HOME OPINI OPINI

  • Kamis, 20 Desember 2018
Niat Hati Menaati KEJ, Apa Daya Bunga Diperkosa
OpiniTE

Niat Hati Menaati KEJ, Apa Daya Bunga yang Diperkosa

 

Saya jadi murid. Tiga hari lamanya. Jadi murid di UKW. Uji Kompetensi Wartawan (UKW), itu nama acaranya.

 

Adalah Mawardi, bos Media Rakyat grup, tokoh pers penyandang level Wartawan Utama ini, bekerjasama dengan Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), yang menjadi tuan rumah UKW itu. Sudah dua kali ia menjadi tungganai UKW. Yang pertama pada April 2018 lalu.

 

Di Asrama Haji Batam, bersama rekan-rekan wartawan lainnya--paling banyak dari Batam dan daerah lainnya di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), tiga orang dari Ambon dan Aceh--pada 17-19 Desember 2018, kami bersitungkin untuk bisa lolos pada jenjang kompetensi yang diikuti.

 

Namanya saja ujian, tentu harus serius. Fokus. Bersitungkin supaya pulang-pulang membawa kompetensi.

 

Senin, lancar. Karena hari pertama itu adalah pembekalan. Refresh. Saya suka ada pembekalan, karena bisa memanggil memori lama tentang berbagai teori jurnalistik.

 

Selasa, hari kedua, sedikit tersendat, tetapi masih lancar. Maklum sudah mulai ujian. Hingga malam, enam mata uji dilalui.

 

Nah, pada Rabu (19/12), hari ketiga, muncul problem. Pagi-pagi, pada sesi pertama, saya disentil penguji dalam mata uji Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Penguji saya, wartawati senior dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Maria D Andriana namanya, menuduh saya melecehkan seorang perempuan bernama Bunga.

 

Apa pasal? Rupanya, selama ini saya ternyata sudah melakukan pencemaran nama baik terhadap para wanita yang bernama Bunga! Kebiasaan saya menulis berita dengan menyamarkan identitas perempuan korban pidana kekerasan seksual, dengan "anggap saja namanya Bunga" sebenarnya justru berpotensi melukai perasaan para wanita bernama Bunga!

 

"Jangan! Kasihan para wanita bernama Bunga. Tiap hari "diperkosa". Bisa-bisa mereka menuntut," ujar Maria menyentil jawaban saya perihal salah satu contoh penerapan KEJ dalam pemberitaan. Ia menganjurkan untuk mengganti Bunga dengandengan kalimat “seorang gadis, berumur sekian tahun, bla...bla...bla.

 

Saya terperangah, jengah. Malu dan sadar, betapa selama ini sudah salah kaprah. Niat hati hendak patuh menerapkan KEJ, kenapa pula Bunga yang diperkosa! Wadduhhh.

 

Saya duga, banyak wartawan lain juga mempraktikkan "pemekosaan Bunga" ini. Nyaris tiap pekan. Hehehe.

 

Tetapi saya lulus mata uji KEJ. Perkara "perkosaan Bunga" kiranya dimaafkan bu Maria. Alhamdulillah.

 

Ternyata, peserta lain dengan penguji lain, ketika saya tanya tentang menyembunyikan identitas korban perkosaan itu, jawabannya juga sama dengan saya. Rupanya hari itu, kami ramai-ramai "memperkosa Bunga".

 

Kembali ke soal UKW. Ada lima orang penguji dari LPDS yang ditugaskan ke Batam. Mereka adalah wartawan senior yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik. Lekat tangan mereka sudah tidak diragukan lagi.

 

Siapa yang tidak kenal dengan Ahmad Djauhar, Wakil Ketua Dewan Pers yang pensiun dari Pemimpin Redaksi koran Bisnis Indonesia? Dari koran yang sama dengan Djauhar, ada Lahyanto Nadie, lelaki bertampang serius, tapi cukup kocak ketika tampil di depan kelas.

 

Tiga orang penguji lainnya adalah wartawan senior Antara.

 

Mereka adalah Priyambodo RH, pria berkumis yang elok hati, pernah tiga tahun menetap di Bukittinggi mengikuti orang tuanya yang tentara. Lalu AA Ariwibowo, lelaki yang diceritakan sebagai penyuka olahraga bolakaki ini suka memanggil peserta dengan sebutan keren, bro!

 

Dan yang paling cantik dari lima penguji, adalah wartawati penyuka literasi, Maria D Andriana. Dari Sumba, wanita yang punya pengalaman jurnalistik seabreg itu, tiba di Batam untuk menaburkan bibit bernas ilmu jurnalistik.

 

Oya, ada seorang lelaki lagi. Paling muda, murah senyum, dan jago di bidang hukum pers. Hendrayana, itu namanya, adalah Direktur Eksekutif LPDS, sehari-hari juga menyediakan waktunya untuk beracara di pengadilan sebagai lawyer yang fokus pada kasus-kasus tentang pers.

 

Namanya saja jadi murid, wajib hukumnya harus menghormati guru. Dalam rangka penghormatan itu pula, saya yang mengaku murid mereka, menuliskan secuil eksistensi beliau-beliau itu. Dan saya yakin, potensi dan pengalaman beliau, jauh lebih banyak dari apa yang bisa diceritakan di atas kertas.

 

Lalu, saya pun menyelesaikan sembilan mata uji itu dengan sukses.

 

Sembilan mata uji itu adalah Simulasi Rapat Redaksi (Perencanaan), Rencana Liputan, Bahan Liputan Layak Siar, Liputan Investigasi, Menulis Tajuk, Kebijakan Rubrikasi, Jejaring (Networking), KEJ, dan Simulasi Rapat Redaksi (Evaluasi)

 

Sukses? Iya, karena berhasil melalui fase gemetaran selama diuji. Ada beberapa teman yang mengaku bahkan jadi susah tidur selama dua malam itu. Sebagian yang lain naik tensi. Sementara saya, gemetaran dan ketar-ketir lantaran malu jika gagal.

 

Asal tahu saja, jenjang UKW itu ada tiga. Yakni jenjang muda, madya dan utama. Utama adalah jenjang tertinggi. Tiap jenjang harus dilalui melalui UKW. Anda harus mulai dari level muda dulu, kemudian madya, baru boleh mencoba nasib ke utama.

 

Tetapi, saat UKW 2013, saya langsung diperintah Pemimpin Redaksi Singgalang ikut di jenjang madya. (Saya wartawan Singgalang kala itu, hingga sekarang, dan merintis media online Minangsatu.com ini sejak tiga tahun lalu). Mulai 2019, penjenjangan akan diberlakukan lebih ketat lagi.

 

Apakah semua peserta lulus? Saya tidak tahu. Memang tidak ada pengumuman, apalagi pemeringkatan.

 

Setiap peserta berhadapan dengan penguji masing-masing. Tiap mata uji langsung dinilai. Tiap nilai langsung dibahas berdua oleh penguji dan peserta. Boleh setuju, boleh tidak setuju. Kemudian tandatangani.

 

Kelululusan ditentukan oleh nilai tiap mata uji. Nilai 70 atau lebih, lulus atau kompeten. Jika kurang dari 70, anda belum kompeten. Seorang wartawan dinyatakan kompeten bila nilai tiap-tiap mata uji 70 atau lebih.

 

Alhamdulillah, saya lulus, dengan rerata nilai di atas 80. Cukup pantas untuk membayar gemetaran dan ketar-ketir. Tetapi, bukan kelulusan itu yang menjadi inti. “Apakah sertifikat kompetensi penting? Lebih penting lagi bagaimana perwujudan kompetensi itu pada media anda,” tutur Lahyanto Nadie saat penutupan UKW.

 

Petuah pamungkas juga disampaikan Priyambodo. Katanya,”untuk tetap kompeten, teman-teman harus terus membaca. Banyak membaca. Jika tidak ada buku, minta ke saya. Dengan senang hati akan saya kirim e-book. Gratis!”

 

Begitulah, rupanya tidak mudah buat jadi wartawan? "Emang gampang jadi wartawan, bro," kata Ariwibowo di depan kelas menyemangati para peserta yang stres.

 

Buat saya, menyandang prediket Wartawan Utama, justru beban berat. Lantaran harus segera membuktikan eksistensi Minangsatu.com, media tempat saya bekerja, lebih dari sebelumnya. Agaknya, UKW adalah jalan buat meneguhkan jatidiri Minangsatu.com untuk menjadi Minangkabau, segalanya!


Tag :teTAJUK