HOME WEBTORIAL PROVINSI SUMATERA BARAT


  • Kamis, 28 Februari 2019
Pengembangan Wisata Alam Sumbar Melalui KEK
Objek Wisata Mandeh

Padang (Minangsatu) – Ranah Minang memang elok rupawan. Semua keindahan panorama alam tersedia lengkap di Sumatera Barat (Sumbar). Mulai dari laut dan pantai-pantai berpasir putih serta pulau-pulau yang eksotis, sejumlah danau yang cantik, serta dataran tinggi dan pegunungan dengan sungai-sungai dan jeram-jeram melengkapi kemolekan Sumbar. 

Namun, keindahan panorama alam saja belumlah cukup untuk membuat wisata alam di daerah ini diminati para pelancong. Perlu upaya serius untuk melengkapi sarana dan prasarana pendukung, sehingga panorama yang indah nian itu menjadi tempat yang menggiurkan untuk dikunjungi dan berdiam berhari-hari di situ. 

Tetapi, keterbatasan anggaran, memaksa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar dan pemerintah kabupaten/kota untuk mencari cara buat mendanai kawasan panorama alam tersebut menjadi destinasi dengan fasilitas berbintang. “Salah satu caranya adalah dengan mendorong kawasan itu menjadi kawasan ekonomi khusus atau KEK,” ujar Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Sumbar, Doni Hendra. 

??????

Kepada Minangsatu, Kamis (28/2), Doni Hendra mengatakan bahwa ada dua KEK yang direncanakan. Yakni KEK Mandeh di Pesisir Selatan (Pessel) dan KEK Mentawai. “Kalau untuk Mentawai, KEK nya sudah sampai usulan pak gubernur ke pusat lewat Dewan KEK Nasional, koordinatornya Kemenko Ekonomi. Usulan itu sudah disampaikan pada bulan Juli 2018,  sekarang menunggu rekomendasi dari tim tersebut lagi,” tutur Doni Hendra. 

Untuk KEK Mentawai, saat ini tengah diselesaikan urusan pembebasan tanah, sekaligus melakukan edukasi pada masyarakat. “Untuk pembebasan lahan, menjadi syarat utama dalam pengajuan ke Dewan KEK Nasional, dengan adanya bukti dari BPN oleh pihak ketiga yang akan mengolah KEK tersebut,” katanya. 

Sementara untuk mengedukasi masyarakat, diharapkan pemerintah setempat proaktif melakukannya. “Kalau edukasi masyarakat ini dipercayakan kepada pemda setempat untuk mengedukasi dan mensosialisasikan mengenai KEK itu sendiri,” ujarnya. 

Sedangkan untuk KEK Mandeh, tepatnya di Bukik Ameh, kata Doni Hendra saat ini kawasan seluas 400 hektare itu sudah ada investornya. “Dan sudah melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan Bupati Pessel,” ujarnya. 

Progres upaya mewujudkan KEK Mandeh memang relatif lebih cepat. Selain kawasan ini memang digagas lebih awal dibandingkan KEK Mentawai, mobilitas menuju lokasi juga relatif lebih gampang. Apalagi sejak beberapa tahun terakhir dilaksanakan pelebaran jalan menuju kawasan Mandeh. 


Dukungan para penggiat wisata pun cukup membantu, sehingga kawasan Mandeh saat ini terkelola dengan baik. Bahkan, beberapa hari lagi, tepatnya Minggu (3/3), akan digelar lomba lari BRI-Mandeh Run, sebagai upaya memopulerkan kawasan Mandeh ke pentas dunia. 

Menteri Pariwisata Arief Yahya, menurut inisiator BRI-Mandeh Run Andrinof A Chaniago, dipastikan akan hadir di Mandeh saat lomba lari yang akan diikuti ribuan pelari, serta sejumlah artis ibukota pun bakal ikut meramaikan. 

Dengan sudah dipastikan ada investor yang melirik KEK Mandeh, maka dalam waktu dekat tentu akan dilakukan pembangunan dengan investasi yang tidak sedikit. Dipastikan dampak terhadap keberadaan KEK itu sendiri, bahkan sudah dimulai ketika pelaksanaan pembangunannya. 

Apabila KEK itu sudah terwujud, imbuh Doni Hendra, maka ada beberapa keuntungan yang diperoleh. Yakni peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus), sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi di sekitar KEK. 

“Tentu tenaga kerjanya juga akan terserap, jadi pemda kab harus mengikat investor untuk mengutamakan penduduk sekitar,” imbaunya sambil memastikan apabila KEK tersebut dibangun, maka infrastrukur akan menjadi perhatian utama dari pemerintah pusat untuk memperbaikinya. (sc)


Wartawan : boing
Editor : boing

Tag :#kawasan ekonomi khusus#Sumatera Barat