HOME OPINI FEATURE

  • Kamis, 4 Maret 2021
Labuan Bajo, Bersiap Jadi Destinasi Wisata Dunia

Labuan Bajo, NTT (Minangsatu) - Satu tahun lebih dua bulan setelah Presiden Jokowi, menyatakan pariwisata Labuan Bajo akan disulap jadi destinasi wisata dunia, kini terlihat banyak terjadi perubahan. Tiang-tiang pancang dan kebutuhan infrastruktur berjejer di pelabuhan. Ini daerah yang dikenal sebagai lokasi Komodo, hewan warisan langka dunia, sebagian besar menggunakan nama Komodo. Bandara namanya Komodo, ada pulau Komodo dengan jajaran pulau dan laut nan indah, ada pulo kampung Komodo. Padahal kabupatennya bernama Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur NTT.

Memang ini daerah pilihan yang suatu saat nanti menjadi destinasi wisata dunia. Faktor utama keindahan alam yang luar biasa dan masyarakatnya penuh tawa dengan keramahan menerima tamu. Mereka siap melayani dengan senang hati. Dua alasan ini akan memudahkan menyelesaikan kendala lainnya yang dibutuhkan untuk memajukan pariwisata, seperti kebersihan lingkungan, kejujuran, penguasaan bahasa asing, bersedia menjawab keingintahuan pengunjung baik soal cerita dramatisasi keunikan objek wisata maupun sejarah dan latar belakang budayanya.

asaran rekreasi paling utama tentu saja pulau Komodo. Pulau yang menjadi tempat hewan langka dunia yang sudah ditetapkan Unesco, badan dalam PBB, sebagai situs warisan dunia, cukup menggoda untuk dilihat dikunjungi. Lokasi pulaunya cukup jauh. Membutuhkan waktu berlayar 3 jam dari Labuan Bajo. Tetapi perjalanan jauh itu tidak sia-sia memang. Pemandangan laut yang dilingkari pulau-pulau kecil membuat pengunjung merasa berada di bagian lain dunia nan indah dan penuh pesona.

Pulau Komodo tempat hewan langka ini hidup bebas sangat luas, 390 kilometer persegi. Wajarlah binatang buas ini bisa terus berkembang dan mungkin tak akan punah. Alamnya terlindungi di sebuah besar di tengah laut. Dan masyarakat pun menjadikannya sebagai makhluk yang mampu mendatangkan pendapatan. Dan pemerintah melihat potensi Komodo ini bisa mendongkrak pariwisata Labuan Bajo, bahkan Indonesia.

Ketika ingin melihat langsung Komodo, kita diingatkan agar waspada. Menurut pendamping sekaligus pelindung tamu, sudah banyak manusia yang diserang, ada yang tewas dan sebagian besar bisa diselamatkan. Karena itu patuhi petunjuk petugas, dan pemandu.  Berfoto bisa dalam jarak 4 meter dari hewan itu. Selalu perhatikan ketika dia mulai memikirkan lidahnya yang tajam, itu pertanda Komodo mau bergerak. Gaya jalannya yang pelan sewaktu-waktu bisa berubah cepat. Yang penting jangan sampai hewan ini terprovokasi oleh pengunjung, misalnya terganggu ketenangannya, ada mencium bau amis, maka dia bisa menyerang. 

Sungguh kehidupan yang terpelihara atas hewan langka yang dilindungi pemerintah Indonesia ini. Tinggal di pulau yang luas, bebas bertelur, mengembangbiakan keturunannya dan hewan yang akan dimangsa juga hidup di pulau yang sama, rusa dan babi.

Itu sekilas tentang negeri yang disiapkan pemerintah menerima tamu dan wisatawan dunia Labuan Bajo.
Dukunya hanya satu desa terpencil di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat di pulau Flores. Tapi disitulah uniknya, lokasi yang strategis di ujung barat pulau membuatnya mudah dijangkau dan menjadi busur menuju pulau-pulau lain terutama pulau Komodo.

Wajarlah kalau pemerintah menjadi daerah ini sebagai super prioritas untuk dikembangkan bersama 9 kawasan tujuan wisata lainnya di tanah air.

Kami dari rombongan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) dari 32 Provinsi (belum termasuk Papua dan Papua Barat) sekitar 200 orang atau lebih sedikit, tidak ada yang mengeluhkan perilaku warga di pulau Flores ini, tepatnya di Labuan Bajo. Selama Rakernas dan saat pergi rekreasi terasa nyaman, walaupun transportasi darat di pusat kota masih ukuran kecil, dan transportasi laut banyak menggunakan kapal-kapal kecil. Nilai keindahan yang membekas dalam, dan kelelahan petualangan, menikmati laut dengan snockling, akan menjadikan pengunjung puas sebelum kembali ke daerah masing-masing. 

Banyak daerah di Indonesia ini yang memiliki keindahan alam dan bisa dijadikan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), tapi hanya menjual alam saja tanoa ditopang faktor utama kesiapan penduduknya untuk melayani dan membaur dengan tamu pembawa dollar, ditambah fasilitas dan infrastruktur, mustahil bisa dijadikan destinasi  wisata jangka panjang. 
Mari kita tunggu saja Labuan Bajo ini dalam berapa lama mampu mensejajarkan daerah dengan Bali, Lombok, yang sudah mendunia lebih dahulu.


Tag :#Komodo#NTT