HOME OPINI OPINI


  • Minggu, 14 April 2019
Membeo
Muhammad Nazri Janra

Mambeo

Oleh: Muhammad Nazri Janra (Dosen Jurusan Biologi, Universitas Andalas)

‘Mambeo’ atau membeo, merupakan bentuk kata kerja yang berasal dari kata benda ‘beo.’ Kata beo ini sendiri berasal dari penyebutan untuk sejenis burung, yang berasal dari keluarga Sturnidae (jalak-jalakan). Burung ini mempunyai tubuh dengan bulu yang berwarna hitam mengkilat serta gelambir berwarna kuning terang di sekitar kepala dan wajahnya. Burung bernama latin Gracula religiosa Linnaeus 1758 ini tersebar di Asia Tenggara dan Asia Selatan (India dan sekitarnya). Indonesia sendiri beruntung menjadi daerah penyebaran tiga anak jenis dari burung ini, dimana khusus di Sumatera satu anak jenisnya Gracula religiosa batuensis terdapat di Kepulauan Mentawai. 

Tidak ada yang aneh dengan burung beo ketika dia berada di habitat alamiahnya. Burung ini, sama dengan burung-burung hutan lainnya, mengeluarkan suara nyanyian di waktu pagi dan sore hari saat mereka aktif mencari makan. Suara siulannya yang panjang dan lantang, kadang berupa suara cegukan keras, sering terdengar dari puncak-puncak pepohonan.

Yang kemudian terasa aneh adalah ketika burung ini ditangkap dan dipelihara oleh manusia. Burung ini memang menjadi salah satu primadona burung sangkar, sehingga banyak sekali yang dipikat dan dijerat dari alam untuk kemudian diperjualbelikan kepada yang berminat. Saat burung mentah, istilah bagi burung yang baru saja ditangkap dari alam, tiba di dalam sangkar pemeliharanya biasanya dia akan memulai suatu proses belajar dengan ‘mendengarkan’ suara sekelilingnya. Sehingga, suara yang sering terdengar berulang di sekitarnya atau suara dengan ‘cengkok’ yang khas, akan direkam di dalam ingatannya untuk kemudian diulangi seketika dia suka.

Hal ini dikatakan aneh, karena sejauh penelitian yang telah dilakukan oleh manusia terhadap burung ini di lingkungan aslinya, tidak sekalipun mereka melakukan peniruan suara-suara dari burung lain yang juga menghuni lingkungan yang sama. Tapi ketika mereka sudah berada di lingkungan manusia, suara manusia-lah yang paling banyak mereka tiru.

Belum ada yang bisa memastikan kenapa hal ini terjadi. Kemungkinan-kemungkinan lalu diasumsikan oleh manusia. Bisa jadi burung ini lebih banyak mengingat ucapan dan perkataan manusia disebabkan oleh tekanan (stress) yang diberikan oleh manusia tadi. Karena mengetahui kemampuan burung ini, maka manusia sering mengulang berkata-kata di dekat mereka, dengan tujuan untuk mengajarkan si burung berkata-kata. Bisa jadi pula, stress akibat perubahan habitat dari alam bebas ke sangkar yang terbatas membuat mereka sangat sensitif dan ini diwujudkan dalam bentuk peniruan suara-suara yang mereka dengarkan selama masa-masa rentan tersebut.

Yang jelas, si beo tidak mengerti dengan apa yang dia hafal dan kemudian diulang-ulanginya tersebut. Dia hanya tahu kalau kata-kata yang dia ucapkan tersebut berdasarkan keakrabannya dengan bunyi ucapannya, bukan karena dia memilih kata tadi dengan suatu tujuan khusus. Tidak heran, jika kata-kata makian, carutan, atau cacian yang sering terdengar, itu pula yang akan dia ulangi tanpa merasa bersalah. Kecuali tentu sang pemilik yang akan merasa malu, sebab khalayak pendengar yang akan bersyak wasangka kalau kata-kata tak pantas tadi memang telah lazim diperdengarkan di rumah sang pemilik.

Orang-orang barat pun mempunyai perumpaan yang kurang lebih sama dengan ‘mambeo’ tadi. Cuma karena mereka tidak ada punya burung beo di daerahnya, sehingga yang disalahkan di sini adalah burung kakatua atau parrot. Jadilah istilah mambeo tadi disebut ‘parroting’ oleh orang di barat sana.  Sama halnya dengan si burung beo, burung kakatua ini juga mempunyai kecenderungan yang sama untuk berujar ucapan manusia walaupun tak mengerti dengan apa maksudnya. Sehingga ‘parroting’ tadi juga diartikan mengucapkan sesuatu hanya dengan mengikuti bunyinya saja tanpa perlu mengerti apa maksudnya. Parroting sering ditujukan pada anak-anak yang belajar bicara dengan meniru kepada orang tua atau keluarga yang ada di dekatnya.

Mambeo telah lama dipakai di Minangkabau seiring dengan perkenalan masyarakatnya dengan tingkah laku burung beo yang dipelihara di dalam sangkar. Karena mereka paham bahwa beo tidak mengerti kata-kata manusia yang ditirunya tadilah, maka istilah ini kemudian dialamatkan kepada orang yang gemar meniru-niru perkataan orang lain. Lebih sering istilah ini ditekankan sebagai sindiran dan bukan pujian, untuk menegur seseorang dengan kegemaran mengulang-ulang tersebut.

Mambeo pun telah berkembang, bukan hanya lagi untuk yang mengulang-ulang ucapan seseorang, tapi juga perbuatan dan tingkah laku. Tetap dengan asumsi dasar bahwa si peniru tingkah laku tidak mempunyai pengertian tentang apa yang dia tiru. Bahwasanya tindak peniruan itu dilakukan berdasarkan rasa suka terhadap tingkah laku atau orang yang ditiru.

Mambeo dalam skala besar bisa jadi menimbulkan kerugian yang tidak kecil. Kesukaan untuk mengkonsumsi produk-produk luar negeri, dengan embel-embel ‘keren’ akan merugikan banyak pengusaha produk yang sama yang berasal dari dalam negeri. Mambeo dengan kebudayaan asing, terutama kebudayaan barat, yang banyak tidak sesuai dengan kebudayaan asli kita juga menimbulkan ancaman laten terhadap cara bertingkah laku dan berbudaya kaum muda kita di jaman sekarang.

Mambeo di dalam struktur keorganisasian melemahkan organisasi itu sendiri dari dalam. Pemimpin dengan bawahan yang bermental ‘asal bapak senang’ sukar menemukan kelemahannya di dalam setiap keputusan menyangkut organisasi yang dikeluarkannya. Pun juga pemimpin, politikus serta aparat negara yang hanya mengamini setiap kebijakan kenegaraan tanpa melakukan kajian yang mendalam serta uji ‘fit and properness’ akan cenderung menimbulkan keresahan secara massif.

Dalam hal ini, sebaiknya mambeo harus dihindari. Biarlah beo tetap berada di dalam sangkarnya. Atau lebih lagi kalau beo tersebut dibiarkan berada di alamnya di hutan-hutan primer pedalaman sana. Usahlah dibawa-bawa dalam melakukan hajat kehidupan orang banyak.


Tag :opiniMuhammadNazriJanra