HOME OPINI FEATURE

  • Selasa, 2 Maret 2021
Keunikan Tradisi Pantang Tanah di Pasaman
Tradisi Pantang Tanah

Keunikan Tradisi Pantang Tanah di Pasaman


Oleh Muhammad Arjun
(Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Universitas Andalas)

 

Jan pijak tanah tu, ndak buliah do, beko sakik. Itulah salah satu pantangan tradisi pantang tanah di Nagari Koto Rajo, Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman. Kalimat tersebut senantiasa dipatuhi oleh masyarakat. Itulah salah satu alasan kenapa sampai sekarang tradisi pantang tanah masih eksis dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, kesadaran masyarakat yang tinggi akan pentingnya suatu tradisi menjadi alasan lain mengapa tradisi ini masih ada ditengah masyakarat. Masyarakat sadar bahwa tradisi ini adalah suatu kearifan lokal yang harus dipatuhi dan diajarkan kepada generasi selanjutnya.


Nagari Koto Rajo adalah sebuah daerah yang terletak di Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman. Nagari yang ditempati oleh masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani ini memiliki berbagai tradisi yang unik, salah satunya adalah tradisi pantang tanah yang telah lama dilaksanakan dan diajarkan secara turun temurun agar eksistensi tradisi ini tetap baik dan tidak tersingkir oleh berbagai kebudayaan yang mulai menjarah kehidupan masyarakat.


Tradisi Pantang Tanah merupakan salah satu tradisi yang ada di Nagari Koto Rajo, Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman. Tradisi Pantang Tanah merupakan suatu warisan dari nenek moyang yang sudah berusia sangat tua, kira-kira ratusan tahun yang lewat bahkan lebih. Tradisi ini telah ada sebelum zaman kolonial Belanda. Tradisi ini berasal dari Pagaruyung. Meskipun banyak dijumpai tradisi yang hamper mirip dengan tradisi Pantang Tanah, tetap saja tradisi Pantang 7 di Nagari Koto Rajo ini memiliki keunikan tersendiri karena pelaksanannnya berbeda dengan pelaksanaan tradisi di daerah lain. Upacara tradisi sakral ini dihadiri oleh semua masyarakat, baik itu golongan muda ataupun golongan tua. Tradisi Pantang Tanah ini dilaksanakan setelah bayi keturunan Ghajo (Raja) lahir hingga sang anak berusia hingga satu tahun.

Tradisi pantang tanah ini dimulai sejak seorang anak lahir. Ketika bayi keturunan raja lahir, bayi tersebut dimandikan dan kemudian dibedung dengan menggunakan kain yang berwarna kuning. Bagi masyarakat Koto Rajo, warna kuning merupakan warna kebesaran raja sehingga pada acara adat banyak digunakan benda-benda yang berwarna kuning. Setelah itu dilakukan tradisi Monanom Ghumah Paja (Menanam Rumah Anak). Menanam Rumah Anak adalah mengubur darah menggumpal yang keluar ke dalam tanah ketika seseorang melahirkan dan setelah dikubur, tanah yang sudah ditimbun dihiasi dengan bahan yang sudah menjadi ketentuan tradisi.

Anak yang baru lahir tidak boleh dibawa keluar rumah. Butuh beberapa bulan barulah si anak boleh dibawa keluar rumah. Anak tersebut boleh dibawa keluar rumah setelah berumur dua bulan. Dan jika ingin membawanya keluar dsri rumah haris melaksanakan tradisi menurunkan anak, yaitu membawa anak keluar rumah ketika pagi jam setengah enam dan memandikannya. Tradisi menurunkan anak ini menjadi syarat mutlak jika ingin membawa anak keluar dari rumah. Jika belum melaksanakan tradisi ini, maka anak tidak boleh dibawa keluar dari rumah.

Tradisi pantang tanah masih berlanjut hingga anak sudah berusia kurang lebih satu tahun. Ketika umur anak sudah satu tahun, maka akan diadakan tradisi turun tanah. Tradisi turun tanah adalah tradisi memapah anak yang sudah berumur satu tahun diatas tanah yang dilakukan oleh Datu(orang yang memapah anak serta yang menjadi pelaksana ketika acara turun tanah). Meskipun anak tersebut telah bisa berjalan, namun tradisi turun tanah ini harus tetap dilakukan. Pada acara ini sang anak memakai pakaian kuning, baju dan celananya harus kuning, sedangkan Datu boleh memakai pakaian yang tidak berwarna kuning asalkan sopan. Setelah acara turun tanah masyarakat akan melaksanakan acara badikia serta barzanji yang bertujuan untuk menceritakan kisah hidup Nabi Muhammad SAW mulai dari lahir hingga beliau wafat. Barzanji juga berisi puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW baik itu sifat ataupun akhlak beliau yang tentunya menjadi sebuah teladan bagi masyarakat dan bernilai ibadah bagi masyarakat Nagari Koto Rajo. Setelah itu akan dilaksanakan acara balimau. Sang anak dibawa ke masjid untuk balimau. Di perjalanan, sang anak akan dipayungi oleh payung berwarna kuning yang merupakan warna kebesaran keturunan raja di Nagari Koto Rajo.

Masyarakat Nagari Koto Rajo menjaga eksistensi tradisi ini karena terdapat beberapa mitos pada tradisi ini. Masyarakat percaya bahwa apabila anak menginjak tanah sebelum dilaksanakan acara turun tanah, maka anak tersebut akan demam, sakit perut dan mengalami sakit lainnya. Kemudian apabila acara turun tanah tidak dilaksanakan, maka anak akan lumpuh, bisu, ataupun diserang penyakit lainnya. Mitos ini tetap ada hingga sekarang. Alasan mitos ini tetapa dipercaya adalah terdapat beberapa bukti yang mendukung benarnya mitos tersebut sehingga membuat masyarakat percaya dan selalu melaksanakan tradisi pantang tanah ini. Tradisi ini juga mengajarkan masyarakat untuk hidup dalam kerjasama. 

Tradisi pantang ini dari awal hingga akhir acara dilakukan secara bersama. Masyarakat saling bekerjasama, saling membantu demi lancarnya tradisi pantang tanah ini. Kerjasama inilah yang membentuk interaksi sosial maupun komunikasi sosial sehingga hubungan antar warga masyarakat semakin baik dan harmonis. Tradisi pantang tanah ini merupakan sebuah tradisi yang sangat unik, penting dan bernilai tinggi sehingga masyarakat Nagari Koto Rajo harus melestarikan tradisi ini. Pada pelaksanaan tradisi ini masyarakat bersatu dan saling bekerjasama untuk mengadakan tradisi ini. Semoga tradisi ini tetap terlaksana dengan baik dan lancar serta menjadikan tradisi ini tetap ada sampai kapanpun dan tidak akan punah ditelan zaman yang kian modern.


Tag :#Minangkabau #TradisiPantangTanah #Pasaman