HOME OPINI -

  • 08-February-2019
  •  
  • 16:47:21
  •  

Ketika Ulama Jadi Ulama

Gamawan Fauzi

Syahdan, berpuluh  tahun lalu, ada sebuah desa sejuk di lereng gunung yang permai. Udaranya bersih, rimbunan pohon berjejar di sepanjang jalan dengan rapi dan tertata apik. Rakyatnya hidup dari hasil pertanian melimpah dikarenakan tanahnya yang subur dan air yang cukup.

Masyarakatnya yang agamis hidup rukun dan damai. Setiap minggu masyarakat begotongroyong membersihkan desa. Wajah wajah penduduk desa selalu tampak cerah dan ceria. Malam malam, terdengar kumandangan ayat ayat suci Al quran dari mesjid mejid dan rumah rumah penduduk.

Dalam suasana seperi itu, masyarakat menempatkan para ulama sebagai tokoh sentral, lama lama makin di puja, bukan saja sebagai penerang kehidupan bathiniah dan ukhrawi, tapi segala sesuatu digantungkan kepada ulama. Ulama akhirmya masuk memutus segala pesoalan hidup di desa. Lama kelamaan fungsi-fungsi pengetahun duniawiah menjadi tumpul dan semakin diabaikan.

Kecintaan yang membabi buta akhirnya menggeser fungsi ulama menjadi umara', seorang tokoh ulama berpengaruh terpilih menjadi Kepala Desa menyingkirkan tokoh berpengetahuan lainnya.

Apa yang terjadi kemudian adalah kemunduran desa. Semua peran ada di tangan sang ulama yang juga Kepala Desa. Dia keteteran oleh waktu dan ilmu. Semua ada di tangannya. Dia menjadi one man show, menjadi figur sentral untuk segala urusan, yang lain menunggu petunjuk. Masyarakat tidak hanya menunggu siraman rohani tapi juga hal hal hal yang bersifat duniawi. Padahal tak ada manusia yang menguasai semua masalah, no body is perfect.

Singkat kata, desa yang dulu makmur, aman sentosa,  merosot kemajuannya di segala bidang. Dan pada akhirnya masyarakat kembali mempersoalkan kehebatan ulama tersebut .

Siklus hidup berpemerintahan seperti itu bisa terjadi dimana-mana. Bukan hanya seperti di desa antah berantah tadi. Tapi juga dalam dunia nyata, desa dan negara secara nyata, bahkan pada tingkatan yang lebih tinggi.

Kecenderungan manusia memberi penghormatan berlebihan terhadap sesuatu, kadang membuat tidak rasional, membabi buta dan tak proporsional. Padahal agama mengajarkan kepada ummat agar tidak berlebih lebihan dalam segala hal.

Dilihat dari sudut pandangan dan landasan keilmuan apapun, bahkan juga agama, manusia diajarkan untuk bersikap menempatkan sesuatu pada tempatnya dan menempatkan sesuatu sesuai tugasnya. The right man, on the right place, atau the right man on the right job.

Islam sebagai agama yang benar, juga mengajarkan begitu. Betapa Rasulullah mengingatkan kita; Duniamu, kamu lah yang tau, dan bila suatu pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancuran. 

Maka, yang ideal adalah, ulama jadilah ulama, yang mengarahkan dan yang menuntun kepada yang haq untuk hidup di dunia dan akhirat, memberi masukan kepada umara' agar umara' memutus dengan bijak dan benar sesuai tuntunan agama dan keilmuan, bukan  tuntunan pikiran semata.

Umara' jadilah umara' yang benar, yang mengayomi semuanya dan adil dalam memutus, karena adil adalah suatu yang prinsip bagi seorang pemimpin.

Dan rakyat, jadilah rakayat yang berdoa buat kebaikan semuanya, yang taat kepada Rabbnya, kepada Rasul, kepada ulama dan pemimpin formal, bukan hanya menyalahkan, mencari cari kesalahan. Mungkin ini yang disebut Baldhatun Tayibatun Warabun ghafuur.

Saya merinding, ketika Ustad Abdul Samad menolak dicalonkan sebagai Wakil Presiden.  Beliau bukan hanya berda'wah dengan lisan tapi juga dengan perbuatan/bilhal.

Saya juga terperangah, kebetulan saat itu saya sedang bersama Ketua MUI Sumbar, ust. Gusrizal Gazahar. Beliau meminta agar diberhentikan saja sebagai PNS bila harus merubah pendiriannya. Nasib saya Allah yang menjamin, bukan  jadi PNS saja kata beliau menjawab telfon dari seorang pejabat di Jakarta.

Dua ulama muda ini memberikan pelajaran penting kepada saya tentang "bersikap", bukan tentang "bicara".

Kisah singkat ini semoga bermanfaat bagi yang menghendakinya. Aamiiin.
Semoga Nagari di Sumbar makin maju.
Wassalam.


Jkt. 7 februari 19
Dr. Gamawan fauzi


Tag :kolomGF  


Nama
Email
Komentar