HOME OPINI DIDAKTIKA

  • Senin, 2 November 2020
Manajemen Kedisiplinan Siswa, Agar Menjadi Guru yang Dirindu di Masa Pandemi
Yudesra, S.Pd

Manajemen Kedisiplinan Siswa, Agar Menjadi Guru yang Dirindu di Masa Pandemi

Oleh Yudesra, S. Pd
(Guru SMK Negeri 1 Sungai Rumbai, Mahasiswa Pasca Sarjana Manajemen Pendidikan Islam IAIN Batusangkar)

Hampir setahun bangsa kita dihantui pandemi Covid-19 yang masih belum bisa dikendalikan. Setiap  hari media massa, mulai cetak sampai media elektronik, memberitakan korban yang terinfeksi virus ini. Baik penambahan kasus positif, yang berhasil sembuh maupun yang meninggal dunia. Covid-19 memang belum ditemukan obatnya, namun bisa dicegah dengan selalu menerapkan protokol kesehatan, selalu mencuci tangan, memakai masker, serta menjaga jarak. Namun semua itu tidak akan berhasil tanpa kedisiplinan.

Kedisiplinan merupakan salah satu dari delapan belas karakter yang terus diupayakan penumbuhannya oleh pemerintah. Mengapa kedisiplinan begitu penting? Lickona (2015)  memandang bahwa kedisiplinan termasuk ranah pendidikan moral dan bagian dari pendidikan anak-anak. Lebih lanjut dikatakan bahwa masalah moral semakin memprihatinkan dan meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari kebrutalan dan tindakan keji yang dilakukan remaja. Karena itulah, sekolah sekolah dituntut untuk tetap mengedepankan pendidikan karakter melalui kedisiplinan yang aplikatif.

Kedisiplinan berkaitan dengan pengaturan diri. Schunk (2012) mengatakan pengaturan diri mengacu pada proses yang digunakan siswa secara sistematis untuk memfokuskan pikiran, perasaan, dan tindakan pada pencapaian tujuan. Aplikasi dari pengaturan diri terlihat dari bagaimana siswa dapat mengontrol diri untuk disiplin baik di rumah maupun di sekolah.

Dari hasil penelitiannya, Sutrisno (2019) menegaskan bahwa perilaku tidak disiplin siswa ditunjukkan oleh perilaku mereka sehari-hari di sekolah, seperti membolos, datang terlambat, melalaikan tugas, catatan pelajaran tidak lengkap, tidak berseragam lengkap, malas mengikuti pelajaran, acuh tak acuh pada waktu pelajaran, merokok, tidak sopan, memengaruhi teman untuk melanggar disiplin, nongkrong di warung dekat sekolah, dan bertindak hiperaktif di kelas. Siswa ini mengetahui bahwa bila tidak disiplin akan ada sanksi, tetapi mereka tetap tidak disiplin karena tidak dapat mengontrol diri. 
Masih dalam penelitian yang sama, ada juga subjek penelitian yang pendiam dan selalu bersikap sopan terhadap guru, tetapi kenyataannya sering melakukan pelanggaran disiplin di sekolah. 

Pada masa pandemik ini, guru, siswa, dan orang tua memiliki peran tersendiri guna menjalankan aktifitas pendidikan. Aktifitas tersebut terbagi ke dalam empat kuadran. 

Kuadran  pertama Orang tua. Dalam hal ini orang tua berperan sebagai guru, yang membantu anaknya di rumah dalam pelaksanaan pembelajaran, adanya komunikasi yang intensif antara orang tua dan anak, Orang tua berinteraksi dengan guru untuk mengklarifikasi tagas anak, Orangtua memberikan nilai tambah pada anak dalam bentuk pendidkan karakter.

Kuadran kedua Siswa. Dalam hal ini siswa melaksanakan pembelajaran secara mandiri, Siswa berusaha keras untuk menunaikan tugas dan kewajiban yang di berikan guru. Siswa lebih bebas berkreasi dan berimajinasi dari tugas yang di berikan guru. Siswa terbiasa mengelola waktu secara mandiri.

Kuadran ketiga  Guru. Dalam hal ini guru mengkonfirmasi kemajuan siswa lewat media sosial, Guru memberikan materi yang lebih urgen sebagai bekal bagi siswa, Guru berusaha keras untuk beradaptasi dengan teknologi yang selama ini di pandang sebelah mata, Guru memutar otak untuk membangun suasana  keterikatan maksimun dengan siswa. Guru mengembangkan dirinya. Guru aktif mencari sumber belajar. Guru semakin terbuka fikirannya terhadap kemudahan teknologi.

Kuadran keempat  Masyarakat. Dalam hal ini masyarakat menyediakan platform belajar untuk situasi tidak normal saat ini. Konten edukasi berkualitas terbuka bebas, platform teknologi juga terbuka luas.

Pada masa pandemic  kita di tuntut untuk melakukan blended learning atau pembelajaran yang menggunakan metode campuran. Dengan adanya teknologi kita menjadi tahu lebih banyak. Berkaitan dengan hal itu tedapat 5 langkah strategis atau perencanaan yang harus di lakukan sekolah pasca pandemic covid-19.

Pertama, lakukan peninjauan kembali terhadap pembelajaran yang ingin di capai, agar secara rsional selaras dengan situasi dan kondiasi baru dalam new normal.

Kedua, Identifikasi sumber daya yang perlu di miliki dan di adakan, agar tujuan baru yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan kertersediaan sumber daya yang ada. 

Ketiga, Petakan situasi dan kondisi masing-masing guru dan siswa yang harus bersiap-siap melakukan model pembelajaran baru, berbasis blendid learning yang sudah dirancang. 

Keempat, Kajilah gap antara kebutuhan dan ketersediaan untuk menyusun langkah-langkah straegis dan operasional yang perlu disegerakan untuk menjembataninya. 

Kelima, Eksekusi langah –langkah tersebut secara kreatif dan inivatif dengan menjalin berbagai kemitraan  dengan pihak eksternal yang peduli mengenai pendidikan. 

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal merespon situasi ini dengan cepat. Sekolah mengantisipasi agar virus ini tidak menyebar dengan mengubah pola pembelajaran tatap muka, baik dengan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring (online) dan Luring. Meskipun demikian, sekolah harus mengacu pada kurikulum nasional yang digunakan. 
Kesiapan siswa dan guru dalam mengahadapi dan memanfaatkan technology pembelajaran relative baik, dan terus meningkat kualiatasnya. Sebagai alternatifnya, salah satu sarana yang dapat saya manfaatkan adalah dengan menggunakan gadget atau phone cell . Atas dasar semua inilah gadget atau phone cell  sangat potensial sebagai sarana pembelajaran. Menggunakan gadget atau phone cell  sebagai sarana pembelajaran pada mata pelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan beberapa aplikasi antara lain, WhatsApp, Google Classroom, Google Form, dan Google Drive, Edmodo, Telegram, zoom meeting, Quizzes, Khood dan Group FB. Jika aplikasi tersebut tidak tersedia, siswa minta untuk mengunduhnya di playstore. Aplikasi WhatsApp dan Google Classroom google meet, dan lain sebagainya saya pergunakan sebagai pengganti kelas dan membentuk grup kelas. 

Secara tegas hal ini telah disampaikan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 22 tahun 2016. Pada Bab 1 Permendikbud itu disebutkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Berdasarkan hal ini penggunaan gadget atau phone cell  dalam pembelajaran merupakan alternatif yang patut dilaksanakan. Dalam pelaksanaannya guru harus berpegang pada konsep pendidikan. 
***
Di era Merdeka Belajar, guru harus bisa menjadi sosok pendidik yang dirindukan siswanya. Guru yang dirindukan, tidak hanya materi pelajaran yang antusias diterima siswa, hal-hal positif yang berkaitan pembentukan karakter pun akan diteladani oleh siswa. Guru berada di posisi terdepan dalam mendidik generasi masa depan. Bentuk kompetensi dan karakter masyarakat di masa depan, merupakan hasil guru mendidik di masa sekarang. Begitu juga sebaliknya kita sekarangini adalah produk dari guru masa lalu.
Karenanya, sosok guru dituntut memiliki kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian. Selain kompetensi tersebut, sebenarnya ada satu hal penting dan sarat makna, namun seringkali terlupa oleh guru. Apa itu? Di era Merdeka Belajar, guru harus bisa menjadi sosok pendidik yang dirindukan siswanya. Guru harus berusaha memaksimalkan potensi yang dimiliki siswa. Sehingga sampai saat ini saya masih berusaha meningkatkan IT saya, walaupun di usia yang sudah hamper 50 tahun ini. 

Seorang guru harus tahu kiat menjadi guru yang dirindukan, beberapa di antaranya adalah: Kuasai materi pelajaran, Memang guru bukanlah satu-satunya sumber belajar siswa. Mereka bisa belajar dari buku, internet, atau sumber lain yang relevan. Hanya bila guru tidak menguasai materi pelajaran, guru tidak akan maksimal membantu siswa jika tidak menguasai materi pelajaran.
Mengajar dengan cara berbeda, Ini penting sekali untuk membuat siswa termotivasi dalam belajar. Lakukan cara yang selalu berbeda setiap mengajar di kelas. Minimal seminggu sekali, ajak siswa belajar di luar kelas. Kami juga sering belajar dan berdiskusi di gazebo sekolah, dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Berikan situasi yang menyenagkan  agar siswa merasa tidak terbebani dengan materi-materi yang ada. Buat mereka menyukainya.
Disiplin dan bertanggung jawab, dua kata di atas mudah diucapkan tetapi sulit diterapkan. Guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai figur dalam berdisiplin dan bertanggungjawab. Libatkan siswa dalam menciptakan atau membuat kesepakatan dalam menerapkan kedisiplinan dan tanggungjawab dalam belajar. Bak pepatah mengatakan ibarat memandikan kuda, kita dulu yang masuk ke air agar kudanya merasa nyaman saat di mandikan. Berikan contoh terlebih dahulu.

Mendidik dengan hati, Guru bukan hanya sekadar pekerjaan atau profesi. Guru juga dimaknai sebagai pengabdian dan ibadah. Cintai dan perlakukan siswa dengan tulus seperti anak kita sendiri. Dalam mengajar atau memberi hukuman lakukan dengan hati dan tujuan mendidik. Memberikan hukuman bukan karena kita membenci siswa namun sebaliknya karena kita sangat menyangi mereka, merka adalah tanggung jawab kita yang juga harus kita pertanggungjawabkan di hari akhir nanti. Jadi kalau kita memberikan fanishmen dengan hati maka yang akan mereka terima adalah rasa kasih sayang, bukan dendam.

Ramah dan selalu tersenyum, Guru memang harus menjunjung disiplin tetapi jangan abaikan sikap ramah kepada siswa. Guru bak seorang artis di hadapan siswanya, yang bisa di jadikan idola mereka.  Dengan ramah dan tersenyum memberikan kesan guru yang ‘terbuka’.

Membuka diri untuk membantu kesulitan siswa. Siswa akan merasa nyaman dan terlindungi oleh gurunya. Cara ini bisa membantu guru membimbing siswa dalam mengambil keputusan yang tepat.

Responsif, Guru yang responsif berarti berusaha untuk memahami dan mempelajari karakteristik siswa. Langkah ini dilakukan agar guru tahu model belajar yang dibutuhkan siswa sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Guru yang responsif dengan kondisi siswanya akan lebih mudah diterima.

Guru merupakan seorang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak jalur pendidikan formal. Profesi guru dihubungkan dengan kualitas manusia yang dibentuknya. Di era pandemic ini kepiawaian guru menjadi hal yang utama dalam menentukan kualitas pendidikan. Siap menjadi guru yang di rindu? Mari keluar dari zona nyaman.


Tag :#ManajemenKedisiplinanSiswa #Guru