HOME OPINI PROVINSI SUMATERA BARAT

  • 21-December-2018
  •  
  • 17:12:16
  •  

Orang Pintar, Pilih Gagasan

Taufik Effendi

Bagaimana situasi rakyat badarai terkait pilpres saat ini? Jawabannya ada di media sosial (medsos)! Lho, kok?

Iya. Representasi keberpihakan pada 01 atau 02, mudah dilihat di medsos. Di facebook (fb), fenomena keberpihakan itu malah lebih fulgar. Ada yang main caci maki. Segudang carut marut berhamburan, manakala calon yang didukungnya dijelek-jelekkan oleh pendukung calon sebelah.

Hal yang sama juga mudah dilihat di grup-grup whatsapp (WA). Debat tak berujung dan bakuhampeh argumen, tak terlerai oleh admin sekalipun. Hingga larut malam dua kubu itu menghabiskan energi untuk sesuatu yang akan datang. 

Saking sengitnya debat di WA. Ada yang tak tahan. Mungkin pendukung seberang lebih banyak di grup itu, dia pun cigin (keluar, left) dari grup. 

Apapun itu, seharusnya tak masalah. Tak perlu harus cigin segala. Namanya juga menyalurkan aspirasi. Bebas bung!

Kalau dipikir-pikir, masih untung mereka berdebat di linimasa. Coba kalau di dunia offline perdebatan dilakukan, bisa diduga akan ada yang babak belur. 

Membaca perdebatan itu, ngeri-ngeri sedap juga. Kadang-kadang bikin geli karena banyak yang lebay. 

Menganalisa debat pendukung capres di dunia maya, sesungguhnya adalah membaca pola pikir mereka. Dari situ bisa diketahui, begitulah kebanyakan dari kita. 

Bagaimana gambaran dari kebanyakan kita itu? Penggambaran klasifikasi pola pikir agak bersesuaian dengan petuah Eleanor Roosevelt; Orang hebat berbicara tentang ide-ide, orang biasa berbicara tentang kejadian sekitar, dan orang kecil berbicara tentang orang lain. 

Nah, dari kata kata motivasi dari Eleanor Roosevelt itu, jika ditelisik isi dari isu-isu yang diperdebatkan, sepertinya bisa pula dilakukan tiga pengelompokan. Ada tiga tingkat isi dan substansi debat. 

Pertama, yang suka memperdebatkan gosip, sekerat hoax atau hoax sebenarnya. Isu yang mereka pertengkarkan adalah soal remeh temeh saja. Tentang teledor melangkahi kuburan. Atau mengenai kemilenialan sang capres. Kita membicarakan orang.

Kedua, mereka yang memperdebatkan peristiwa. Bagaimana capres anu bersikap di acara anu. Ketika pada peringatan Hari Kemerdekaan dua tahun terakhir, semua orang pakai adat suku masing-masing, beberapa lama isu itu jadi viral. Kita membicarakan peristiwa. 

Yang ketiga, mereka yang memperdebatkan ide. Gagasan. Konsep. 

Bagaimana gagasan untuk memakmurkan bangsa ini? Bagaimana gagasan pembangunan ekonomi di tengah jerat hutang yang seabreg? Bagaimana mendorong ekspor, lebih tinggi dari import. Menghindari devisit perdagangan. 

Bagaimana pembangunan dari Sabang hingga Merauke dilakukan. Merata secara proporsional. 

Seperti apa konsep kebudayaan? Akankah kebudayaan jadi pondasi pembangunan? Atau hanya menjadi sektor saja, dari prioritas sektor-sektor yang ada. 

Adakah ada yang berdebat memperkarakan gagasan? Yang banyak terjadi justru pada level pertama, serta sedikit pada tingakt kedua. 

Agaknya hukum mayoritas sedang memainkan perannya. Sehingga dunia maya pun justru menggiring kita ke level satu. 

Mengikut itu, media konvensional pun nyaris seragam. Pernah seorang pakar berbicara di televisi dengan berang; kenapa hanya membicarakan hal yang remeh temeh?

Kembali ke soal debat di linimasa. Ada teman bahkan membuat "teori" baru. Katanya, ada beberapa hal yang mustahil untuk dikerjakan. Dan melarang kicauan netizen buat mendukung calon masing-masing, dengan ekspresi se lebay apapun, adalah pekerjaan mustahil!


Tag :Opini  


Nama
Email
Komentar