HOME EKONOMI KOTA PAYAKUMBUH

  • 18-December-2018
  •  
  • 22:08:23
  •  

Pasokan Kakao 10.000 Ton Perbulan ke Batam Masih Kurang

Fikri Amir di kebun kakao miliknya

PAYAKUMBUH,(Minangsatu)-Kebutuhan komoditi Kakao (Coklat) kota Batam belum sepenuhnya mampu dijawab oleh petani Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Kondisi ini menyiratkan rendahnya produksi Kakao yang dihasilkan dari kedua daerah bertetangga tersebut. Paralel, para petani bahkan terkesan masih kurang gesit membenahi tanaman kakaonya, baik dalam pemupukan, pemangkasan, dan pembersihan. Termasuk  untuk program pengembangan kebun kakao baru.

Sejauh ini, pasokan kakao untuk daerah Batam kini dilakukan oleh petani Pariaman dan Kabupaten Pasaman. Petani kedua daerah ini cukup gencar dalam memenuhi kebutuhan kakao daerah tersebut.

“Kalau pemeliharaan, pemupukan, dan pemangkasan belum teratur tentu hasil kebun  tidak akan meningkat. Apalagi petani kita kurang gencar pula melakukan penanaman tanaman kako yang baru,”  kata Ir. H.Fikri  Amir, ketua Himpunan Petani Kakao Indonesia (Hipkimdo) asal Gando Piobang, Kabupaten Limapuluh Kota  dalam percakapan dengan Minangsatu,  Selasa ( 18/12 ) di Kedai Minum Ani Payakumbuh.

Menurut Fikri Amir,  untuk  menambah banyak pengetahuan petani kakao, maka perlu ada penyuluhan untuk para petani.Politani Payakumbuh yang memiliki sumber daya manusia di bidang pertanian bisa melakukan penyuluhan tentang spesialisasi tanaman kakao.

Pemasaran kakao, lanjut Fikri, cukup bagus. Baik untuk skala nasional maupun internasional. Namun, sayangnya, permintaan pasar tersebut belum terpenuhi dengan maksimal oleh petani. Bahkan, untuk pasar  daerah Batam saja sebanyak 10.000 ton perbulan belum bisa dipenuhi. " Karena itu petani dari Pasaman dan Pariaman yang kemudian memenuhi permintaan pasar di Batam Kepuluan Riau," ulasnya .
Menurut, saat ini pemasaran kakao tak perlu lagi diragukan. Dari hasil kakao atau coklat merupakan baham baku produksi aneka makanan dan minuman di berbagai Negara.
 
Saat ini, produksi  biji kakao atau coklat asal Kebun Bibit  Gando Piobang Limapuluh Kota, Sumatera Barat  lebih kurang 2 H, sudah ribuan biji bibit dikirimkan ke Makasar Sulawesi Selatan dan dan berberapa  daerah lain.

Fikri Amir, yang juga Koordinator Wilayah ( Korwil ) Sumbar PPBTPI (Perkumpulan Penangkalan Benih Tanam Perkebunan Indonesia) ini menjelaskan, ada dana Rp 3 triliun untuk tanaman kakao dari Kementerian Pertanian RI yang disalurkan melalui APBN. Namun sayangnya petani di Sumatera Barat belum banyak yang memanfaatkan dana tersebut.

“Karena itu, para petani kita harus pro aktif memanfaatkan dana tersebut melalui dinas pertanian Sumatera Barat,” imbuh  putra almarhum  H. Amir Ali,  mantan Kakanwil Dinas Pendidikan Sumatera Barat ini. 

Ia menjelaskan, masalah bibit yang khawatir kekurangan pupuk, tidak perlu dirisaukan karena pupuk di daerah kita  berlimpah,  seperti Kebun Bibit kita di Gando Piobang Limapuluh Kota serta pupuk kandang dari peternak  ternak." Kita  memiliki ribuan ekor  ternak petani serta BPTU- HPT ( Balai Pembibitan Ternak Unggul – Hujaun Pakan Ternak ) Padang Mengateh  masih belum termanfaatkan  maksimal,” tambahnya.

Ditempat terpisah, Ir. Denny Sorel salah seorang dosen yang juga mantan Direktur Poli Teknik Pertanian Payakumbuh  ketika ditanya tentang semangat petani daerah ini, mengakui semangat petani memang agak kurang dan hanya banyak memelihara kebun kakao lama. “Semangat petani kita sangat kurang, ini perlu dipupuk melalui penyuluhan dan pelatihan, hingga dengan nanti mulai membuka lahan baru didaerah ini, dan kami siap memberikan peran pada petani kata Denny Sorel dosen mengaku seangkatan dengan  Fikri Amir ini bersemangat.  

 (Fegi AP)


Tag :Payakumbuh#petani#kakao  


Nama
Email
Komentar