbar itu."Semoga kegiatan ini menjadi pembuka jalan untuk kegiatan-kegiatan pelestarian cagar budaya lainnya,” kata Yuswir Arifin, saat membuka kegiatan konservasi rumah gadang itu beberapa waktu lalu. 

Dihadapan Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Ditjenbud Kemdikbud, diwakili Kasubdit Pelestarian R. Widiati, serta para pejabat setempat, camat, walinagari dan ninik mamak serta bundo kanduang dan pemuda, bupati merasa bangga dan mengucapkan terimakasih atas perhatian dari BPCB,  sehingga kawasan Perkampungan Adat Padang Ranah telah masuk dalam daftar tentatif warisan dunia Unesco.

Dikatakan, kawasan perkampungan adat, dengan luas sekira 150 hektar, dan memiliki 76 unit rumah gadang itu, masih mempertahankan aktivitas adat dan budaya,  seperti batoboh kongsi, bakaua adat, mambantai adat, basiriah tando, maanta marapulai, baralek adat dan batagak gala.

Konservasi itu sendiri, kata Kepala BPCB Sumatera Barat, Nurmatias, telah dilaksanakan selama lima hari, dari 20–24 Juni 2019. Kegiatan diawali dengan sosialisasi menghadirkan narasumber Universitas Bung Hatta Dr.Jhony Wongso, Universitas Gajah Mada Dr. Yustinus Suranto dan Balai Konservasi Borobudur, Heni Kusuma Wati.

Lebih detail, Kapokja Dokumentasi dan Publikasi BPCB Sumbar, Rafki. SS, mengatakan program konservasi rumah gadang perkampungan tradisional di Padang Ranah, merupakan tindak lanjut dari program pelestarian nilai-nilai budaya yang ada di wilayah kerja BPCB Sumbar. "Salah satunya melakukan konservasi rumah gadang tradisional di Sijunjung," ujar Rafki.

Katanya, ditetapkannya Jorong Padang Ranah sebagai perkampungan adat, selain penetapan dengan SK pusat, suasana dan kondisi rumah gadang yang ada masih dalam kondisi asli dan masih ditempati. Letaknya saling berhadapan yang dibatasi dengan jalan umum. Selain itu, si pemilik masih menjaga keaslian dan tidak ada bangunan lain di halamannya.

Keaslian itu, sambung Rafki, tidak hanya tampilan rumah gadang saja. Malahan aktivitas kebiasaan adat dan budaya masyarakat masih terjaga, seperti batoboh kongsi, bakaua adat, mambantai adat, basiriah tando, maanta marapulai, baralek adat dan batagak gala.

Sementara itu, Kepala Bagian Humasy dan Protokol Setdakab Sijunjung, Yunani, mengatakan proses pemeliharaan dan pelestarian rumah gadang di kawasan perkampungan adat Padang Ranah merupakan bagian dari Pelestarian Kawasan Budaya, Arsitektur dan Pemukiman Tradisional Minangkabau, Kayu Sebagai Komponen Penyusunan Cagar Budaya dan Konservasi Bangunan Cagar Budaya Bahan Kayu.

"Pemda dan seluruh pihak terkait, terutama masyarakat setempat telah mengikuti sosialisasi," tuturnya. Sehingga, upaya menjadikan Padang Ranah sebagai ikon baru destinasi wisata Sijunjung, apalagi dikaitkan dengan kawasan geopark Silokek, adalah sebuah keniscayaan. 

Untuk pengembangan ke depan, Sekretaris Daerah (Sekda) Sijunjung Zefnihan mengatakan, saat ini tengah dilakukan penyusunan master plan pengembangan perkampungan adat. "Tahun ini kita siapkan master plan lengkap. Juga dialokasikan anggaran untuk pelatihan adat dan budaya, serta pelatihan membangun kewirausahaan untuk mendukung kepariwisataan di sana," ungkap Zefnihan kepada Minangsatu, Jumat (28/6). 

Pihak Pemprov Sumbar pun mendukung sepenuhnya upaya menjadikan Padang Ranah menjadi warisan dunia. "Kita akan fasilitasi sepenuhnya upaya itu," ujar Sekretaris Dinas Pariwisata Sumbar, Taufik Ramadan.


Wartawan : Ing
Editor : boing

Tag :#sijunjung#kampung adat