HOME OPINI OPINI


  • Rabu, 17 Juni 2020
Peringatan Perang Kamang ke 112, Tanpa Berita dan Karangan Bunga
Tugu Peringatan Perang Kamang

Peringatan Perang Kamang ke 112, Tanpa Berita dan Karangan Bunga

Oleh Irwan Setiawan, S.Pd

 

Wahai Haji Manalah ia,
Kami mencari sangatlah payah,
Lah sampai kami ke Kampung Tengah.
(kutipan syair Perang Kamang, karya H. Ahmad Marzuki).

Perang Kamang 1908 adalah peristiwa penting sebagai wujud eksistensi dari perjuangan anak bangsa yang terjajah. Penentangan terhadap kebijakan kolonialis yang menyengsarakan ditanggapi langsung dengan keseriusan, keberanian dan kebulatan tekad. Perwujudan dari semua itu diekspresikan dengan keberanian untuk angkat senjata di medan perang.

Tokoh H. Abdul Manan merupakan sosok penting dalam Perang Kamang 1908. Ketokohannya termasyhur di kalangan masyarakat bahkan diakui oleh pihak penjajah di masa itu. Catatan tertulis sezaman dengan Perang Kamang dibuat oleh H. Ahmad Marzuki (anak H Abdul Manan) bertajuk Nazam Perang Kamang. Selain itu ada juga sumber primer lain dari  koran-koran Belanda terbitan tahun 1908.

Setelah kemerdekaan, usaha penyebarluasan sejarah peristiwa Perang Kamang 1908 serta tokoh H Abdul Manan terus dilakukan. Salah satu buktinya adalah dengan munculnya peristiwa 1908 dalam berbagai tulis ilmiah dan popular. Pada tahun 1940 terbitlah novel yang dibuat dengan setting Perang Kamang 1908. Pementasan sandiwara Kamang 1908 juga pernah ditampilkan di gedung kesenian Jakarta 14 Juni 1962. Chairul Saleh, yang merupakan ketua MPRS dimasa itu ikut memberi sambutan dalam sandiwara berlatar sejarah itu. Karya sastra lainnya adalah Kamang 1908 (drama se babak) karya Taharuddin Hamzah dan Syamsudin Syafei terbitan Tinta Mas tahun 1964.

Berbagai usaha telah dirintis untuk mengangkat nilai-nilai heroic para pejuang Perang Kamang sejak periode sebelum kemerdekaan sampai era kekinian. Namun ternyata jiwa zaman tak selalu berpihak pada kegigihan pejuang yang berimbah darah. Bagaikan kurs mata uang, semangat dan kepedulian terhadap sejarah nagari nan indah ini mengalami fluktuasi naik dan turun. Terkadang semangat itu menggelora, bukan hanya orang kampung seputaran Kamang saja, bahkan pejabat pun turut hadir memperingatinya. Namun masa ini 15 Juni 2020 adalah peringatan Perang Kamang yang paling tak biasa sejauh pengetahuan penulis. Peringatan tahun ini tanpa spanduk, berita dan karangan bunga serta upacara. 

Meski tanpa janji kehadiran pejabat dan tokoh terkemuka namun masih ada harapan dimata anak muda dusun Kampung Tangah, Pakan Sinayan, Kamang Mudiak. Mereka terlihat menancapkan bendera di pelatan Tugu Peringatan Perang Kamang 1908 yang di sanding dengan beberapa marawa. Mereka mencoba mengenang masa-masa dimana darah tertumpah di sekitar fron pertempuran parang basosoh di Kampung Tangah itu dengan caranya yang sederhana namun tetap member makna.

Apa yang terjadi dengan kita??? Apakah semua mulai melupakannya?, ataukah ini adalah dampak lanjutan dari Corona? Semua telisik rasa tentu dipulangkan ke sanubari masing-masing empunya jiwa. Apakah kita mengenang sejarah ini hanya untuk momen dan kepentingan tertentu saja, atau memang menjadikannya sebagai sebuah pelajaran untuk masa depan bangsa. Mari bersama merefleksi diri.   


(Pakan Sinayan, 15 Juni 2020)


Tag :#perangKamang